Single Mother

Single Mother
Aroma Wanita



Mencari Daddy  Bag. 63


Oleh Sept


Rate 18 +


Elena tahu ia akan menjadi kembali tak tahu diri, karena terus merepotkan pria yang bahkan belum ia tahu siapa namanya. Meskipun begitu, Elena tetap meminta bantuan, sebab ia merasa bahwa pria itu orang baik. Padahal sikapnya terlihat sangat dingin. Tetapi entah mengapa Elena begitu yakin, pria itu pasti menolong dirinya.


"Tolong selamatkan dia," bisik Elena sambil memegangi tangan pria tersebut.


Ia menatap penuh harap, membuat dokter dan perawat memperhatikan keduanya dengan aneh.


"Kenapa aku? Mana ayahnya?" Kedua bola mata yang hitam itu hampir saja keluar dari tempatnya.


Elena menggeleng pelan, masih menatap dengan wajah iba dan penuh pengharapan. Saat ini yang bisa menolong ya cuma Alung, ayah si bayi yang juga ayah Elena tidak tahu ke mana rimbanya.


"Ish!"


Alung pun beranjak, ia menghampiri perawat dan ikut bersama mereka untuk mengurus segala sesuatu mengenai bayi tersebut. Sampai beberapa jam kemudian, dilakukan tindakan medis untuk bayi tersebut.


Alung ingin pulang, karena besok ia harus meeting pagi. Akan tetapi saat dilihatnya Elena yang tertidur sambil duduk, ia jadi ragu dan kasihan. Dengan setengah hati, Alung pun duduk di sebelah Elena. Apalagi kepala Elena hampir saja jatuh, ia pun akhirnya merapatkan duduknya. Merelakan pundaknya untuk menjadi sandaran bagi Elena.


Pukul 12 malam


Mama Ami terbangun, dilihatnya sang suami masih terlelap. Ia pun turun ke bawah. Suasana sangat sepi, mama Ami kira Alung sudah pulang. Saat ia ke dapur, kebetulan bibi juga terbangun.


"Tadi pulang jam berapa si Alung, Bi?"


"Tuan muda? Belum, Nyonya. Masih belum pulang. Bibi belum membuka pintunya."


"Ha? Belum pulang?" Mama Ami lantas memeriksa kamar Alung yang ada di lantai atas.


KLEK


"Ke mana anak ini?" gumam mama Ami.


Khawatir jangan-jangan kebiasaan Alung di jaman dulu kembali kambuh. Minum dan nongkrong tidak jelas, mama Ami lantas mencari ponselnya. Ia langsung menghubungi Alung.


Drettt drettt


Alung yang juga ketiduran, tidak tahu sang mama terus menelpon. Yang bangun malah Elena karena mendengar ada getaran. Tapi, ia sedikit terkejut saat menyadari kepalanya kini ada di pundak pria itu.


Dengan pelan Elena menarik tubuhnya agar menjauh. Namun, hal itu justru membuat kelopak mata Alung yang sipit itu terbuka perlahan.


"Ehem!" Alung mengusap matanya, kemudian mengerjap. Karena tubuhnya terasa kaku, ia kemudian melemaskan otot-otot tubuhnya yang terasa kaku.


Ada notification pesan masuk. Alung pun merogoh saku celana, dilihatnya pesan dari sang mama.


[Kamu di mana? Angkat telpon Mama]


Setelah membaca pesan singkat itu, Alung buru-buru menelpon balik sang mama. Ia tidak mau wanita yang kini paling disayangi itu cemas memikirkan dirinya.


"Ma!" sapa Alung saat telpon sudah tersambung.


"Kamu di mana?"


"Iya, ini mau pulang."


"Ya sudah, Mama tunggu."


Tut Tut Tut


Setelah melipat ponselnya dan memasukkan ke dalam saku, Alung melihat Elena yang tertangkap sedang menatapnya.


"Siapa namamu?"


"Elena."


Alung mengamati sebentar gadis itu, kemudian mengambil dompet dan memberikan kartu namanya.


"Elena, bila ada apa-apa kau bisa menghubungi nomor ini!"


Pria itu memberikan kartu namanya. Kemudian berbalik pergi. Sementara itu, Elena tertegun sembari memegang kartu nama yang baru ia dapat. Belum bilang terima kasih, tapi pria itu sudah pergi.


"Alung?" gumam Elena mengeja nama pada kartu nama.


***


"Dari mana, Lung? Mama nggak mau kamu kembali lagi seperti dulu!"


Baru juga membuka pintu rumahnya, mama Ami sudah menyerang putranya.


"Mama tenang saja, Alung nggak minun! Nggak ada baunya kan?"


Alung mendekat dan mengecup pipi mamanya. Wanita yang selama ini cukup mengisi hatinya.


"Lok? Bau parfum perempuan, Lung?"


Alung mendesis dan tersenyum kecut. Rupanya Aroma Elena masih tertinggal. Bersambung.