
Mencari Daddy Bag. 75
Oleh Sept
Rate 18 +
Setelah Elena turun, mobil keluaran terbatas itu pun segera melesat meninggalkan kerumunan. Pergi dan menghilang di ujung jalan. Meninggalkan desas-desus para pelajar yang menatap penuh selidik pada Elena yang berjalan memasuki gerbang.
"Gebetan kamu tajir juga. Kata bu BK kamu sudah nggak tinggal di rusun lagi. Tinggal di mana, Len?" tanya salah seorang teman Elena yang kebetulan juga ada di sana.
"Sudah pindah."
"Pindah ke mana?" Lama-lama teman Elena pada kepo semua.
"Ada kok. Nggak jauh dari sini. Sudah ya, aku duluan." Elena buru-buru pergi. Ia tidak mau menjawab sesi wawancara dari teman-temannya itu.
Elena pun berjalan sebiasa mungkin, meskipun sesungguhnya menahan perih saat melangkah. Ini gara-gara semalam. Tiba-tiba ia merasa malu bila mengingat kejadian semalam. Takut ada yang lihat, Elena pun bergegas masuk kelas.
Waktu istirahat
"Makan yuk, aku traktir!" ajak Fuji, teman baik Elena selama ini. Teman yang selalu rajin mentrakrik Elena.
"Thanks, aku nggak lapar."
"Udah sarapan di rumah?"
Elena mengangguk.
"Ya udinnn! Aku cabut dulu! Tadi hampir telat, jadi nggak sempet sarapan."
Setelah Fuji pergi, datang anak lain yang langsung duduk di atas meja.
"Dapat dari mana lo? Gebetan tajir yang tadi pagi?"
Elena tidak menjawab, ia memilih mengambil buku dan pura-pura baca.
"Heiii! Lo ada telinga, nggak?" maki teman Elena yang suka melakukan bullying.
"Maaf, aku mau belajar."
"Sialannn lo! Acuin kita-kita! Sombong amat! Baru dapat pria kaya dikit sudah belagu!" ejek para tim bullying.
"Nggak heran sih, makanya ibunya gonta-ganti suami!" cetus teman sekelas Elena dengan kasar.
"Jangan bawa-bawa orang tua!" Elena menatap tajam.
"Kenapa lo? Rusak ya rusak aja! Gusa muna, Lo!"
Elena menahan kesal, ia mencoba menahan diri agar tidak terpancing. Dan karena sudah jengah, akhirnya ia memutuskan pergi saja meninggalkan kelas.
"Eh ... lihat! Jalannya aneh gak kaya biasa!!! Gila tuh orang. Udah gak perawan lagi kayaknya."
"Mirip jalan elo pas itu, kan? Abis dari puncak tahun lalu?" celetuk salah satu dari mereka. Dan semua langsung terkekeh.
"Gila tuh Elena. Gue pikir gadis baik-baik. Oh My God ... sama aja kek gue!!"
"Wkwkwkwk"
Semua pun terkekeh, menertawakan sesuatu yang sangat miris tersebut.
Pulang sekolah
Pukul 2, setelah semua siswa keluar. Tinggal Elena yang masih membereskan perlengkapan tulisnya. Ia kesulitan merangkum tugas karena semua alat tulisnya tadi sempat disabotase oleh para anggota tim bullying.
KLEK
"Bagi kontak cowok yang tadi. Gue yakin service gue lebih okeh dari lo!" Gadis dengan rok paling pendek itu, langsung duduk di bangku dekat Elena.
"Kalian bicara apa? Minggir!" Elena sudah siap untuk pulang. Namun, teman-temannya yang seperti musuh itu malah menghalangi langkahnya.
"Pelit amat Lo! Teman-teman! Ambil ponselnya!" titah ketua tim bullying yang paling badung dan bar-bar.
Mata yang lentik itu pun langsung melotot, Elena tidak suka sampai barang milknya direbut paksa. Dengan kasar, Elena mendorong teman yang kini memegang ponselnya.
"Mana ponselnya!" teriak Elena yang sudah tidak tahan lagi karena temannya sudah sangat ketemu.
"Ponsel loh jadul banget! Sugar daddy lo aja naik mobil mewah ... pasti kaya raya. Yang pinter dikit, Maimunah."
"Kembaliin hpnya!" teriak Elena.
"Lo pegangi dia!" titah ketua geng. Dengan khusuk ia melihat panggilan yang sering dilakukan Elena.
"Dapat! Gue dapat. Oh ... Tuan Alung?" Gadis itu terkekeh.
Sementara Elena, ia merasa sangat marah karena privasinya dilangar begitu saja. Kesal, Elena menghempaskan tangan temannya yang sedang memeganginya erat.
"Aduh!" temannya itu sampai terbentur meja dan menatap Elena dengan marah.
"Gila lu!"
Bruakkk
Saling menendang, mendorong dan menyerang. Hingga akhirnya para gadis-gadis itu pun mengeroyok Elena. Satu lawan beberapa, jelas Elena kalah.
Beruntung Fuji tiba, gadis itu sebenarnya sudah sampai halaman, sudah naik motor mau pulang. Tapi, temannya bilang ada keributan di kelas. Sepertinya Elena dibully. Dengan cepat, Fuji meletakkan motornya di sembarang tempat. Ia bergegas menuju kelas.
"BUKA!!!" teriak Fuji di depan kelas.
Para pembully terlihat kocar-kacir sibuk mencari jalan untuk kabur. Mereka lari lewat jendela sisi yang sebelahnya lagi, meninggalkan Elena di sudut ruangan dengan wajah yang sudah memar. Bersambung.