Single Mother

Single Mother
Bibit Kualitas Super



Mencari Daddy  Bag. 59


Oleh Sept


Rate 18 +


Begitu selesai memberi pelajaran pada pria yang kurang ajar, dan setelah melempar jas miliknya, Alung kemudian berlalu begitu saja. Ia berjalan tegap keluar mall tersebut setelah menciptakan keributan.


Tap tap tap


Terdengar derap langkah kecil mengikuti Alung, Elena kesusahan menyamakan langkah mereka. Langkah kaki Alung yang panjang, tidak mampu ia samai. Apalagi dengan rok mini yang ia kenakan. Terlihat sekalian Elena kesusahan melangkah.


"Tunggu! Tunggu dulu! Sepertinya kita pernah bertemu."


Sedari tadi Elena mengamati, pria yang sudah memukul orang yang sudah kurang ajar pada dirinya. Elena belum menyadari siapa pria itu. Terlalu banyak pria di luar sana yang ia temui, hingga Elena tidak bisa menghafal mereka satu-satu.


"Jangan mengikutiku!"


Dukkkkk


Kepala Elena membentur tubuh pria itu yang berhenti mendadak. Sambil mengusap dahinya, Elena kemudian mendongak. Ia tatap paras tampan dengan mata sipit tersebut. Seperti oppa Korea. Tampan dan menawan. Tanpa sadar, Elena malah mengagumi sosok di depannya.


"Kau tidak dengar? Jangan mengikutiku!" sentak Alung dan membuat Elena tersadar.


"Eh ... Maaf, terima kasih untuk yang tadi."


Elena melepas jas yang ia pakai, itu bukan miliknya. Dan Seperti harganya tidak murah. Gadis itu pun memberikan pada yang punya.


"Kau pikir aku akan memakainya setelah kau pakai?" Alung memincingkan mata. Ia menatap dengan sinis. Membuat Elena heran, tadi orang itu bagai dewa penyelamat. Mengapa sekarang sangat dingin? Apa dia mengidap kepribadian ganda? Batin Elena.


"Tapi ...!"


"Buang saja bila sudah tak berguna! Dan ... ambil ini! Beli baju yang pantas!"


Alung mengeluarkan dompet, ia mengambil beberapa lembar uang warnah merah. Dan meraih tangan Elena. Meletakkan uang itu tepat pada telapak tangan gadis tersebut.


Prok prok


Terdengar sebuah suara tepuk tangan. Keduanya langsung menoleh ke sumber suara. Elena sempat bergidik, karena itu pria yang tadi.


"Rupanya kau sama brengsekkknya! Berapa dia membayarmu?" Pria itu memandang sinis ke arah Elena dan Alung bergantian.


"Ish!" Alung mendesis kesal. Ia malas ikut campur dengan urusan orang, karena ujung-ujungnya akan seperti ini. Berbuntut panjang dan membuatnya malas.


"Masuk mobil!" Alung melirik Elena.


Sontak Elena kaget, apa yang diucapkan Alung padanya.


"Kau tidak dengar? Masuk!" ujar Alung yang mulai kesal.


"Heiii! Mau kau bawa ke mana dia?" teriak pria yang tadi dihajar Alung dan pak Rafi.


Bruakkk


Alung masuk mobil dan menutup pintunya dengan kasar. Ia kesal karena harus berurusan dengan pria tersebut.


***


Sepanjang jalan Elana diam membatu, ia bingung mau bicara apa. Suasana di dalam mobil itu begitu dingin.


"Katakan alamatmu di mana?"


Elena buru-buru memberikan alamatnya. Ia langsung menyebutkan di mana ia tinggal. Setelah hampir setengah jam, akhirnya mereka sampai di sebuah rumah susun. Elena langsung turun dan mengucapkan terima kasih.


Melihat Elena turun dari sebuah mobil mesah, tetangga rusun Elena yang ada di sana langsung menarik lengan gadis tersebut. Ia menyeretnya paksa.


Elena langsung memberikan uang yang ia dapat hari ini.


"Ini masih kurang, gadis sialann!!!" pekik wanita yang rambutnya masih diroll tersebut.


"Elena belum punya, Tante."


"Kalau begitu, ambil barang-barangmu sekarang. Dan bawa pergi anak itu. Kepalaku rasanya mau pecah mendengar bayi itu menangis seharian!"


"Tapi, Tante ....!"


"Tidak ada tapi-tapian! Cepat kemasi barang-barangmu."


"Jangan begitu Tante, beri Elena waktu lagi. Nanti kami tidur di mana?"


"Apa urusannya dengan saya? Pokoknya malam ini tinggalkan tempat ini. Masih banyak yang mau sewa!"


"Ini sudah malam, kami mau tidur di mana Tante?" Elena terus memohon. Ia memegang lengan wanita itu. Namun, wanita tersebut malah menghempaskan Elena. Membuat gadis itu tersentak dan terhuyung hampir jatuh. Untung saja, Alung langsung menangkap Elena.


"Berapa?" tanya Alung yang ternyata tadi menguping.


"Lima juta!"


Alung kemudian berjalan ke arah mobil, ia meminta uang pada Pak Rafi, karena mana punya Alung uang cash sebanyak itu. Pak Rafi pun mengambil sesuatu dari dashboard. Mengeluarkan amplop dan mengambil beberapa lembaran.


"Terima kasih!"


Orang yang dipanggil tante oleh Elena itu lalu pergi dengan membawa uang yang ia kilas-kipas ke wajahnya. Sementara Elena, ia merasa tidak enak.


"TERIMA KASIH!" teriak Elena saat melihat Alung yang berbalik dan pergi meninggalkan area rusun dengan tanpa kata.


***


Pagi harinya


Di sebuah perumaahan yang asri dan damai. Mbak Roh sedang mengendong balita. Ia sedang belanja di tukang sayur yang kebetulan lewat depan rumah.


"Mbak Kanina mana? Kok akhir-akhir ini jarang keluar rumah?" tanya tetangga Kanina pada mbak Roh.


"Ada ... lagi di rumah," jawab Mbak Roh singkat. Karena ia sedang memilih sayuran sambil menggendong Ara, Ara Juwita Dinata putri kedua Kanina.


"Oh, kirain kenapa-kenapa? Kok jarang kelihatan, Mbak."


"Nggak kenapa-kenapa, Buk. Cuma lagi ngidam. Malas ke luar rumah."


"Eh ... Ara mau punya adek?"


"Iya, banyak anak banyak rejeki. Eh ... bang ini udah. Tolong bungkus."


Setelah belanja, mbak Roh masuk ke dalam rumah. Dilihatnya Kanina sedang rebahan di sofa.


"Gimana? Masih pusing?"


"Masih, Mbak."


KLEK


Gara keluarga dari kamar, ia kemudian duduk di sisi Kanina.


"Ke dokter sekarang, ya?"


"Nggak, Mas. Nanti saja, Mas kan lagi sibuk."


"Itu bisa ditinggal, bagi Mas kalian yang paling penting." Gara mengusap perut Kanina. Istrinya sudah hamil lagi. Ia merasa bahagia sekaligus bangga. Bahkan Ara baru dua tahun lebih sedikit, tapi Kanina hamil lagi. Benar-benar prestasi membanggakan bagi pria itu. Bibit kecebong yang tidak diragukan. Bersambung