
Mencari Daddy Bag. 87
Oleh Sept
Rate 18 +
Baru kali ini Elena memperlihatkan wajah marahnya. Saat Alung menyibak pakaiannya kembali, Elena menatap tajam. Membuat tersenyum tipis.
"Maaf, ya!"
Cup Cup Cup
Sudah kebiasaan, Alung selalu suka mengabsen seluruh wajah Elena. Dan hal itu sukses membuat kemarahan Elena sirna.
"Nggak tahu, nih. Bawaanya pengen terus kalau dekat-dekat sama kamu, Len."
"Apaan sih."
"Bener, kamu duduk manis gini aja sudah membuat traveling."
BUGH
"Hahaha!"
Elena seketika bengong, baru pertama kali ia melihat Alung tertawa dengan lepas. Dan pria itu tertawa hanya karena ia merasa sebal lalu memukuli lengan Alung.
"Nggak lucu!" cetus Elena sebal. Wanita muda itu mulai berani merajuk. Dengan memperlihatkan wajah kesalnya.
"Apa kebesaran, ya?" goda Alung sembari melirik jahil.
Mendengar candaan receh sang suami, Elena memilih memainkan ponselnya. Pura-pura mengetik sesuatu.
"Kamu kalau malu, pipimu seperti tomat."
Hampp
Alung mengigit pipi Elena gemas. Seketika keduanya malah terkekeh bersama. Seperti remaja yang baru pacaran. Hubungan keduanya lagi anget-angetnya. Manis, belum ada kerikil dalam hubungan keduanya.
***
Sore harinya
Mereka pulang bersama, berjalan beriringan. Dan Pak Rafi setia menemani di belakang mereka. Ketika meninggalkan ruangan, banyak mata yang memperhatikan mereka. Terutama para pegawai wanita. Dan seperti biasa, tidak ada tempat yang bersih dari gibah.
[Aku nggak yakin deh cuma sekretaris]
[Apa pria kulkas itu sudah mencair? Lihat caranya menatap sekretarisnya itu ... beda banget]
Saat Elena melewati beberapa karyawan, semua nampak ramah. Tapi, kemudian kembali mengunjing di belakang layar.
"Pak Rafi!" ucap Alung.
"Iya, Pak."
"Tolong kosongkan semua jadwal 3 hari ke depan."
Elena melirik suaminya. Dan Pak Rafi hanya mengangguk tanpa tanya. Sepertinya pria itu paham betul apa isi kepala atasannya itu.
Di dalam mobil
"Memang ada apa tiga hari ke depan?" tanya Elena yang sejak tadi penasaran.
"Nanti juga kamu tau!" bisik Alung. Dan hal itu tertangkap oleh mata Pak Rafi yang tidak sengaja melirik kaca di depannya. Ia hanya tersenyum tipis.
"Berhenti di apotik, Pak!"
"Baik, Tuan."
Apotik Pramita
"Mau cari apa, Tuan. Biar saya belikan." Pak Rafi sudah percaya diri. Sudah melepaskan sabuk pengaman.
"Tidak usah! Saya sendiri saja ... Ayo Elena!" Alung memegang tangan istrinya.
Seketika, wajah Pak Rafi ditekuk. Sepertinya, Alung sudah tidak membutuhkan dirinya lagi. Sering sekali ia diusir ketika sedang bersama Elena. Padahal mereka berdua bos dan bawahan yang solid. Kemana-mana selalu bersama. Ish! Kacang lupa kulit.
Di dalam apotik, Alung membisikan sesuatu pada apoteker. Membuat Elena curiga.
"Terima kasih." Alung tersenyum pada pegawai apotik yang memberikan ia sekantung obat.
"Apa itu?" Elena dibuat penasaran.
"Bukan apa-apa!"
"Mencurigakan!" gumam Elena.
"Nanti aku kasih tahu."
Elena menghela napas panjang. Kemudian berjalan menuju mobil karena pak Rafi pasti sudah menunggu.
"Habis ini ke mana lagi, Tuan?"
"Langsung ke rumah."
WUSHHHH
Mobil melesat meninggalkan parkiran apotik, menuju jalan besar dan menuju kediaman Alung yang besar dan megah tersebut.
Sampai di rumah, bukannya mandi. Alung setelah melepas sepatu langsung menyalakan laptop.
"Nggak mandi dulu?"
"Sebentar, tanggung."
Elena meraih sepatu suaminya, kemudian meletakkan di tempat yang semestinya. Mata cantiknya itu, sesekali melirik ke arah layar. Dilihatnya gambar pantai dengan pasir putihnya. Lalu gambar berubah menjadi sebuah hotel, entah resorts atau apa.
"Ke sini ... apa ke sini?" tanya Alung yang membuat Elena bengong.
"Apanya?"
"Honeymoon sayang ... honeymoon ...!"
"Bahkan bengkak yang ini saja belum mereda. Astagaaa!" batin Elena. Bersambung.
Koko Alung bucin kuadrat. Hahahaha.... efek Jones. Gak papa! Author maklumin kok. Hehehe