
Mencari Daddy Bag. 85
Oleh Sept
Rate 18 +
"Lalu aku harus ngapain?" tanya Elena yang bingung mau apa saat Alung mau rapat.
"Duduk manis di sini, aku cuma bentar. Nggak sampai satu jam. Kamu boleh lihat-lihat kalau bosan."
"Lihat apa?" Elena memincingkan mata.
"Apa aja, main game atau apa saja. Tuh ... pakai aja laptop. Udah ya! Jangan ke mana-mana!" pesan pria itu kemudian menutup pintu.
***
Katanya cuma satu jam, nyatanya Alung meninggalkan ruangan sudah satu jam lebih. Bosan, Elena pun main game on-line di laptop suaminya. Jenuh juga kalau lama-lama main game. Iseng, Elena melihat-lihat folder galery pada laptop tersebut.
Isinya hanya Altar dan Altar, dari anak kecil itu bayi hingga besar. "Sepertinya dia sayang sayang dengan putranya itu?" gumam Elena.
Karena kembali dilanda rasa bosan yang membuncah, akhirnya ia memilih keluar. Padahal Alung sebelumnya sudah sangat melarang.
Sudah dapat dipastikan, ketika Elena berjalan. Beberapa orang yang berpapasan langsung menatapnya dengan aneh. Sebagian belum tahu kalau Elena sekretaris baru atasan mereka. Malah sebagian lagi mengira Elena adalah karyawan baru.
[Paling diterima kerja bukan karena skill, paling juga cuma good looking]
Setidaknya banyak mata yang memandangnya dengan tatapan menyudutkan wanita muda tersebut.
"Baru kerja di sini, Mbak?" tanya seorang karyawan ganteng yang kelihatan tertarik dengan Elena.
Elena hanya tersenyum kemudian melajukan jalannya.
"Boleh minta nomor WA-nya?"
Elena melihat kesekeliling, kemudian pura-pura sibuk.
"Maaf, Mas. Saya masih ada pekerjaan."
"Gampang, nanti aku bantuin. Makan siang bareng mau, nggak?"
"Astagaaa! Ada apa dengan orang ini? Kok menghalangi jalanku terus?" batin Elena yang terus saja dihadang saat mau melangkah.
Ehem ... ehem
Karyawan yang ganteng tadi langsung berbalik. Dilihatnya Pak Rafi sudah berdiri di belakangnya.
"Siang, Pak Rafi."
Pak Rafi hanya melirik kemudian menatap Elena. Elena pun langsung mengikuti Pak Rafi saat pria itu berjalan mendahuluinya.
"Oh ... gebetan Pak Rafi!" batin karyawan ganteng tersebut. Kalau udah ditarget Pak Rafi, ia pun mundur alon-alon. Andai pria itu tahu, siapa yang ia goda barusan. Bisa-bisa dipecat tanpa pesangon, atau malah gaji tidak dibayar lantaran mengusik istri bos.
***
"Bukannya Tuan Alung sudah meminta tetap tinggal di dalam ruangan?"
Alena hanya menunduk.
"Nah, itu dia. Lihat! Jika dia marah, dia akan memakanmu hidup-hidup!" Pak Rafi malah menakuti Elena.
Elena kontan mendongak, ia menatap Pak Rafi. Dan ganti melihat ke depan. Benar, Alung terlihat sedikit keras saat menatapnya.
"Hanya keluar sebentar, apa itu bisa membuatnya marah, Pak Rafi?" bisik Elena sambil terus melangkah menuju di mana Alung sudah berdiri menanti dirinya.
Elena langsung bergidik ngeri.
***
KLEK
Suara pintu ditutup.
"Habis dari mana?"
"Em ... cuma lihat-lihat, bosan hanya di ruangan." Masih sambil menunduk.
"Duduklah!"
"Apa ini?"
"Kerjaan buat kamu."
Elena manggut-manggut, kemudian matanya terbelalak.
"Ini?"
"Hem ... kerjain."
Elena tersenyum tipis, kemudian mengambil tasnya. Bukannya jadi sekretaris, ini mah sama saja sekolah dipindah di kantor.
Rupanya Alung tadi lama sekali karena sekalian mengurus semua keperluan Elena, keperluan mengenai kelangsungan pendidikan istri kecilnya itu. Mana mungkin ia membiarkan calon ibu dari anak-anaknya kelak hanya mengenyam pendidikan yang minim. Seribu cara bisa ia lakukan untuk membuat Elena mendapat pendidikan sampai tuntas.
Beberapa saat kemudian
"Belum selesai?" Pria itu melirik banyak lembaran soal di atas meja.
Alung jadi menyesal memberikan segebok soal-soal untuk Elena kerjakan. Kalau begini kan waktu untuknya berkurang.
"Bentar lagi, ya."
Settt
"Dikit lagi!" pekik Elena saat Alung membereskan semua kertas-kertas di depannya dengan paksa.
"Bisa diurus nanti, sekarang urus yang lainnya ya."
Setttt
Dasar Alung, bucin parah. Masa di kantor sudah mau iha-iha.
"Nanti ada yang lihat!" Elena menepis kepala Alung yang terus saja merangsek.
"Udah aku kunci," bisik Alung dengan degup jantung yang sudah memburu. Dekat-dekat Elena rupanya sangat berbahaya.
"Tapi ...!"
Cup
Terlalu bucin, Alung tidak mau menunggu sampai mereka pulang.
Tok tok tok
"Siallllll!" Bersambung.