
Mencari Daddy Bag. 24
Oleh Sept
Rate 18 +
Suasana haru masih kentara di ruang persalinan, bagaimana pun juga Gara bukankah ayah biologist dari bayi tersebut. Namun, caranya memperlakukan Kanina dan bayi itu, membuat dokter dan para tim medis salah paham. Tidak ada yang meragukan bahwa Gara bukan suami Kanina. Dan seolah Gara tidak ingin memberikan konfirmasi, bahwa ia hanya pria yang kebetulan menolong gadis itu.
Biarlah kesalahpahaman terjadi, Gara pikir, bila orang-orang tahu Kanina hamil di luar nikah, melahirkan tanpa suami, pasti orang-orang akan menatap dengan tatapan yang berbeda. Seakan-akan melindungi Kanina dari pandangan miring, biarlah orang-orang itu salah paham.
"Selamat ya, Pak. Putranya ganteng."
Gara hanya tersenyum tipis, saat semua tenaga medis mengucap selamat atas kelahiran bayi tersebut. Meskipun bukan bayinya, Gara membalas semua ucapan itu dengan senyum ramah.
Lalu bagaimana dengan mamanya? Bu Sadewo nampak biasa saja. Ia sekarang malah berpikir, lalu kedepannya akan bagaimana? Apa ia lepas Kanina dari rumahnya? Tapi kasihan, anaknya masih bayi. Kalau balik ke kampung pasti dapat gunjingan. Dan tidak baik bagi jiwanya karena baru saja melahirkan. Ah bu Sadewo galau, apalagi dilihatnya Gara yang sejak tadi menatap bayi itu dengan antusias.
Putranya seolah sudah tersihir pada anak Kanina tersebut, bahkan Gara yang mengadzani bayi itu. Bu Sadewo jadi galau sendiri, bingun nanti ceritanya jadi bagaimana.
***
Tiga hari kemudian
"Terima kasih, Tante. Sudah menolong Kanina selama ini. Maaf jika selama ini Kanina membebani keluarga Tante."
"Ngomongin apa kamu, Nin. Sesama manusia kan memang harus saling menolong." Bu Sadewo yang datang menjenguk Kanina dan bayinya tidak tahu niatan Kanina yang mau pamit pergi.
"Maaf belum bisa membalas kebaikan kalian semua."
"Sudahlah, jangan mikir macan-macam. Kamu sehat saja bagi kami sudah alhamdulillah."
Kanina tidak bisa berkata-kata, mereka benar-benar orang baik. Entah harus balas budi yang bagaimana. Tapi ia tidak ingin menjadi beban keluarga itu. Kanina berniat pergi diam-diam.
Esok harinya.
Masih pagi, sekitar pukul tujuh. Bu Sadewo sudah tiba di sana sambil membawa makanan untuk Kanina, sedangkan Gara. Katanya sebentar lagi ke sana. Nanti kalau agak siangan sedikit, karena kebetulan harus mengawasi beberapa titik proyek yang akhir-akhir ini ia abaikan karena fokus di rumah sakit.
"Sus, pasien atas nama Kanina mana? Kenapa kamarnya kosong?"
Bu Sadewo bingung, kamar Kanina tidak berpenghuni dan ranjang bayi juga kosong.
"Benarkah, Bu? Tadi pagi-pagi sekali waktu saya ke ruangan, masih ada kok. Malah saya yang ganti infusnya."
Panik, feeling-nya mengatakan bahwa Kanina kabur. Maka bu Sadewo langsung menghubungi putranya.
"Gara!!! Nina kabur ... Nina hilang. Cepet kamu ke rumah sakit. Sepertinya belum pergi jauh."
"Loh, Ma ... kok bisa begitu?" Gara yang kala itu masih di lokasi pembangunan sebuah jembatan panjang antar kabupaten, langsung melepaskan helm proyek yang ia kenakan. Menyerah benda itu pada rekan di sampingnya.
"Saya harus balik, ada urusan penting. Maaf."
Gara yang kala itu panik, langsung menuju mobilnya. Ia bergegas menuju rumah sakit.
"Kaninaaa!" gumamnya.
***
Saat mobil yang ditumpangi Gara menuju rumah sakit, ia melewati sebuah halte bus yang tidak jauh dari rumah sakit tersebut. Tanpa sengaja, matanya menatap sosok Kanina yang duduk sambil mengendong bayi yang baru lahir ke dunia itu.
"Ya Allah, Kanina!"
Gara langsung putar balik, ia berhenti tepat di halter tersebut. Beberapa orang memperhatikan dirinya. Apa lagi saat ia berdiri tepat di depan Kanina.
"Mau ke mana?"
Kanina mendongak, hampir saja ia terkejut. Di tatapnya pria yang selama ini baik padanya, hingga ia merasa sungkan sendiri. Tidak enak karena selalu merepotkan.
"Mau pulang, Mas."
"Pulang ke mana?"
"Ke rumah ibuk," jawab Kanina bohong. Padahal tidak tahu mau tinggal di mana.
"Yakin? Bagaimana bila penduduk desa tidak mau menerimamu? Bagaimana kalau mereka tidak mau mendengar penjelasan darimu?"
Kanina hanya menundukkan wajah.
Oek Oek
Bayi itu malah menangis, mungkin ikatan batin yang kuat dengan sang ibu. Ketika hati ibunya sedih dan gelisah, sang bayi juga memiliki perasaan yang sama.
"Sudah Mbak ... ikuti saja suaminya. Jangan marah terlalu lama. Kasihan bayinya," celetuk orang yang berdiri tidak jauh dari sana. Sejak tadi ia memperhatikan Kanina dan bayinya.
Karen bayinya terus menangis, akhirnya Kanina ikut. Sebenarnya dia tidak memiliki tempat dan tujuan lagi, tapi bagaimana? Masa sudah melahirkan masih saja menyusahkan?
"Apa kamu tidak merasa nyaman lagi tinggal di rumah?" tanya Gara sambil mengemudi.
Diliriknya Kanina yang masih menundukkan wajahnya sambil memupuk bayinya agar tenang.
"Dia pasti lapar, mungkin butuh ASI."
Setelah mengatakan hal itu, Gara jadi tidak enak sendiri. Suasana di dalam mobil langsung canggung.
Pasti Kanina malu, mau memberikan ASI pada bayi itu di depan Gara, pria yang bukan siapa-siapanya.
Chittt
Mobil itu tiba-tiba berhenti di tepi jalan.
"Berikan ASI dulu, saya akan turun."
KLEK
Gara benar-benar keluar, ia menunggu di luar sampai Kanina selesai membuat bayi itu merasa kenyang. Dan benar saja, sepuluh menit kemudian bayinya yang sejak tadi menangis langsung terdiam.
"Mas!" panggil Kanina sambil membuka kaca mobil.
"Sudah?"
Kanina mengangguk pelan.
Akhirnya Gara masuk mobil lagi, sambil memakai headset, ia mau menelpon mamanya. Pasti mamanya itu khawatir.
"Ma ... Gara sudah ketemu Kanina, Gara langsung antar pulang ya."
"Alhamdulillah, syukurlah ... ketemu di mana?"
"Dekat rumah sakit, sudah ya, Ma. Sekarang Gara menuju rumah."
"Iya, Mama langsung tunggu kalian di rumah."
"Mama langsung saja ke rumah Gara, Gara mau bawa Kanina ke sana."
"Loh?"
"Sudah ya, Ma. Gara lagi nyetir."
"Eh ... iya ... iya. Hati-hati."
"Iya! Assalamu'alikum."
"Wa'alaikusalam."
Tut Tut Tut
"Kita ke rumah saya yang sebelumnya, mungkin kamu lebih nyaman di situ."
Kanina menoleh sejenak, kemudian ikut saja apa kata pria tersebut.
Perubahan Sun City
Masih sepi, tapi bangunan di sana cukup ramai. Banyak dalam tahap renovasi. Dan Kanina tidak tahu, kalau rumah Gara ternyata sudah dipasang pagar. Terasnya pun sudah rapi, padahal dulu masih setengah jadi.
"Ayo masuk!"
Gara membuka pagar rumahnya lebar-lebar.
"Pagi pak Gara! Eh ... istrinya Pak Gara? Habis melahirkan ya?"
Tanya wanita paruh baya yang kesehariannya keliling kompleks untuk menjajakan sayur segar setiap pagi. Ia memperhatikan gelang rumah sakit yang masih terpasang di tangan Kanina.
"Iya, mari Buk. Permisi, kami masuk dulu," jawab Gara cepat. Gara pun masuk dan menutup pagar rumahnya.
"Akhirnya nikah juga, istrinya kelihatan sangat muda. Oalah ... seleranya Pak Gara daun pucuk, toh?" Kang sayur itu kemudian tersenyum tipis sambil meneruskan keliling kompleks.
Sudah pasti kabar Gara yang istrinya baru melahirkan langsung booming di kompleks perumaahan tersebut. Benar-benar media paling cepat, dari mulut ke mulut. Bersambung.