Single Mother

Single Mother
You Are Not Alone



Mencari Daddy  Bag. 70


Oleh Sept


Rate 18 +


Kakao Group


Di sebuah perusahaan besar di salah satu kota terpadat di Indonesia, terlihat Alung berjalan dengan terburu-buru memasuk gedung. Wajahnya nampak serius dan tegang, sepertinya ia sedang memburu sesuatu.


Sapaan beberapa karyawan yang kebetulan berpapasan dengannya hanya ia jawab dengan anggukan kemudian berlalu.


"Di sini, Tuan."


Pak Rafi mempersilahkan jalan untuk Alung terlebih dahulu, ia kemudian menekan tombol lift untuk mereka berdua. Sepanjang di dalam lift, Alung terus saja menatap jam tangan Rolekzzz miliknya. Hal itu tidak lepas dari pengamatan mata elang Pak Rafi yang tajam. "Ada apa dengannya?" batin Pak Rafi mengamati.


"Apa ada masalah, Tuan?"


Lama-lama Pak Rafi bertanya juga. Sebab ia penasaran, karena atasannya itu tidak seperti biasanya. Terlihat memikirkan sesuatu.


"Tidak! Tidak ada."


TING


Suara lift terbuka, pria itu lantas keluar dengan diikutin Pak Rafi yang mengekor sedari tadi.


KLEK


Pak Rafi dengan sigap membuka pintu ruangan meeting. Ternyata di sana sudah ada beberapa orang yang sedang menunggu. Alung mengangguk sebentar sekedar memberikan salam. Kemudian duduk di tempat yang sudah disediakan.


Sepanjang pertemuan yang singkat itu, Alung tidak bisa konsentarsi. Kalau bukan karena nilai proyek yang fantastic. Sudah pasti ia pending dulu meeting ini. Namun, karena harus tetap professional, Alung pun menahan sebentar. Ia akan selesaikan masalah perusahaan dulu. Setelah itu akan bergegas ke rumah sakit.


"Terima kasih untuk kerja samanya!" Alung menjabat tangan pria berdasi polkadot tersebut. Rambutnya rapi, maskulin dan wangi.


Sayang, Alung kurang suka aroma itu. Ia pikir itu parfum wanita. Hemm ... jangan-jangan. Ah, sudahlah.


Setelah teken kontrak dan mengantar kliennya keluar dari ruangan, Alung bergegas pergi juga.


"Tuan! Ada pertemuan dengan dewan direksi satu jam lagi!" teriak Pak Rafi yang melihat Alung pergi dengan buru-buru.


"Tunda! Kosongkan jadwal sampai besok!"


Pak Rafi menghela napas panjang, menyaksikan Alung yang menghilang dari pandangan.


***


Rumah Sakit Harapan


Tap tap tap


Suara derap langkah Alung beradu dengan suara ranjang rumah sakit yang didorong di sebelahnya. Dengan cepat ia menuju ruang perawatan.


"Elenaaa!" panggil Alung pada sosok gadis yang berdiri jauh di depannya. Ia berlari menghampiri Elena.


Gadis itu sedang berjalan sambil membawa kantong kresek.


"Dari mana?"


"Beli ini." Elena mengangkat sebelah tangannya.


"Ada yang lain? Biar aku carikan."


Elena menggeleng. "Hanya ini, tisu basah dan minya telon."


Alung mengangguk kemudian berjalan bersama Elena.


"Apa yang terjadi?"


"Panas, tiba-tiba saja badannya demam lagi."


"Kenapa tidak telpon?"


Elena berhenti berjalan, kemudian mendongak.


"Maaf, saya tidak mau merepotkan."


"Bukannya kalau sudah begini tambah merepotkan? Kau membuat aku ngebut seperti orang gila."


"Lalu apa hubungannya?" batin Elena yang tidak mengerti arti ucapan Alung.


"Ya sudah! Ayo masuk!" tambah Alung yang melihat Elena hanya bengong.


***


"Sebenarnya kondisinya seperti apa, Dok?"


Pria berjas putih itu nampak ragu memberikan penjelasan. Ia kemudian meletakkan telapak tangan ke pundak Alung.


"Bapak harus bersiap untuk segala kemungkinan terburuk."


"Maksud dokter?" tanya Alung tidak mengerti.


"Setelah kami lakukan general check up ulang, kami temukan ada masalah dalam tubuh bayi tersebut."


"Apa tidak bisa diobati?"


Dokter menggeleng pelan, seolah menyesal mengatakan hal itu.


"Apa tidak ada hal lain yang bisa diusahkan untuk menyelamatkan bayi itu?"


"Maaf, Pak. Harus mengatakan ini. Sebagai dokter, dan manusia ... Kita hanya berharap pada Tuhan. Semoga ada keajaiban."


Kata-kata dokter membuat Alung kepikiran. Bagaimana bila Elena tahu. Kerabat satu-satunya adalah bayi itu. Bila bayi itu sedang dalam masalah, lalu bagaimana dengan Elena?


Setelah berdiskui panjang lebar dan meminta pertimbangan banyak hal pada sang dokter, akhirnya Alung memutuskan meninggalkan ruang dokter tersebut.


KLEK


Alung masuk ruang perawatan dengan memasang muka biasa, meski hatinya merasa gelisah. Fakta kesehatan baby Gavi yang buruk, membuatnya tidak bisa lama-lama bersandiwara.


"Tidak kembali ke kantor? Aku tidak apa-apa. Sudah biasa hanya berdua dengan Gavi seperti ini. Jadi jangan khawatir, dan maaf merepotkan."


Alung terdiam sesaat. Duduk di tepi ranjang sambil memijit-mijit kepalanya.


"Aku yang tidak biasa saja," ucapnya pelan.


"Bagaimana bila sesuatu yang buruk menimpa adikmu?" tambah Alung.


"Jangan ... dia keluargaku satu-satunya," jawab Elena cepat.


Alung mengangguk, kemudian menepuk pundak Elena. Membuat Elena merasakan sesuatu yang buruk.


"Apa kata dokter?"


"Tidak apa-apa."


Elena tidak percaya, sebab Alung bicara tanpa menatap matanya. Itu artinya pria itu berbohong.


"BOHONG! Aku kakaknya, mengapa menutupi kondisi Gavi yang sesungguhnya? Aku saudara yang ia miliki satu-satunya!" tuntut Elena dengan wajah gelisah. Jelas ia merasa sesuatu yang sangat tidak beres.


"Tidak ada, semua baik-baik saja, Elena."


Gadis muda itu menggeleng keras, "Kalau Tuan tidak mau mengatakannya, Elena bisa tanya dokternya sendiri."


Yakin Alung sudah menyembunyikan sesuatu dari dirinya, Elena bergegas keluar.


"Lena!!!! Elenaaa!" panggil pria itu sambil terus mengejar.


KLEK


Alung menghela napas dalam-dalam, setelah Elana masuk ruang dokter sendirian. Cukup lama ia menunggu di depan ruangan itu. Hingga pintu terbuka dari dalam. Elena keluar dengan mata yang sudah sembab. Sepertinya habis menangis di dalam sana.


Gadis itu berjalan tanpa peduli Alung yang langsung datang menghampiri. Sesekali ia mengusap pipinya.


"Semua akan baik-baik, saja."


"Tidak! Tidak ada yang baik-baik saja. Semua tidak baik! Jangan katakan semua baik-baik saja, apa Tuan pikir nyawa adikku adalah mainan?"


"Elena!!"


"Jangan mengikutiku!" Elena berlari. Entah ke mana. Ia hanya ingin menjauh, sekedar melepas rasa hatinya yang hancur. Kenyataan tidak pernah manis padanya. Selalu datang dengan kepahitan yang kaqiqi.


"Tidak ada penyakit yang tidak ada obatnya! Akan aku usahakan. Jangan berpikir buruk sebelum hal itu terjadi. Kamu lebih percaya dokter dari pada Tuhan?" ucap Alung yang sudah berhasil mengejar dan mencengkram lengan Elena yang meronta minta dilepaskan.


"Lalu bagaimana ... bagaimana bila Tuhan juga mengambilnya setelah mengambil ibuku?"


Elena tidak bisa lagi membendung air matanya. Ia menangis, mengapa nasibnya harus begini. Melihat Elena tersedu, tangan Alung perlahan meraih tubuh yang bergetar karena tangis tersebut.


"Kamu tidak sendiri ... mulai sekarang, aku keluargamu."


Elena pikir pria itu hanya bicara omong kosong. Tapi siapa yang mengira, bahwa malam itu juga Alung memutuskan menikahi gadis tersebut. Bersambung. Heheheh


Siapin kebaya sama amplop mak. Jangan lupa masker dan hand sanitizer. Kita makan-makan Online. Hihihih