Single Mother

Single Mother
Mencuri Kesempatan



Mencari Daddy  Bag. 50


Oleh Sept


Rate 18 +


"Eh ... Mau ngapain? Nanti Altar nyariin, Mas." Kanina memutar bola matanya, ia sedikit panik saat Gara sudah sangat dekat dengannya. Pakai acara menutup korden segala, jangan-jangan Gara minta jatah sekarang. Waduh, mana masih pagi, di rumah mertua lagi. Benar-benar uji nyali. Kalau kebetulan anankya nyari? Kan gawat.


"Sebentar aja, kamunya sih. Mancing-mancing." Gara malah menyalahkan Kanina. Habisnya Kanina yang mulai tium-tium, kan bukan salah Gara jadi kebawa suasana.


"Aduh, nanti saja di rumah." Kanina memalingkan wajah, menepis wajah Gara yang sudah menempel pada lehernya.


"Ish, mana bisa nanti?"


Cup


Kanina pun tak bisa berkutik lagi, kalau Gara sudah meminta biasanya ia akan patuh. Gara sampai pernah bertanya, mengapa Kanina tidak pernah meminta duluan. Dan jawabannya sangat singkat, malu.


Lalu, apa sekarang Kanina juga masih merasa malu? Sepertinya malunya hilang kalau Gara mulai beraksi. Hanya malu di awal, karena menit berikutnya Kanina yang malah memimpin.


5 menit kemudian


Tok tok tok


"Nin ... bawa ganti tidak? Ini Altar bajunya basah ketumpahan jus." Bu Sadewo sedang menunggu di depan pintu kamar Gara tanpa curiga. Sedangkan Kanina, ia langsung turun dari tubuh suaminya.


Gara terkekeh melihat wajah polos Kanina, wanita itu buru-buru memakai bajunya lagi.


"Iya, Ma. Bentar!"


Kanina mengantur napas, kemudian mengambil baju ganti untuk Altar. Sambil berjalan menuju pintu, ia merapikan bajunya yang kusut. Dan tidak lupa menarik selimut untuk menutupi Gara yang begitu santainya tanpa mengenakan apa-apa.


KLEK


"Ini, Ma." Kanina membuka sedikit pintunya.


"Mana Gara?" tanya bu Sadewo dengan berbisik.


"Ada ..." Kanina tidak bisa berkata-kata, hanya melipat bibir. Terlihat gugup dan canggung.


Bu Sadewo juga mengamati Kanina, kenapa rambutnya berantakan, dan kancing bajunya ada yang tidak sesuai.


"Oh ... ya sudah lanjutkan!"


Kanina menutup matanya rapat-rapat, malu sekali. Sepertimu sang mertua tahu apa yang sedang keduanya lakukan.


KLEK


"Hahahaha!" Gara menertawakan ekpresi Kanina. "Kenapa seperti cumi rebus begitu?"


Kanina pun duduk dengan lemas di bibir ranjang. Masih sempat juga sang suami meledek. Padahal, baru saja keciduk sang mama.


Srakkkkk


Gara melempar selimutnya. Kemudian menatap Kanina.


"Naik! Lanjut!"


Kanina langsung bengong, astagaaa. Masih sempat-sempatnya on fire. Mungkin karena nyuri-nyuri waktu. Jadi sangat menantang dan menegangkan.


***


Beberapa saat kemudian


Terdengar derap langkah orang yang menuruni tangga, bu Sadewo yang paham betul apa yang terjadi di lantai atas langsung nyeletuk.


"Seger banget, Gar!"


Gara hanya melempar senyum pada mamanya. Mama yang selalu ada di pihaknya. Mama yang selalu mendukung keputusan Gara. Dari pada dengan papanya, Gara memang lebih dekat dengan mamanya tersebut.


Sedangkan Gendis yang baru datang dari luar, habis mengantar Dika pulang sampai halaman. Ia melirik wajah sumringah abangnya. Padahal tadi terlihat suntuk dan bete. Kok sekarang ceria banget. Gendis tidak tahu, abangnya habis suntik vitamin. Hahaha


Tidak lama kemudian, Kanina muncul tentunya dengan rambut yang masih basah. Melihat hal itu, bu Sadewo langsung ingat sesuatu.


"Oh iya, Mama lupa. Kemarin Mama pinjem hair dryer dari kamarmu, Nin. Mama lupa balikin."


Kaki Kanina langsung mengerem mendadak, karena semua mata kini tertuju pada rambutnya yang basah. Aduh! Malu.


Sementara itu, Gendis harus menahan rasa dongkolnya. Jari-jarinya menekuk dan merapat, menyatu menjadi sebuah kepalan.


***


Singapore


Di sebuah rumah sakit terbaik di negara tersebut. Alung sedang berbicara dengan wajah serius pada seorang wanita yang masih memakai baju pasien.


"Maafin Alung, Ma!" ucap Alung dengan serak. Ada nada penyesalan dalam kata-kata pria itu.


Mama Ami yang kini sudah pulih karena berbagai pengobatan di luar negri, memeluk tubuh putranya.


"Kenapa kamu jahat sekali, ya Tuhan ... pasti gadis itu menderita sekali."


Ternyata, Alung baru saja menceritakan segalanya pada sang Mama. Setelah Mama Ami betul-betul sehat, Alung memutuskan memberitahu kejahatan apa yang ia lakukan di masa lalu. Apalagi tindakan Alung menghasilkan anak, mama Ami benar-benar tidak menyangka.


"Berapa usia anak itu?" Alung kemudian mengulurkan ponselnya. Ternyata selama ini ia menyuruh orang untuk sesekali memata-matai dan mengambil gambar Altar tanpa ijin. Sebab, bila terang-terangan pasti akan diusir.


"Sudah besar?" Mama Ami terlihat serius menatap potret cucunya untuk pertama kali.


"Mau 4 tahun, Ma," jawab Alung dengan senyum getir. Empat tahun ia hanya bisa melihat gambar putranya dengan diam-diam.


"Mama mau pulang, antar Mama ke sana."


Bersambung.


Fb : Sept September


Ig : Sept_September2020


Baca juga novel Sept yang lain ya ...


Rahim Bayaran


suamiku Pria Tulen


Dea I Love you


ISTRI Gelap Presdir


kesetiaan Cinta


menikahi Majikan


Wanita Pilihan CEO


Terima kasih