Single Mother

Single Mother
Dengan Syarat



Mencari Daddy  Bag. 52


Oleh Sept


Rate 18 +


Suasana kediaman Anggara kembali menegang, selain karena kunjungan tiba-tiba Alung serta mama Ami, ini karena Kanina mendadak jatuh pingsan.


Mbak Roh yang sempat bersembunyi, langsung keluar saat Gara memanggil. Dengan panik ia langsung menghampiri Kanina yang dibaringkan di sofa.


Sedangkan Alung dan mamanya, keduanya menatap Altar yang merengek karena sang mama tidak bangun.


"Ma ... Mamaaa!" Altar menarik-narik baju mamanya. Anak itu kembali diam dan tenang saat Mbak Roh meraih tubuh kecil itu dan menggendongnya.


Mama Ami mendekat, ia melihat Altar dari dekat. Benar-benar miniature Alung saat kecil dulu. "Mengapa begitu mirip?" batin mama Ami. Dari sana ia sangat yakin sekali, bahwa Altar adalah cucunya.


Beberapa saat kemudian


Terlihat bu bidan yang kebetulan tinggal di dekat sana, keluar dari kamar Kanina. Wanita berwajah ramah itu tersenyum sembari mengucap selamat para Gara.


"Selamat ya, Mas Gara. Mbak Kanina hamil lagi."


Bola mata pria itu menajam, alusnya mengkerut. Tunggu, apa dia tidak salah dengar? Ingin meyakinkan dirinya sendiri. Gara spontan bertanya.


"Istri saya hamil?" tanya Gara seolah tidak yakin.


Bidan itu mengangguk sembari melempar senyum khasnya.


KLEK


Gara langsung masuk kamar, dilihatnya Kanina yang sudah siuman. Istrinya itu kini menatapnya dengan intense, "Cepatlah mendekat! Peluk aku, aku sudah hamil anakmu. Aku hampir cemas menunggu kabar bahagia ini. Aku pikir, aku tidak bisa hamil lagi," batin Kanina.


"Kamu hamil, Nin?"


Kanina mengangguk.


Gara lantas memeluk Kanina, rasanya tidak bisa digambarkan dengan kata-kata. Ia masih belum percaya. Setelah 1000 malam lebih, akhirnya ada satu malam yang benar-benar membuatnya berhasil. Akhirnya kecebong itu berhasil membuat Kanina hamil.


Hampir saja ia putus asa, jangan-jangan ia diciptakan tidak bisa memilih anak. Jangan-jangan ia mandulll. Hampir saja ia berprasangka buruk pada yang di atas.


Ketika Gara sedang gembira menyambut kabar kehamilan sang istri, di ruang tamu suasana masih terlihat kaku. Bu Lastri yang tadi di luar sudah ada di dalam rumah, kini ia memangku Altar yang sejak tadi ingin turun.


Sementara Alung dan mamanya, menahan diri sedari tadi. Terutama mama Ami, ia ingin menggendong Altar, tapi anak itu tidak mau. Mungkin karena merasa sosok itu sangat asing.


Sedangkan Alung, ia memiliki cara lain. Ia mengeluarkan ponselnya, memutar video di YT. Kemudian memperlihatkan pada Altar. Pintar sekali Alung mengalihkan perhatian Altar, karena anak itu mendekat dan kini melihat ponsel Alung yang di letakkan di atas meja.


Anak kecil itu ikut bernyanyi sesuai video yang diperlihatkan oleh sang Ayah. Tidak hanya suka mencuri foto sang anak, Alung rupanya juga menyuruh anak butanya mencari tahu, tentang apa yang disukai anak kecil itu.


Saat Altar sibuk dengan ponsel milik Daddy-nya. Alung keluar sebentar, ada sesuatu yang mau ia ambil di dalam mobil. Sesaat kemudian pria itu muncul dengan membawa sebuah kardus cukup besar.


"Buat Altar."


Altar langsung meletakkan smartphone milik Daddy-nya. Dengan antusias bocah umur empat tahun itu mengeluarkan semua yang ada dalam kardus. Isinya semua mainan yang masih terbungkus rapi, mainan yang Alung beli selama ini. Namun, tidak pernah ada kesempatan untuk memberikannya.


KLEK


Alung menoleh, semua orang menunggu reaksi Gara. Apa ia akan diam saja atau memperbolehkan Alung dan keluarganya berbagi kasih pada Altar?


Mbak Roh sampai menelan ludah, bagaimana kalau Gara tidak terima. Begitu juga bu Lastri, ia khawatir sekali. Nanti rumah tangga putrinya terkena masalah.


"Maaf, mungkin saya lancang. Tapi saya hanya ingin memberikan ini. Dan bertemu Altar."


Gara diam sesaat, kemudian Altar berdiri dan berjalan ke arahan. Anak itu menarik lengan papanya.


"Paa ... Ayo main robot! Al punya robot baru, dibelikan Om."


Nyess


Entah mengapa, dipanggil Om oleh anak sendiri hati Alung merasa tidak enak. Ya, sudahlah. Mungkin hukuman untuknya belum berakhir. Apalagi menyaksikan kedekatan Gara pada putranya. Sangat dekat, mereka bahkan seperti ayah dan anak kandung.


"Boleh, kami ke sini lagi?" sela Mama Ami.


Semua orang menunggu keputusan Gara. Sedangkan Gara, ia menoleh. Pria itu melirik ke dalam kamar. Pintunya masih terbuka separuh. Dilihatnya Kanina yang juga menatapnya. Semua terserah Kanina, apa ia masih takut bila ada Alung di sekitarnya?


Ternyata Kanina mengangguk pelan, kemudian Gara pun berbalik. Menatap Alung dan ibunya secara bergantian.


"Boleh, tapi kalau saya lagi di rumah." Bersambung.