
Mencari Daddy Bag. 31
Oleh Sept
Rate 18 +
Bila bu Lastri terlihat tertegun saat menatap sosok pria yang mengaku calon suami Kanina, lain halnya dengan mbak Roh. Wanita yang usinya tidak beda jauh dengan Gara tersebut spontan mengambil sapu ijuk yang tidak jauh dari sana.
Kanina pikir mbak Roh mau nyapu. Tapi, lihatnya tidak ada kotoran yang mau disapu. Saat menyadari bahwa mbak Roh mengangkat sapu ijuk itu tinggi-tinggi dan sepertinya akan dipukulkan ke arah Gara, reflek Kanina menjadikan badannya sebagai perisai.
Byukkkkkkk
Mbak Roh membuang langsung sapu yang malah mengenai punggung Kanina. Dia salah target, dengan menyesal ia mendekati Kanina.
"Ninaaa!!!" pekik mbak Roh.
"Garaaa!" Bu Sadewo yang sejak tadi terdiam, pun ikut mendekati keduanya. Sedangkan Gara, sudut bibirnya malah terangkat. Sebuah senyum mengembang dari bibir pria tersebut.
Bagaimana tidak senang, lah Kanina yang tidak pernah ia sentuh, Kanina yang hanya bisa ia lihat, kok sekarang malah memeluk tubuhnya. Bukan memeluk sih, Kanina berusaha menghalangi agar mbak Roh tidak memukul pria tersebut dengan sapu.
"Roh!" pekik bu Lastri juga.
"Maaf, Nin ...!" Mbak Roh pun mengusap punggung Kanina berkali-kali.
"Nggak apa-apa, mbak. Nggak apa-apa. Aku rapopo." (Aku tidak apa-apa)
Yakin kalau keluarga Kanina sudah salah paham, bu Sadewo langsung maju ke depan.
"Bukan Gara ayah dari anak ini, sepertinya kalian salah paham. Anak saya, si Anggara ini ... suka sama anak ibuk. Dan dia bukan yang membuat Kanina hamil sampai terusir dari kampung."
Mbak Roh dan bu Lastri saling menatap, kemudian dua orang itu menatap Kanina yang sudah melepaskan tubuhnya dari Gara. Sebenarnya agak malu, tapi bagaimana lagi. Masa ia membiarkan Gara dipukul sapu?
Kanina lantas mengangguk pelan pada ibu dan mbak Roh. Barulah mereka berdua akhirnya percaya. Dan ibu Lastri yang semula memiliki tatapan tidak suka, kini berubah ramah.
"Mari ... mari silahkan masuk."
"Maaf, saya ternyata salah kira," ucap mbak Roh dengan wajah menyesal.
Gara hanya mengangguk sopan.
"Ini anakmu, Nin?" mbak Roh kemudian beranjak dan melangkah mendekat ke arah bu Sadewo.
"Gemuk sekali ... alhamdulillah, kalian sehat." Tidak bisa menahan emosinya. Mbak Roh mengusap pipi dengan lengan bajunya. Buru-buru Kanina mengambil tisu dalam tas yang ia bawa.
Mengulurkan benda itu untuk membasuh wajah mbak Roh yang sudah basah karena berlinang air mata. Begitu juga dengan bu Lastri, ia memang tidak menangis sesengukan layaknya mbak Roh yang memang orangnya emosional.
Bu Lastri menangis dalam diam, tiba-tiba saja pipinya basah. Kemudian ia usap, dan basah lagi. Begitulah seterusnya, melihat Kanina datang kembali dalam hidupnya, rasa sedih pun semua bercampur jadi satu.
"Ini, Nin. Mbak Roh masukin semua dalam satu map. Barangkali suatu saat kamu datang, pikir mbak Roh selama ini. Ternyata benar, ya Allah ... seperti mimpi."
Mbak Roh memberikan sebuah map pada Kanina, setelah itu mengengam tangan Kanina erat. Rasanya masih tidak percaya. Sedangkan bu Sadewo, ia sedang duduk bersama bu Lastri dan Gara.
"Ini anak pertama saya, Bu. Namanya Anggara, bagaimana? Ibu setuju, kan? Bila keduanya menikah?" tanya bu Lastri dengan senyum tulus. Senyum yang seolah meminta bu Lastri bilang iya.
"Semua terserah Kanina, Bu. Tapi ... apa pantas anak saya menikah dengan putra Ibu?" Jelas sekali kesedihan di mata bu Lastri.
"Pantas tidaknya itu kita sebagai manusia kan tidak bisa menilai, Bu? Jodoh itu sudah ada yang mengatur. Mungkin jodoh anak saya ya anak ibuk. Bagaimana?"
Bu Lastri terdiam sesaat. Kemudian ganti Gara yang angkat bicara.
"Saya akan menjaga Kanina dan bayinya, Bu. Akan saya rawat anak itu. Dan saya menyukai anak Ibu, semoga ibu berkenan memberi restunya untuk kami."
Baru kali ini bu Sadewo dan Kanina mendengar secara langsung, bahwa Gara menyukai Kanina. Baik Kanina dan bu Sadewo sama-sama terkejut. Namun beda rekaksi. Kalau bu Sadewo tersenyum tipis, sedangkan Kanina, ia tidak bisa menyembunyikan rasa malu. Kanina menundukkan wajahnya yang mulai bersemu.
"Bagaimana, Bu? Putra saya diterima, kan?" Kini wajah bu Sadewo kembali terlihat serius.
Bu Lastri lantas melirik Kanina, dilihatnya sang putri yang lama hilang itu menundukkan wajahnya. Namun, ia tahu arti sikap Kanina tersebut.
"Doa ibu bersama kalian ... Ibu titip Kanina. Tolong Nak Gara jaga anak Ibu. Dan terima kasih ... terima kasih karena mau menerima Kanina apa adanya... Terima kasih banyak ... ibu tidak bisa membalas kebaikan kalian."
Suara bu Lastri semakin lama semakin menghilang, yang terdengar tinggal isak tangis yang menggema di ruangan yang sederhana tersebut. Kanina pun menghampiri sang ibu. Ia memeluk ibunya dengan erat. Mereka hanya bisa menangis bersama.
***
"Kami permisi, Bu. Sampai ketemu di hari pernikahan mereka." Bu Sadewo pamit, kemudian masuk mobil duluan.
Sedangkan Kanina, ia memeluk tubuh ibunya lama sekali, kemudian ganti mbak Roh. Mungkin masih kangen.
"Mbak Roh, Kanina nitip Ibu." Kanina mengusap pipinya. Ia belum rela harus pergi pagi setelah berhasil bertemu.
"Nanti, kalau kita sudah menikah, ibu dan mbak Roh ajak saja tinggal bersama. Sudah ... tidak usah sedih lagi." Seolah tahu bahwa Kanina enggan dibawa balik, Gara pun mengatakan ide dalam kepalanya tersebut.
Entah sejak kapan Gara tambah berani kontak fisik dengan Kanina, karena reflek tangannya mengusap bahu Kanina. Ah, mungkin sejak tragedi sapu ijuk beberapa saat yang lalu.
"Kami permisi, Bu."
Gara dan Kanina akhirnya masuk ke dalam mobil, mereka pun melambaikan tangan. Terlihat ada kelegaan di mata bu Lastri. Mungkin ia senang, putrinya akhirnya bisa hidup dengan bahagia.
***
Beberapa minggu kemudian
Terlihat seorang wanita sedang dibantu memakai baju kebaya warna putih. Bersambung.