Single Mother

Single Mother
Kaget



Mencari Daddy  Bag. 79


Oleh Sept


Rate 18 +


"Anak ini ... kau benar-benar mengujiku!" batin Alung sembari memalingkan muka. Mungkin terlalu lama sendiri, membuat pria itu kini mudah sekali untuk terpancing.


Menyadari kondisi Elena yang masih babak belur, Alung menepis egonya. Ia kemudian menyuruh Elena masuk ke kamarnya.


"Tidurlah, besok kita bicarakan lagi."


Elena menatap sebentar, kemudian ia beranjak setelah merapikan bajunya. Karena badannya juga masih capek semua. Elena butuh waktu untuk istirahat.


Selepas kepergian Elena, Alung tinggal sendiri, berdiri mematung memperhatikan pintu kamar istri kecilnya itu. Sembari bergumam.


"lama sekali kamu lulus ... Elena!"


***


Esok harinya


Surabaya


"Ma ... daddy lupa ya? Ini kan ultah Altar ... tapi Daddy kok nggak ucapin selamat, cuma Oma. Apa daddy sibuk?"


Kanina yang kala itu perutnya sudah sedikit membesar, tidak bisa menjawab pertanyaan sang putra. Ia juga kurang tahu, tapi beberapa waktu yang lalu, mama Ami sempat mengabari, bahwa daddy Altra tersebut sebentar lagi akan menikah.


Maka dalam hati, Kanina rasa, mungkin Alung sedang sibuk-sibuknya dengan istri barunya. Tapi, di depan anaknya itu, Kanina tidak mengatakan apa-apa. Biar Alung nanti yang bilang sendiri. Kanina hanya mengatakan sekenanya.


"Daddy mungkin sibuk, mungkin nanti kalau nggak sibuk pasti telpon Al. Memangnya Al mau apa? Bilang sama Mama ... Ada Papa juga, kan? Al pingin apa? Pasti nanti Mama dan Papa kasih."


Altar menggeleng pelan, kemudian berbalik dan meninggalkan mamanya. Al kemudian berpapasan dengan sang papa yang kala itu menggendong Ara. Gara memperhatikan muka masam Altar.


"Al!"


Altar mendongak, tapi dengan muka sedih.


"Hey!! Kenapa anak Papa?" Gara mengusap kepala putranya dengan lembut.


Altar yang tadinya sedih karena daddy-nya lupa mengucap ultah, ia lalu memeluk pinggang papanya. Papa yang selalu ada, bahkan semalam ia mendapat hadiah yang sangat bagus dari papanya itu.


"Sayang! Ini kenapa Al kok merajuk?"


"Minggu depan Papa kebetulan ada proyek baru, dan sepertinya Papa harus datang ke Jakarta. Altar mau ikut?"


Seketika Altar langsung ceria. Sebab selama ini memang ingin ke sana. Oma dan daddy-nya sering mengajak dan membujuk orang tuanya. Tapi, baik Kanina maupun Gara, keduanya tidak pernah memberi ijin untuk Altar keluar dari rumah. Meski hanya semalam. Kalau mau melihat Altra, ya Alung serta mama Ami cuma bisa menengok saja.


"Altar boleh lihat monas?"


Gara langsung tersenyum mendengar pertanyaan lugu dari putra sambungnya itu.


"Boleh! Kita nanti main dan muter-muter di sana."


"Horeeee! Ke rumah Daddy juga Kan, Pa? Altar mau nginep di rumah Daddy."


Kini ganti wajah Gara yang berubah masam. Tapi ia tetap berusaha mengeluarkan senyum. Dengan terpaksa pria itu mengangguk demi senyum di wajah Altar.


***


Cengkareng, sesuai janji. Gara membawa keluarga kecilnya ke kota metropolitan. Ia membawa Kanina, Altar, dan juga Ara. Sedangkan mbak Roh dan ibu mertua tidak ikut. Sudah diajak, tapi keduanya memilih di rumah saja.


Saat di Bandara, mereka langsung mencari jemputan. Tidak ke rumah Alung langsung. Karena mereka belum memberi tahu.


Hotel Mandalas


"Pa! Kok ke hotel? Katanya ke rumah Daddy?" protes Altar.


"Iya, nanti. Sekarang biar kita makan, istirahat dulu. Setelah itu baru ke sana."


"Asikkkk!"


***


Kediaman Mama Ami.


Mama terlihat senang. Namun, juga sedikit gelisah. Barusan Kanina menghubungi, keluarganya sudah ada di JKT. Dan mengatakan Altar mau ketemu sama bapaknya. Harusnya mama Ami senang, tapi ini kok agak gimana. Ia pun menghubungi Alung.


Ponsel di meja terus saja berdering, sedangkan saat itu Alung sedang di kamarnya mengambil sesuatu. Elena pun menjawab panggilan itu, karena terus berdering berkali-kali.


"Lung! Anak kamu datang, kata Kanina dia mau ketemu Dady-nya," ucap mama Ami tanpa tahu siapa yang mengangkat telpon.


Wajah Elena seketika berubah. Bersambung.


Berubah jadi apa? Prok prok prok ... tolong dibanting ya. Hahaha