Single Mother

Single Mother
Memaafkan Tapi Tak Melupakan



Mencari Daddy  Bag. 91


Oleh Sept


Rate 18 +


Elena sudah duduk di depan meja rias sembari mengeringkan rambut. Sore-sore Alung membuatnya harus mandi dan keramas lagi.


"Len," sapa Alung yang kala itu sibuk menikah baju ganti di atas lemari.


"Aku mau ke Surabaya."


Elena langsung menoleh, menatap suaminya yang berdiri di depan lemari dari kayu jati pilihan tersebut.


"Biasanya awal bulan kan, Mas?"


"Iya, tapi tadi Altar nelpon."


"Tumben, apa dia sakit?"


"Nggak, cuma merajuk. Dimarahi mamanya."


Elena diam sesaat, mendengar cerita tentang mamanya Altar, entah mengapa ia kurang nyaman.


"Em ... kan biasa Mas, anak dimarahi ibunya."


"Nangis dia."


"Namanya anak kecil kan memang begitu, Mas. Tuh ... Gavi sehari nangis berapa kali."


"Beda, sayang!"


Elena kembali terdiam. Ya, dua anak kecil itu sangat berbeda. Satu anak kandung Alung, satu hanya adik ipar Alung.


"Ya sudah. Nginep berapa hari?"


"Seperti biasa, paling dua hari."


"Hemm ..."


"Nanti kamunya ijin saja."


"Loh, sama aku, Mas?"


"Lah ... iya dong."


"Ada banyak tugas."


"Ijin aja, dua hari."


"Aku gak enak, Mas."


"Nanti aku telpon dosen kamu."


Elena langsung memijit keningnya.


***


Hari keberangkatan ke Surabaya, Elena duduk di kursi belakang bersama suaminya. Sedangkan Pak Rafi, pria itu duduk di balik kemudi. Mereka ke Surabaya hanya berdua, karena Gavi ditinggal di rumah bersama mama Ami.


Setelah mengendara cukup lama, akhirnya mobil sampai juga di kawasan Bandara Cengkareng. Pak Rafi lalu menurunkan koper milik Elena dan Alung. Ia mengantar keduanya sampai ke dalam.


"Terima kasih, Pak." Elena tersenyum ramah pada sekretaris suaminya yang baik tersebut.


Di dalam pesawat.


"Len, kalau Altar ikut kita bagaimana?"


Tiba-tiba saja Alung menanyakan hal yang membuat Elena berpikir.


"Kalau anaknya mau, dan ibunya boleh ... fine-fine aja, kan."


"Kamu nggak keberatan?"


Elena memincingkan mata. "Keberatan kenapa?"


Melihat istrinya yang legowo, pria itu menghadiahkan kecupann di kening Elena. Alung pikir, Kanina akan dengan mudah memberikan ijin Altar tinggal bersama daddy-nya.


***


Kediaman Anggara


Ketikan terdengar sebuah mobil berhenti di halaman, Altar langsung lari ke luar rumah. Anak itu berlari menyambut Dady-nya.


"Dad!"


Baru membuka pintu mobil, Altar langsung merangsek daddy-nya.


"Wah ... sudah besar anak Daddy."


Mereka bertiga kemudian masuk ke dalam rumah. Di sana hanya ada Kanina, dua anaknya dan mbak Roh. Sedangkan ibu Lastri, beliau sedang ke rumah bu Sadewo. Ada acara di kediaman bu Sadewo. Bu Lastri ke sana, untuk bantu-bantu dan silaturohim dengan besan.


"Loh ... bukannya minggu kemarin baru ke sini. Tumben?" celetuk mbak Roh.


"Kangen!" jawab Alung singkat.


Melihat Altar yang mengelayut manja pada daddy-nya, mbak Roh pun tidak bertanya lagi.


"Mari ... Mari ... masuk," tambah mbak Roh.


Elana pun masuk, dan menemui tuan rumah. Ia menyapa Kanina dengan seramah munngkin. Meski ada sedikit cemburu, tapi ia sembunyikan rapat-rapat.


"Gantengnya Azil ... mirip papanya," puji Elena sembari mengusap pipi baby Azil.


Kanina hanya tersenyum, dan ikut mengusap bibir munggil Azil.


"Lah, kamu kapan? Nggak nyusul? Apa KB?" sela Mbak Roh tanpa ragu-ragu.


"Belum dikasih, Mbak," jawab Elena dengan tidak enak hati. Padahal usaha jalan terus. Tapi sepertinya belum dikasih.


"Padahal, dulu suamimu sama Kanina sekali aja langsung jadi."


JLEB


Suasana di dalam ruangan seketika menjadi dingin dan mencekam karena celotehan mbak Roh.


Bersambung.


Meski sudah memberikan maaf, sepertinya mbak Roh ini masih gemas kalau melihat Alung. Mungkin ia ingat jaman dulu, bagaimana Kanina harus menderita karena ulah pria tersebut.