Single Mother

Single Mother
Indahnya Cintaku



Mencari Daddy  Bag. 88


Oleh Sept


Rate 18 +


"Kalian pergi aja, tenang ... Gavi aman sama Mama." Mama Ami memeluk Elena yang terlihat berat menitipkan Gavi pada mertuanya itu.


"Makasih, Ma." Ganti Alung yang memeluk wanita yang sudah ia janjikan cucu tersebut.


"Pulang bawa garis dua, ya?" canda Mama Ami.


"Masih muda banget, Ma. Kasian juga kalau hamil," sanggah Alung.


"Lah ... kamu ajak Elena honeymoon lalu ngapain, Lung? Dokter-dokteran?" sindir mama Ami dengan nada bercanda.


Elena langsung tersenyum canggung, sedangkan Alung, pria itu merangkul bahu Elena di depan mamanya.


"Rejeki kan gak boleh ditolak, Ma."


"Ish!"


Alung hanya tersenyum tipis melihat reaksi sang mama.


"Ya sudah, titip Gavi, Ma."


"Iya ... hati-hati kalian. Tenang saja, mama bawa Gavi dan Ani nanti ke rumah Mama."


"Makasih, Ma." Elena kembali menatap Gavi yang sedang dalam gendongan mama mertuanya. Seolah enggan meninggalkan anak itu.


"Udah, nanti ketingalan pesawat. Lagian itu Pak Rafi seprertinya sudah menunggu kalian dari tadi."


"Hemm ..."


"Dah .... Ma."


***


Di sebuah Bandara, Pak Rafi sedang melepas kepergian atasannya untuk berbulan madu.


"Kalau ada masalah di kantor, jangan hubungi saya, Pak." Bunyi pesan Alung membuat Pak Rafi wajahnya langsung masam.


"Baik, Tuan."


"Tunggu saya hubungi, baru nanti kita bahasa urusan kantor."


"Baik, Tuan."


"Ya sudah. Terima kasih. Kami pergi dulu."


***


Jika ditanya kapan hari paling bahagia dalam hidup pria seperti Alung, mungkin ia akan menjawab hari ini. Ya, hari di mana ia berjalan beriringan dengan seorang wanita yang membuat hatinya luluh. Wanita yang begitu cepat masuk ke dalam hatinya tanpa ia tahu siapa dia. Karena bagi Alung, Elena hanya seseorang yang tiba-tiba masuk dalam hatinya. Bertahan lama di sana, dan seperti candu. Ia tidak bisa jauh-jauh dari wanita muda yang sangat belia itu.


BYURRR


Deburan ombak yang menerpa kakinya yang panjang, membuat pria itu sadar dari lamunannya. Dinginnya air laut, terpaan angin pantai yang semiliri, menambah syahdu moment bulan madu keduanya. Di atas hamparan pasir yang membentang, keduanya berjalan. Sesekali berkejaran, bersama ombak yang datang.


"Awas!!!" pekik Alung ketika melihat ombak datang dan menerpa Elena.


BYURRR


Elena basah kuyup, sedangkan Alung sempat mundur menjauh.


"Ke mari!" seru Alung sambil melepas kaus yang ia kenakan. Begitu Elena datang mendekat, ia menempelkan baju yang semula ia pakai. Rasanya tidak rela melihat lukisan alam itu terekspos.


"Nggak usah, nggak dingin kok. Elena nggak apa-apa."


"Aku yang kenapa-kenapa kalau lihat beginian!" Alung menyeringai dan membuat Elena langsung memeluk tubuhnya sendiri.


Melihat reaksi Elena, Alung kemudian terkekeh. Pria itu lalu menggandeng tangan Elena. Mereka kembali menyusuri pantai pasir putih yang membentang sepanjang jalan kenangan.


"Kita balik, ya?"


"Kenapa? Sudah capek?"


"Nggak ... habisnya nggak pakai baju." Elena menatap suaminya yang hanya pakai celana pendek.


"Nggak apa-apa, eh ... ada pondok di situ. Ayo ke sana."


Elena pun mengikuti ke mana suaminya membawa ia melangkah. Akhirnya keduanya bisa duduk santai di dalam pondok sederhana dengan atap daun kelapa.


"Cantik ya pantainya."


Elena mengangguk sambil memberikan kaos milik suaminya.


"Ini kasusnya."


"Jangan menggodaku ya, Elena! Nanti aja di kamar."


Elena memutar bola matanya, ia bingung karena merasa sedang tidak menggoda suaminya itu.


"Pakai lagi!" seru Alung menepis tangan Elena yang memberikan kaos miliknya.


Astaga, Elena hanya bisa geleng-geleng. Hanya karena memakai pakaian basah di depan suaminya, itu pun karena tidak sengaja, masa dikatakan menggoda. Bagaimana kalau tidak memakai apa-apa? Bisa-bisa tuduhannya berlapis. Hahahaha Bersambung.