
Mencari Daddy Bag. 71
Oleh Sept
Rate 18 +
Kediaman Mama Ami.
"Mama seneng kamu mau menikah, tapi jangan ngaco begini. Apa-apaan ini, Lung? Apa dia hamil? Kenapa mendadak harus malam ini? Dan lagi secara hukum pernikahan yang berlaku ... ini nanti gak bakal bisa tercatat. Kamu paham kan berapa usia Elena? Aduh! Dia bahkan belum lulus sekolah," ujar mama Ami.
Bukan karena ia tidak menyukai pilihan Alung tersebut. Hanya saja mengapa buru-buru sekali. Setidaknya tunggulah sampai Elena lulus sekolahnya terlebih dahulu. Ini kok Alung terlihat ngebet banget. Pingin cepet-cepet kawin. Apa putranya itu sudah tidak tahan atau bagaimana?
Uhuk uhukkkk
"Minum dulu, Pa!" Mama Ami mengulurkan gelas pada suaminya. Sejak tadi papa Alung tersebut tertegun dengan keputusan putranya itu. Datang-datang ke rumah kok langsung ijin mau menikah. Apalagi menikahi gadis di bawah umur. Apa putranya itu punya kelainan?
Glek glek glek
Setelah gelas di tangannya kosong, papa kemudian memasang wajah serius.
"Kamu hamilin anak orang lagi?" tanya papa penuh selidik.
Alung mengusap wajahnya, kemudian menatap papanya dalam-dalam. Pria itu lalu menggeleng dengan wajah tegas.
"Nggak, Pa. Alung bahkan belum menyentuh gadis itu."
"Lalu mengapa buru-buru? Masih ada tahun depan. Setidaknya dengarkan kata mamamu. Tunggu sampai dia lulus dulu."
Alung diam sejenak.
"Ya sudah, kalau Mama dan Papa keberatan. Mungkin Alung juga tidak akan menikah."
"Alung!" pekik mama Ami.
Sedangkan sang papa, pria yang sudah dipenuhi uban di seluruh rambutnya itu menghela napas dalam-dalam. Papa lalu meraih ponselnya yang tergeletak di atas meja.
"Oke! Papa nikahkan kalian."
Mungkin papa takut keburu tidak ada di dunia ini jika melarang putranya menikah sekarang. Selama ini putranya tidak pernah membawa seorang wanita untuk dikenakan pada keluarga.
Setelah memutuskan setuju, papa Alung kemudian menghubungi seseorang.
"Pa! Papa yakin? Gadis itu masih kecil?" Mama Ami kekeh menunggu Elena lulus sekolah dulu.
"Sudahlah, Ma. Dari pada tidak menyaksikan Alung menikah selamanya, nikahkan saja. Tahu sendiri, putramu seperti apa kalau sudah punya kemauan. Jangan sampai Mama menyesal, Alung membujang selamanya."
"Paaa!"
"Makasi, Pa." Alung terlihat lega setelah papanya setuju. Tinggal sang mama.
Papa kemudian menepuk pundak putranya. Sedangkan mama Ami masih mau protes.
"Nggak bisa, Pa. Elena belum 17 tahun."
"Sudahlah, Ma. Biar ada yang mengurus Alung. Sudah saatnya dia berkeluarga."
"Tapi bukan dengan anak kecil, Pa!!"
"Bukan anak kecil, Ma. Gadis seperti itu bahkan sudah bisa membuat anak kecil." Papa menyanggah terus pendapat istrinya.
Mama langsung masam, sedangkan Alung, pria itu menelan ludah dengan kasar setelah mendengar pernyataan sang papa.
"Mama setuju, kan?" tanya Alung kemudian pada sang mama.
"Mau bagaimana lagi? Papa sudah mengambil keputusan. Dan kamu juga sudah sulit dicegah. Nunggu setahun juga tidak mau," ucap mama Ami sedikit kesal.
"Jadi Mama setuju?"
Mama Ami mengangguk sambil memalingkan muka. Maka, Alung pun mendekat dan langsung memeluk mamanya.
"Makasi, Ma."
"Hemm ...!"
Meski sedikit menentang, tapi akhirnya mama Ami setuju juga. Ia mengusap punggung Alung, sembari berdoa dalam hati. Bila ini adalah jodoh Alung, semoga Tuhan melancarkan segalanya.
***
Pukul delapan malam
"Duduk sini!" Mama Ami menarik lembut lengan Elena. Sedangkan Elena, jantungnya hampir copot saat duduk di sebelah Alung malam ini.
Suasana di sana cukup membuat Elena tegang. Seperti bahan candaan, bagaimana bisa ia mendadak akan dinikahi seorang pria matang seperti Alung. Memang tampan, kaya dan baik. Hanya saja, ia merasa ini sangat aneh.
"Elena, kamu yakin mau menikah dengan Alung, putra Tante?" tanya mama Ami.
Elena yang hanya memakai baju seadanya, cukup rapi tapi tidak wah, menatap Alung sesaat. Pria itu kemudian mengangguk pandanya.
"Tante tidak mau kamu terpaksa, bila tidak mau ... kamu bisa mundur sebelum terlambat."
Alung memejamkan matanya, jangan sampai Elena bilang tidak. Berapa menit kemudian.
"Elena bersedia." Gadis itu mengangkat wajahnya perlahan.
Alung mengusap wajahnya dengan perasaan lega. Sepertinya Elena tidak goyah meskipun tawaran bisa mundur saat itu juga diberikan padanya.
"Baikan, mari kita lakukan, Pak." Mama Ami menatap pria berkopyah di depan mereka.
Rupanya, Alung baru menikahi Elena secara agama. Ini lantaran usia Elena yang masih belum bisa didaftarkan ke KUA. Ada pun bila ingin mendaftarkan pernikahan secara resmi, butuh waktu dan sidang terlebih dahulu. Dan itu membutuhhkan waktu yang tidak sebentar.
Alung maunya segera, entah apa sebabnya. Padahal mereka belum lama bertemu. Mungkin hatinya sudah merasa yakin, atau apalah itu. Yang jelas, Alung hanya ingin menjadikan Elena bagian dalam hidupnya. Menjadi wali gadis itu. Gadis yang tidak memiliki siapa-siapa lagi. Hanya bayi kecil yang kini sedang sakit di rumah sakit.
***
"SAYA TERIMA NIKAHNYA DAN KAWINNYA ELENA PATRICIA BINTI ALMARHUM JONATHAN DENGAN MASKAWINNYA YANG TERSEBUT DIBAYAR TUNAI."
SAH ...
SAH ...
SAH ...
Pernikahan yang sangat sederhana dan dadakan itu akhirnya sah di mata agama. Wajah Elena terlihat tegang, sedangkan Alung nampak berbeda. Ia sepertinya terlihat lega. Kemudian mendekati Elena dan berbisik.
"Elena ... bukan karena aku tidak mau menikahimu secara resmi. Aku pastikan, akan segera mengurus semuanya."
Hembusan napas yang terlalu dekat itu membuat Elena merinding.
"Selamat untuk pernikahan kalian." Mama Ami bergantian memeluk keduanya.
Sementara itu, papa juga memeluk putranya. Ia masih tidak pernah menyangka, akan menikahkan putranya dengan sangat sederhana. Padahal, koleganya sangat banyak. Tapi mau bagaimana lagi, ini pilihan Alung. Sebagai orang tua, mereka hanya bisa mendukung keputusan sang anak.
Pukul 10
"Ma, Alung ke rumah sakit dulu."
"Tidak tidur di rumah? Kalian bahkan baru menikah dua jam lalu."
"Nggak, Ma. Elena mau menemani Gavi."
"Ya sudah. Elenaaa ... Mama titip Alung."
Gadis itu langsung canggung. Mengapa titip Alung pada dirinya?
"Elena pergi dulu, Tante." Gadis itu pun pamit.
"Jangan panggil Tante. Sekarang kamu bagian dari keluarga ini. Panggil Mama."
Elena mengangguk pelan.
***
Di dalam mobil, suasana nampak kaku dan canggung. Baik Elena dan Alung sama-sama memilih mengunci rapat mulut mereka. Hingga sampai di rumah sakit. Alung kemudian berbicara pada dokter yang menangani Gavi.
"Bagaimana perkembangan Gavi, Dok?"
"Masih seperti kemarin, Pak. Semoga besok ada kemajuan."
"Semoga," gumam Alung lirih lalu kembali ke ruang perawatan. Dilihatnya Elena sudah tidur dengan kepala di bibir ranjang. Gadis itu tidur sambil duduk dan meletakkan kepalanya di tepi ranjang.
"Elena," Alung membangunkan gadis itu. Tapi, mungkin karena lelah sekali, Elena tidak kunjung bangun. Membuat Alung berusaha memindahkan tubuh gadis tersebut.
Dengan pelan-pelan, Alung membopong Elena menuju sofa panjang di ruangan itu. Dan saat merebahkan tubuh Elena, tidak sengaja baju Elena sedikit tersingkap. Memperlihatkan perut putihnya yang terlihat bersih dan mulus.
Apa jiwa buas Alung yang dulu hidup kembali? Bersambung.