Single Mother

Single Mother
Telur Burung Unta



Mencari Daddy  Bag. 61


Oleh Sept


Rate 18 +


Sudut mata yang lentik itu nampak melirik, memindai dari atas sampai kaki pria yang berdiri tepat di depannya. Elena tahu betul siapa pria itu. Pria tersebut adalah orang yang menolong dirinya berkali-kali. Namun, mau menyapa tapi canggung. Akhirnya keduanya sama-sama terdiam. Apalagi Alung kurang begitu memperhatikan siapa yang bersamanya dalam lift.


Suasana cukup tenang, hingga Elena keluar lift terlebih dahulu. Ia keluar dengan ragu, berharap pria itu kembali menolong dirinya kali ini. Tapi, harapan tinggal harapan. Karena begitu ia keluar, pintu lift langsung kembali tertutup.


Gadis itu pun mau tidak mau menuju kamar yang sudah di booking oleh Tante Nana untuknya dan untuk pelangan yang sudah memesan Elena. Meski sangat takut dan ingin lari jauh, bayangan bayi kecil yang ditinggalkan oleh sang ibu, membuat kaki Elena kuat terus melangkah.


Tok tok tok


Cukup lama ia terdiam di depan pintu, sampai kemudian seseorang membuka pintu dari dalam. Pria tua yang pantas jadi bapaknya Elena.


"Elena?"


Gadis itu kemudian mengangguk, tubuhnya menolak untuk masuk. Tapi, lengannya langsung ditarik begitu saja oleh pria yang sudah memesan dirinya tersebut.


"Mandilah dulu! Saya tidak suka bau parfummu!" ujar pria itu.


Elena melihat kesekeliling, sepertinya pria ini bukan pria biasa. Mungkin pejabat atau orang penting, terlihat dari jas dan kemejanya yang digantung rapi di salah satu sisi ruangan.


"Cepatlah! Saya tidak punya banyak waktu!" seru pria itu sambil mendorong tubuh Elena masuk ke kamar mandi.


Semakin gelisah, Elena menyalakan kran air. Tapi tidak langsung mandi, ia malah sengaja mengulur waktu. Karena jujur, ia merasa jijik bila harus dekat-dekat dengan pria itu. Apalagi ia kan masih gadis. Masih lugu dan polos. Elena mau pekerjaan ini karena terpaksa. Mau minta tolong pada siapa? Adiknya yang masih bayi butuh dibawa ke rumah sakit. Bingung, akhirnya ia terjebak dalam lembah nista.


Tok tok tok


"Buka pintunya, apa kamu tidak dengar tadi? Saya tidak punya banyak waktu untuk main-main."


"Aduh!" pekik Elena dalam hati. Gadis itu mondar-mandir ke sana ke mari. Harus bagaimana? Ia takut bila harus membuka baju di depan pria asing tersebut. Malu dan juga ngeri.


"Jangan macan-macam, saya sudah membayar mahal. Cepat buka pintunya."


Wajah Elena sudah pucat, dahinya juga sudah berkeringat dingin. Setelah menelan ludah, tangannya kemudian memegang knop pintu kamar mandi.


KLEK


"Hei? Kau mau main-main rupanya? Aku suruh mandi tidak kau lakukan! Baikan, lakukan sekarang!" Pria itu melirik jam yang menempel pada dinding kamar hotel yang terasa dingin tersebut.


Setttttt


Brukkkk


Ia menarik lengan Elena kemudian melemparnya dengan kasar ke tengah ranjang. Mata Elena membulat sempurna, gadis itu sudah di ujung tanduk.


"Katanya kau masih perawan! Biarkan aku periksa! Awas kalau kalian membodohiku! Kalian akan membayar akibatnya."


Pria itu langsung menduduki Elena. Membuat gadis itu tidak bisa mengerakkan tubuhnya sama sekali. Tua bangka itu sudah mengunci rapat tubuh sang gadis.


Cup


"Berani melawan rupanya?"


Ia menyeringai bagai srigala lapar, membuat Elena semakin ketakutan.


Krekkkk


Mata Elena terbelalak tak kala pria itu merobek bajunya. Sudah tipis, aduhai, menerawang, kini malah dirobek. Elena benar-benar harus merasakan malu yang sangat besar.


"Putih juga!"


DUKKKK


Elena reflek menendang wajah pria itu saat mencoba ingin melihat ke pusat intinya. Dan gerakan itu berhasil membuat hidung pria itu sepertinya patah.


"Sialannn!" pekik pria itu dengan sangat marah.


"Jangan! Jangan!"


Elena meronta, tangannya mencoba meraih sesuatu. Akhirnya ia mendapat sebuah gelas yang masih tersisi minuman. Dengan susah payah, saat pria itu terus merangsek tubuhnya, Elena menyambar gelas itu.


"Ish!!!"


Tahu si gadis akan memukulnya, dengan kuat pria itu merampas gelas dari tangan Elena. Kemudian melemparnya, membuat suara yang cukup nyaring.


PLAKKK


"Berani kau!!!"


Pria itu kembali marah, ia menatap tajam pada Elena. Kemudian bangkit, untuk menggambil sesuatu. Ia ingin memberikan pelajaran untuk gadis nakal itu.


Begitu pria tersebut berbalik, tangannya membawa sebuah ikat pinggang. Semakin paniklah Elena, apalagi saat sabuk itu dipakai untuk mengikat tangannya. Meskipun mencoba meronta dan melawan, Elena tetap tidak bisa menandingi kekuatan seorang pria.


Ia menggeleng keras, seolah meminta untuk dilepaskan. Elena semakin panik, saat tangan pria itu melepaskan CD-nya. Apalagi kilau mata yang menjijikan itu berbinar tak kala melihat milik Elena.


"Jangan!" teriak Elena dalam hati. Karena semakin terdesak, Elena langsung mencoba menendang kembali. Dan kali ini tepat mengenai telor burung unta.


Pria itu pun memekik kesakitan. Kesempatan bagi Elena, dengan baju yang sudah robek ia mencoba berlari keluar. Tanpa melihat ke belakang, ia terus berlari. Tidak sabar menunggu pintu lift terbuka. Elena memilih turun lewat tangga darurat.


Setelah melewati ratusan tangga, tanpa tau arah ia terus saja berlari. Elena terus berlari dengan ketakutan. Beberapa orang menatapnya dengan aneh. Ia baru berhenti saat kakinya terasa lelah. Sambil mengatur napas ia bersandar pada sebuah mobil. Tapi mobil itu malah mengeluarkan bunyi nyaring. Panik, Elena terus berjalan dengan cepat.


Hingga sebuah lampu menyorot ke arahnya, membuat ia silau. Barulah Elena berhenti.


"Mau mati kau?" teriak pengemudi.


Seperti orang kebingungan, Elena tidak bisa berpikir. Apalagi lampu mobil terus menyorot ke wajahnya. Kakinya gemetar seolah tidak bisa melangkah lagi.


Setttt


Sebuah tangan merengkuh pinggang Elena. Bersambung.