Single Mother

Single Mother
Kari Sepur (Terlambat)



Mencari Daddy  Bag. 34


Oleh Sept


Rate 18 +


"Jadi benar ini rumahnya?" Rafi muncul, sekretaris Alung tersebut rupanya ikut serta dengan sang atasan.


"Tapi rumah ini sudah kosong, Mas." Tetangga Kanina tersebut lebih memilih menatap Alung, padahal yang bicara tadi adalah pak Rafi.


"Maaf, kalau boleh tahu. Mereka sekarang tinggal di mana?" ucap Alung kemudian.


Tetangga Kanina tersebut pun memberikan alamat rumah mbak Roh. Sembari meminta pulpen dan kertas. Agar ia tulis lengkap dan arah-arahannya.


"Terima kasih."


"Sama-sama ... Emm ... Kalau boleh tahu Mas itu siapa ya? Bulan lalu juga ada mas-mas datang ke sini bersama Kanina. Kok banyak sekali pria-pria yang bersama dia, langanan di kota ya, Mas?" celetuk tetangga Kanina sembari melirik mobil Alung yang menyilaukan mata karena pantulan sinar matahari.


Alung mengeryitkan dahi, tidak mengerti maksud pembicaraan wanita tersebut.


"Jangan tersinggung, Mas. Kanina sudah terkenal kok kerja aneh-aneh di Jakarta. Saya sih tidak percaya mulanya, tapi pas pulang-pulang dia hamil. Nah ... hampir saja ia diusir warga. Barangkali malu, Kanina malah kabur."


Alung langsung menelan ludah. Saat ia kemarin mengorek informasi pada Dita, gadis itu tidak berkata apa-apa. Dita malah terlihat sangat marah dan enggan bicara padanya. Karena pintarnya ia bernegoisasi, akhirnya ia bisa meminta alamat kampung Kanina. Ia bilang ingin meminta maaf, dan menyesal atas apa yang terjadi.


Sekarang, Alung shock. Mendengar kabar bahwa pulang dari kota Kanina malah hamil. Jangan-jangan itu adalah ... Ia pun langsung masuk mobil.


"Ayo, Pak." Alung tidak sabar mencari gadis yang ia nodai malam itu.


Sedangkan Pak Rafi, pria itu pun mengucapkan terima kasih dan pergi.


"Tolong cepat sedikit!"


"Baik, Tuan."


Sementara itu, tetangga Kanina yang tadi ditanya Alung, langsung didatangi beberapa ibu-ibu sekitar.


"Eh ... siapa itu, Lik?"


"Sepertinya langanan Kanina."


"Astaghfirullahaladzim!" pekik salah satu dari mereka.


"Gak nyangka ya, anak kalem. Pendiam kayak gitu ternyata rusak parah."


"Cih ... paling juga pingin makan enak tidur enak. Beli tas branded, sepatu mahal, jam mahal ... dah, dijual apa aja yang bisa untuk membeli semua itu."


"Waduh, jangan gitu, Bu. Pamali, nanti omongan kena keluarga sendiri." Nasehat ibu yang sedikit alim.


"Saya kan bicara fakta, lagian pria tadi buktinya!" ucapnya dengan yakin.


"Sudah ... sudah. Saya mau lanjutin jemur pakaian dulu. Mendung nanti malah nggak kering."


"Saya juga mau masak, belom masak. Nanti suami marah."


Semua geng gibah pun membuyarkan diri masing-masing. Menuju rumah mereka, mengakhiri kegiatan yang unfaedah tersebut.


***


Mobil Alung sudah berhenti tepat di alamat yang ditulis oleh tetangga Kanina. Mereka bingung karena rumah itu juga kosong.


"Cari siapa, Mas?" tanya warga yang sekampung dengan mbak Roh yang kebetulan mau berangkat ke sawah.


"Betul ini rumah Kanina dan ibunya?"


"Bukan, Pak. Itu rumah mbak Roh."


Alis Alung langsung menungkik tajam.


"Siapa, Sri?" tanya pengendara sepeda ontel yang kebetulan lewat.


"Nyari rumah Kanina, Bu," jawab tetangga mbak Roh.


"Ya ini rumahnya, Sri. Kanina itu anaknya bu Lastri yang tinggal sama mbak Roh."


"Oh ...!"


"Maaf, Bu. Kalau boleh tahu, Kanina sekarang ada di mana?"


"Awalah, Mas pasti tamu undangan yang nyasar ya? Di masjid besar, Mas. Coba Mas jalan lurus, nanti ketemu masiid kubah emas. Nah, acaranya ada di sana."


"Maaf, acara apa maksudnya?"


"Loh, bukannya Mas mau menghadiri acara ijab kabul Kanina dan calon suaminya?" Bersambung