
Mencari Daddy Bag. 74
Oleh Sept
Rate 18 +
Sinar mentari terasa hangat menerpa kulit wajah seorang pria yang sedang terlelap. Kelopak matanya bergerak-gerak, mungkin sedikit merasa silau. Hingga tangannya terangkat, menutup sebagian matanya.
Pria tampan itu membuka matanya perlahan, menatap langit-langit kamar. Suasana di dalam ruangan itu sangat sepi. Ia kemudinya melirik ke sebelah. Kosong, mungkin Elena sudah bangun pagi-pagi sekali.
Bibirnya tiba-tiba mengembang, kilas balik kejadian semalam masih terlihat jelas dalam benaknya. Malam panassss mereka semalam, rupanya Alung masih terbayang-bayang kejadian itu. Sembari tersenyum tipis, ia turun dari ranjang dan meraih handuk.
***
Suasana sarapan pagi ini nampak begitu canggung. Elena memang belum menyapa suaminya sejak bangun tidur. Karena pagi-pagi buta ia langsung mandi dan pindah ke kamar adiknya yang masih bayi itu. Sekarang, Elena sudah siap dengan seragam SMK miliknya. Sesuai rencana, wanita muda itu akan kembali ke bangku sekolah. Karena adiknya sudah ada mbak Ani. Baby sitter yang akan menjaga bayi itu selama Elena sekolah.
"Bangun jam berapa tadi?" tanya pria itu sambil menyesap kopi buatan Bibi. Meskipun matanya melihat iPad. Namun, sebenarnya Alung mencuri pandang pada istri kecilnya itu.
"Jam empat," jawab Elena singkat kemudian memasukkan sendok ke dalam mulutnya. Ia makan pagi dengan perasaan tidak tenang. Elena tahu betul kalau Alung sedang mengamati dirinya.
Karena sarapannya sudah habis, Elena pun beranjak dari tempat duduk. Ia kemudian meraih tas ransel warna hitam yang diletakkan di kursi sebelahnya. Terlihat sedikit buluk Dan Alung sempat memperhatikan hal itu.
"Aku antar."
Elena menoleh, menatap suaminya.
"Nggak usah, Tuan ... naik ojek saja." Elena canggung kalau harus diantar oleh suaminya itu. Lebih baik naik ojek dari pada satu mobil. Bisa-bisa ia mati karena menahan malu.
"Aku ambil kunci dulu!" Alung seolah tidak peduli dengan penolakan Elena. Ia berjalan masuk ke kamar, mengambil kunci.
Sesaat kemudian, Alung datang sedang kunci serta tas di tangan. Sepertinya ia juga langsung ke kantor sekalian.
"Ayo ...!"
Elena seolah berat mau diantar ke sekolah oleh suaminya. Akhirnya, setelah mengusap pipi baby Gavi, Elena pun ikut keluar bersama Alung.
"Masuklah!"
Masih canggung, Elena lantas masuk mobil. Sepanjang jalan, mereka hanya menikmati alunan music.
"Nanti pulang jam berapa?"
Pertanyaan Alung membuat Elena sadar dari lamunannya.
"Apa?"
"Nanti pulang jam berapa?" ulang pria itu sekali lagi.
"Jam dua."
"Naik taksi, jangan naik ojek."
Elena mengangguk pelan.
"Pakai ini."
"Buat apa ini, Tuan?" Elena menolak. Ia mendorong tangan Alung.
"Kita sudah menikah, anggap saja ini uang jajan. Dan lagi apa itu ... jangan panggil tuan. Aku kira sudah mengatakannya berulang kali."
"Emm ..."
"Pakai sesukamu. Beli apa saja yang kamu mau."
"Ini saja, yang ini tidak usah."
Elena hanya mengambil selembar kertas warna pink itu, buat ongkos taksi nanti. Dan ia melepas lembar uang yang lain serta kartu yang diberikan oleh suaminya.
Melihat sikap Elena, Alung tersenyum tipis. Masih ada wanita di luar sana yang tidak doyan duit?
"Pakai saja! Anggap ini perintah."
"Perintah? Suruh ngabisin duit? Perintah apaan?" batin Elena. Ia pun mengangkat wajahnya sedikit. Menatap Alung dengan tatapan aneh.
"Jangan menatap seperti itu, nanti jatuhnya kamu tidak sekolah."
Buru-buru Elena memalingkan wajah. Huh! Alung membuat jantungnya hampir copot lagi.
Melihat Elena yang salah tingkah dengan begitu manis. Alung malah iseng dan bertanya.
"Masih sakit tidak?"
"Aduh!" pekik Elena dalam hati. Sebenarnya sejak tadi ia tahan. Karena jujur, mungkin sampai seminggu perihnya nggak akan ilang.
Melihat Elena yang tidak mampu mengangkat wajah karena pasti malu, Alung pun kembali melajukan mobilnya. Pria itu menyetir sembari menahan senyum.
WUSHHHH
***
Mobil yang dikendarai oleh Alung berhenti tepat di sebelah gerbang sebuah gedung sekolahan, beberapa anak sebaya Elena memperhatikan siapa yang bakal keluar dari mobil limited edition tersebut.
"Guru baru ya?" celoteh siswi sambil bisik-bisik pada temennya.
"Guru PPL paling."
"Mobilnya bagus."
"Pasti keluarga tajir."
KLEK
Elena turun dari mobil mewah tersebut, hal itu membuat sebagian yang mengenal Elena terhenyak. Salah satu diantara mereka bahkan dengan iri mulai mencibir.
"Astaga! PD sekali diantar sugar daddy!" Bersambung.