
Mencari Daddy Bag. 42
Oleh Sept
Rate 18 +
Dunia Gendis semakin hancur lebur, ketika pria yang paling sayang padanya selama ini menampar pipinya. Hatinya sakit, bukan karena tamparan sang kakak, tapi sakit karena sang kakak membela Kanina dengan sebegitunya. Hingga rela menampar adiknya sendiri yang hidup bertahun-tahun dengannya.
Kecewa, gadis itu langsung keluar dari kamar. Ia berlari sembari mengusap pipinya yang basah. Sedangkan Gara, ia tertegun sembari melihat tangannya. Tangan yang biasanya membelai Gendis, kini malah melukai gadis itu.
"Ndis!!!"
Teriaknya ketika mendengar deru mobil yang semakin menjauh.
"Loh ... Gendis ke mana lagi?"
"Ma, Gara cari dia dulu." Gara pun langsung pergi tanpa bicara apapun pada sang mama.
***
Di jalanan yang padat merayap, karena masih pagi, semua kendaraan pun tumpah ruah di jalanan utama. Terlihat Gendis menyetir dengan emosional. Ia mengkalson tiap mobil yang menghalangi jalannya.
Tin tin tin
Gendis melakukan secara berulang, hingga membuat beberapa pengguna membuka kaca mobil dan memarahi dirinya. Makin sakitlah hati Gendis, ia menyetir sambil menangis. Hingga nekad, ketika berada di lampu merah. Dan saat mobil harus berhenti, dengan sengaja ia menjalankan kendaraan yang ia kendarai tersebut.
BRUAKKK
***
Jakarta
Di sebuah ruangan yang dingin, sedingin hati pria yang sedang berdiri menatap pemandangan gedung di luar sana.
"Tuan, ini informasi yang Tuan minta."
Alung menoleh, kemudian menuju meja. Di mana Pak Rafi sudah meletakan hasil pemeriskaan pria tersebut.
"Terima kasih," ucap Alung tanpa ekspresi.
Pak Rafi pun mengangguk dan meninggalkan ruangan itu. Setelah tidak ada seorang pun di sana, Alung mencoba membaca informasi itu dengan seksama.
Ia memejamkan mata sejenak, kemudian kembali mengingat kejadian malam itu. Betapa sadisnya ia dulu. Alung merasa pasti sulit bagi gadis bernama Kanina itu menjalani masa-masa sulitnya.
Cukup lama ia bergelut dengan kenyataan yang baru ia ketahui. Tentang kelahiran seorang putra tanpa ayah. Salinan catatan kelahiran Altar yang hanya tertera nama ibunya, membuat Alung yakin. Itu pasti hasil dari perbuatannya dahulu.
Lalu ia harus bagaimana? Apalagi Kanina sudah menikah. Sudah mendapat keluarga baru, dan sepertinya sudah sangat bahagia. Dengan menghela napas berat, Alung menghancurkan kertas itu, melemparnya ke tong sampah.
***
Ketika malam menjelang, Alung sudah sampai di rumahnya. Saat akan turun dari mobil, tiba-tiba suara ambulan terdengar mendekat.
Mobil ambulan itu kemudian berhenti tepat di sebelahnya. Bingung, Alunh pun ikut masuk bersama petugas ambulance.
"Ada apa ini? Kenapa kalian di sini? Siapa yang memanggil?"
Alung tidak bertanya lagi, ketika sang Mama diangkat dan didorong masuk ke mobil ambulance.
"Paaa ... Mama kenapa, Pa?" tanya Alung panik.
"Mama jatuh, Papa masuk mobil dulu."
Dengan spontan, Alung pun ikut masuk mobil ambulan.
Wiu wiu wiu
Ambulance itu terus maju membelah kerumunan jalanan ibu Kota yang macet parah. Sirene yang nyaring, membuat kendaraan di depannya perlahan minggir.
***
Rumah sakit Mitra Persadaa
Terlihat Gara sedang mondar-mandir di depan sebuah UGD.
"Garaaa!"
"Maa!"
"Apa yang terjadi, kenapa bisa Gendis begini?"
"Ini salah Gara, Ma." Terlihat sekali Gara sangat menyesal.
Sedangkan sang mama, wanita itu terlihat gelisah. Menunggu kabar selanjutnya.
***
"Ma ... bangun, Ma!" Alung memeluk tubuh mamanya yang masih belum sadar. Bila malam ini sang mama bisa melewati masa kritisnya. Mungkin mamanya akan selamat. Tapi, jika malam ini sang mama belum bangun, mungkin harapan mereka sangat tipis.
Alung yang seolah takut kehilangan Lagi, setelah kematian kakak pertamanya. Ia memeluk erat tubuh sang mama. Berharap mamanya tidak pergi seperti sang kakak.
"Ma! Buka mata Mama! Mama harus sehat lagi ... Mama harus lihat cucu Mama!" Bersambung.