Single Mother

Single Mother
Type Yang Pas Di Hati



Mencari Daddy  Bag. 19


Oleh Sept


Rate 18 +


Setiap yang berjiwa pasti mati, tinggal menunggu giliran, siapa yang pulang lebih dahulu. Meichan yang masih belum menikah, harus pergi karena penyakit yang membunuhnya secara perlahan. Beberapa bulan lalu, ia baru merasa. Ia sering merasakan pusing yang mendadak. Datang dan pergi begitu saja, Mei tidak pernah menyangka. Bahwa itu adalah tanda, bahwa ada yang tidak beres pada tubuhnya.


Karena dirasa sangat sakit, dan intensitasnya menjadi sering. Maka kakak Alung itu pun memeriksan diri ke rumah sakit. Begitu hasil keluar, dunianya runtuh. Tahu bahwa ini mematikan, ia menyimpan semua sendiri. Tidak mau orang yang ia cintai menderita karena tahu penyakitnya.


Meichan hanya ingin melakukan hal-hal yang ingin ia lakukan selama masih bisa bernapas. Ia hidup seperti biasanya, bekerja, belanja, bercanda, dan menceramahi serta rajin memarahi Alung. Adik yang ia harap bisa menjaga keluarga mereka saat ia pergi.


Mei hanya ingin Alung menggantikan dirinya, menjadi mentari yang bersinar dalam keluarga mereka. Memberi kehangatan dan menjadi sandaran saat ia harus pergi selama-lamanya.


***


Kediaman keluarga Kusuma Sadewo Hanggara


"Disss!"


Bu Sadewo langsung memeluk putrinya yang baru turun dari mobil. Putri angkat yang bagai anak kandung sendiri. Ia sekolahkan sampai tinggi, ia beri materi dan kasih setulus hati.


"Maaa!"


"Kok makin kurusan? Apa di Jogya gak ada yang jual makanan?" canda bu Sadewo sambil menekan kedua pipi Gendis Kusuma Hanggara. Bu Sadewo yang menyematkan nama itu, ia sudah mengasuh Gendis saat anak itu masih kemerah-merahan. Ya, Gendis adalah bayi yang 21 tahun lalu di letakkan begitu saja di depan pagar rumah keluarga mereka.


Bukannya lapor polisi, begitu mendengar tangis yang menusuk hati tengah malam. Bu Sadewo langsung memeluk bayi yang masih ada ari-arinya itu. Dari situ, ia menganggap bahwa Gendis adalah putrinya. Semua orang tidak berani membahas perihal itu. Karena bu Sadewo melarang menceritakan apapun. Nanti, takut bila melukai hati anak tersebut.


"Ma ... itu siapa?"


Pertanyaan dari Gendis membuat bu Sadewo langsung menoleh. Dilihatnya Kanina duduk di teras, menatap ke arah mereka.


"Sini ... Mama kenalkan!" Bu Sadewo lantas menggandeng lengan Gendis. Mereka melangkah bersama menghampiri Kanina.


"Kanina, ini anak gadis Tante. Yang tempo hari Tante ceritain."


"Gendis! Kamu hamil?" cetus Gendis to the point.


"Eh ... Ayo masuk dulu. Ndis pasti lelah, pasti capek ... ayok!" sela bu Sadewo. Entah mengapa ia ingin mengalihkan perhatian sang putri. Seolah mengerti perasaan Kanina. Dengan reflek, ia merangkul bahu Gendis dan mengajaknya langsung masuk.


"Siapa, Ma?" bisik Gendis saat mereka sudah masuk ruang tamu.


"Ceritanya panjang."


"Ih, Mama! Mas Gara mana? Masa aku pulang gak pingin nyambut? Padahal pulang juga sebulan sekali. Ngurus proyek terus sepertinya ya, Ma?"


"Nah ... tau sendiri Mas mu kaya apa."


"Gak berubah, kirain ada sedikit perubahan. Eh ... Ma. Mas Gara dapat salam dari dosenku. Yang pemilik rumah kontrakan yang Ndis tinggali."


"Wa'alaikusalam," jawab bu Sadewo singkat.


"Katanya kok sekarang Mas Gara jarang ngunjungin Gendis ke kontrakan di sana. Tau nggak, Ma ... sepertinya mereka mau jodohin putrinya sama Mas Gara."


"Iya kalau Mas mu mau? Mama sudah tawarin, dari putrinya bapak Kades, putrinya juragan beras kampung sebelah. Sama anak gadis pak camat. Nggak mau!!! Semua ditolak halus sama Mas mu itu."


"Ya ampun ... Anak pak Kades mbak Tika? Yang Bidan itu? Kan kembang desa itu, Ma? Kurang apa? Astagaaa! Nyari yang bagaimana lagi tuh mas Gara."


Keduanya malah sibuk menggibah Gara yang tak kunjung menikah. Begitulah kalau bertemu, mereka bisa kuat mengobrol hingga berjam-jam. Sedangkan Kanina, ia masih di teras. Bu Sadewo asik dengan Gendis, jadi sedikit lupa pada Kanina yang selama ini menjadi teman ngobrolnya.


Chittt


Gara pulang, setelah ditelpon Gendis ia sudah di rumah. Pria itu langsung putar balik setelah dari proyek. Ketika akan turun, pandangan matanya sempat terhenti pada sosok gadis yang terduduk sendiri di depan teras rumahnya.


Lembutnya hembusan angin, menerbangkan anak rambut gadis tersebut. Kanina merapikan rambutnya yang tersapu angin dengan jari-jarinya yang lentik. Ia tidak sadar bahwa sedang diperhatikan dari balik kemudi oleh seorang pria. Pria yang diam-diam menatapnya dengan dalam. Bersambung.


Anak kades nggak mau! Anak pak camat juga nggak mau, anak juragan beras? Juga tidak mau. Lalu tipemu seperti apa Gara? Seperti itu .....