Single Mother

Single Mother
Bukan Sekedar Mandi



Mencari Daddy  Bag. 90


Oleh Sept


Rate 18 +


Tidak sabar menunggu kabar dari Elena, Alung yang dapat notif SMS penipuan pun langsung menelpon istri kecilnya.


"Sudah pulang?" tanyanya singkat.


"Belum, masih ngerjain tugas. Bentar lagi." Elena masih sibuk dengan tugas-tugas dari dosennya.


"Sudah makan siang?" tanya Alung lagi.


"Sudah, Mas."


"Sama siapa?" Alung kembali kepo.


"Sama Intan dan Revi."


"Revi cowok?" wajah pria itu nampak serius saat menanti jawaban Elena.


"Revina, Mas. Cewek lah."


"Oh ... ya sudah. Nanti pulang jam berapa?"


"Setengah jam lagi paling, Mas."


"Aku minta Pak Rafi jemput, mau?"


"Nggak, nggak usah, Mas. Ini tadi katanya Intan rumahnya deket rumah kita. Aku nebeng dia aja."


"Oh, hati-hati. Bilangin intan, tidak usah ngebut."


"Iya, udah ya, Mas. Aku selesaiin ini dulu. Biar cepet pulang. Gak enak .. pada sibuk kerjain tugas malah telpon."


"Hemm ... nanti sampai rumah langsung kabari."


"Iya."


Tut Tut Tut


Elena menghela napas panjang, kemudian balik lagi serius pada lembaran kertas di depannya.


"Siapa, Len?" tanya teman Elena yang penasaran.


"Biasa ... suami," ucap Elena dengan nada biasa.


"Kamu dah nikah?" Intan menatap tak percaya.


"Udah," jawab Elena singkat.


"Eh ... Kamu baru urus KTP, kan? Bukannya harus 19 tahun baru bisa tercatat. Astaga ... jangan bilang loh istri siri. Gila ... kamu bukan istri simpanan, kan?" Intan menatap Revi. Keduanya kemudian sama-sama menatap Elena penuh selidik.


"Hahahaha!"


Elena terkekeh, ia tertawa lepas.


"Kalian yang gila ... tenang aja, apa sih yang gak bisa suamiku lakuin. Pernikahan ku udah tercatat resmi kok, beberapa bulan lalu. Tentunya dengan banyak prosedur. Tenang say, bukan sugar baby kok." Elena seolah mengerti tatapan dua teman barunya itu.


"Syukurlah."


Intan dan Revi kemudian tersenyum, mungkin mereka takut bila Elena adalah simpanan om-om.


***


Sore harinya


Pukul enam, Alung baru sampai rumah. Baru juga tiba, ia sudah mencari di mana istrinya.


"Len ... sayang."


Dibukanya pintu kamar utama, kamar yang beberapa bulan terakhir menjadi menjadi kamar keduanya. Selepas pulang dari bulan madu, mereka memang setiap hari tidur di kamar yang sama. Di atas ranjang yang sama pula.


"Len ..."


Ganti ia ke kamar Gavi, dilihatnya Elena yang memakai baju santai sedang rebahan di samping Gavi. Anak yang ia bawa ke rumahnya saat bayi, sekarang sudah aktive sekali. Merangkak ke sana- ke sini.


"Sudah pulang, Mas."


Bukkkk


"Ish ... cuci kaki dulu," seru Elena ketika suaminya langsung merebahkan kepalanya di pangkuan Elena. Mungkin kangen, karena beberapa jam tidak ketemu.


"Iya, sebentar. Pengen gini sebentar saja ... boleh kan, Gavi?" Alung malah mengedip-ngedipkan matanya ke arah Gavi.


"Udah ... cuci kaki dulu. Banyak kuman."


"Kuman apa, sih? Ini kumannya ..."


Cup Cup Cup


Elena langsung terkekeh, begitu mendapat kecupann dari kuman yang bertubi-tubi.


"Dilihat Gavi!"


"Gavi mau?" tanya Alung kemudian menyerang Gavi sama seperti yang ia lakukan pada kakak Gavi tersebut.


Gavi yang terbiasa bermain-main dengan Alung, malah tertawa lucu dan mengemaskan ketika Alung menggodanya. Anak itu terlihat sudah dekat dengan Alung. Mungkin Alung tidak menganggap Gavi sebagai adik, malah mungkin seperti anak sendiri.


"Sudah, mandi dulu ... Mas kan dari luar."


Alung kemudian menarik diri dari Gavi. "Daddy mandi dulu, ya ... Muacchh!"


Alung benar-benar mengangguk Gavi bak putranya sendiri. Setelah itu ia mendekati Elena.


"Mandi, yuk."


Bola mata Elena memutar bingung. Kan ia sudah mandi.


"Jangan pura-pura polos, yuk."


"Eh!" Elena langsung berdiri karena Alung menarik lengannya.


"An .... aniiii! Jagain Gavi bentar."


Tap tap tap


Mbak Ani masuk ke kamar dengan terburu-buru.


"Iya, Tuan."


"Jagain Gavi, ya."


"Iya, Tuan."


***


Elena dan Alung sudah di kamarnya.


"Mas, aku sudah mandi tadi."


"Kan aku belom."


"Lah, ya udah Mas mandi sana."


Setttt


Alung langsung saja membopong tubuh Elena dan masuk kamar mandi. Elena tak berkutik, ia hanya bisa menggeleng kepala melihat tingkah suaminya.


Apa mereka hanya mandi? Kurasa tidak. Bersambung.