Single Mother

Single Mother
Tidur Di Luar



Mencari Daddy  Bag. 39


Oleh Sept


Rate 18 +


Saat Kanina sedang memberikan ASI pada baby Altar, Gara pergi ke kamar mandi. Tubuhnya terasa lengket karena habis olah raga tengah malam bersama Kanina beberapa saat lalu. Sisa-sisa keringat masih terlihat jelas, dan ia tidak bisa tidur kalau tidak mandi terlebih dahulu.


Seperti saat masih perjaka, kebiasaan Gara keluar kamar mandi hanya memakai handuk. Dengan santai ia berjalan, tidak menyadari ada sepasang mata yang menatapnya dengan malu.


"Baju punya Mas sudah dipindah, Nin?" tanya Gara yang sedang membuka koper. Bajunya di rumah itu memang sedikit, karena selama ini ia tinggal bersama orang tuanya di rumah satunya.


"Sudah, Mas. Di lemari, susunan paling atas," jawab Kanina tanpa menatap suaminya itu.


"Lemari yang ini?"


"Bukan, satunya!" ucap Kanina sambil mengintip. Malu melihat suaminya tidak pakai baju.


"Oh yang ini, eh ... kamu kenapa?" Setelah meraih kaos pendek, Gara lantas duduk di sebelah Kanina.


"Nggak-nggak apa-apa, Mas." Kanina mencoba untuk santai dan rileks, padahal jantungnya sudah berdebar hebat. Dekat dengan Gara, membuat groginya kumat kembali. Sudah persis anak ABG yang baru ditembak sama pacarnya. Emang sih, kan Kanina habis ditembak barusan sama Gara. Tembakan yang bisa menghasilkan kecebong. Sakit, tapi enak.


"Kamu bersihkan tubuhmu dulu, Nin. Biar Altar Mas yang jagain."


Kanian mengangguk dan turun dari ranjang, wajahnya meringis, seperti menahan sesuatu. Tentunya rasa perih, karena tembakan Gara beberapa saat yang lalu.


"Kamu kenapa, Nin?"


"Nggak ... Nggak apa-apa."


"Nggak apa-apa bagaimana, lalu wajah kamu kenapa?"


Malu, Kanina menundukkan wajah.


"Agak sakit, Mas," jawab Kanina lirih.


"Mana yang sakit?" Baru semalam bersama Kanina, Gara sudah pandai menggoda.


Semakin malu, Kanina memutuskan berjalan saja ke kamar mandi. Namun, hal itu malah menarik perhatian Gara, ketika melihat bagaimana istrinya itu berjalan. Kanina berjalan tidak biasa, barangkali masih merasakan perih setelah pertempuran beberapa saat lalu. Setelah Kanina pergi, sambil senyum-senyum tidak jelas, Gara berbicara pada bayi yang sudah terlelap tersebut.


***


Pagi harinya, suasana rumah yang biasanya sepi kini ramai sekali. Pagi-pagi mbak Roh sudah beradu dengan spatula dan wajan. Sedangkan bu Lastri, ia sedang memangku cucunya yang sudah mulai gembul.


"Nin, panggil suamimu. Sarapan sudah siap," seru mbak Roh.


Kanina yang sedang menata piring, ia pun melirik pintu kamarnya. Masih tertutup rapat, kenapa suaminya belum bangun juga?


"Iya, kalau masih tidur, ya jangan dibangunin. Mungkin lelah karena bergadang semalaman."


Celetukan mbak Roh membuat pipi Kanina langsung merah, malu, ia pun tanpa menoleh langsung menuju kamarnya. Sedangkan mbak Roh, ia terkekeh melihat Kanina yang salah tingkah.


KLEK


"Kanina pikir belum bangun," ucap Kanina saat melihat suaminya sudah mandi dan memakai baju santai. Gara pun tersenyum ke arahnya, kemudian memijit-mijit lengannya sendiri.


"Pas kamu keluar tadi Mas langsung bangun, mana Altar?"


"Sama ibuk, ayo Mas ... Sarapan."


"Hemm."


Mereka pun sarapan bersama-sama, sambil sesekali bercerita. Banyak hal yang mereka bicarakan, dari hal kecil dan yang paling sepele. Seperti Gara suka makan apa? Nanti biar dimasakin kesukaanya.


Gara sih oke-oke saja, baginya makan apa saja tidak masalah. Yang penting, teman makannya bukan makanannya. Jadi bukan menu apa, tapi siapa yang menemani saat ia makan. Seperti sekarang, sambal tomat dan telor mata sapi serta tahu tempe saja sudah sangat lezat, karena apa? Karena makan bersama Kanina.


"Nambah, Mas?" tanya Kanina.


Gara langanan menggeleng. "Udah ... udah kenyang."


Ketika Gara sudah selesai makan, ponselnya berbunyi. Dari sang mama.


"Iya, Ma."


"Masih di rumah kan, Gar?"


"Iya, ini baru selesai sarapan. Ada apa, Ma? Tumben pagi-pagi telpon."


"Emm ... !" Bu Sadewo nampak ragu mengatakan apa yang ingin ia sampaikan.


"Ma ...? Mama baik-baik saja, kan?"


"Maaf, kalau Mama ganggu. Tapi ... ini mendesak. Mama bingung," ucap bu Sadewo dengan berbelit-belit. Membuat Gara tidak sabaran.


"Mama cerita, apa yang terjadi!"


"Adikmu ... Semalam nggak pulang."


Gara terdiam sejenak, kemudian matanya menatap Kanina yang juga memperhatikan dirinya sedari tadi.


"Baik ... Gara ke sana." Bersambung.


Rubah kecil mulai beraksi.