Single Mother

Single Mother
Kena Batunya



Mencari Daddy  Bag. 56


Oleh Sept


Rate 18 +


"Itu, Bu! Si Gendis!" ucap mbak Roh saat bu Sadewo menanyakan apa yang terjadi.


Hal itu sontak membuat Gendis semakin panik, ia menggeleng pelan menatap penuh harap agar mbak Roh tidak mengatakan apapun.


"Gendis kenapa?" Makin penasaran lah bu Sadewo selaku mamanya Gendis.


"Nggak, Ma. Gendis nggak ngapa-ngapain ... mbak Roh salah paham. Gendis nggak lakuin apa-apa." Gadis itu mencoba membela diri.


"Ada apa kok ribut-ribut?" Gara datang karena mendengar keributan.


"Ini, masa dia memasukkan sesuatu ke dalam minuman Kanina!" tuduh mbak Roh dengan yakin.


"Bohong! Itu fitnah!" kelit Gendis. Mana mau dia mengaku, ia sangat takut kalau mama dan abangnya membenci dirinya. Dua orang itu selama ini kan sayang sekali pada dirinya.


"Ngapain saya bohong, mata saya nggak mines!" omel mbak Roh yang sejak lama memang kurang suka pada Gendis. Selain sikap Gendis selama ini yang dingin pada Kanina, ia juga tidak suka Gendis yang sering mengelayut manja pada Gara. Saudara kok segitunya, kan sudah sama-sama dewasa.


"Jangan main Fitnah, Mbak!" Gendis yang semula gelisah, kini balik menantang. Toh air sudah tumpah. Tidak ada bukti yang tersisa.


"Ada apa ini?" Kanina datang dari dapur. Ia cukup kaget mengapa semua orang jadi bersitegang.


"Sepertinya dia mau macan-macam sana kamu, Nin!" cetus Mbak Roh sambil menatap tajam ke arah Gendis.


"Eh, Mbak! Jangan asal bicara!" sentak Gendis kasar.


"Gendis!" pekik Bu Sadewo. Selama ini putrinya lemah lembut, mengapa jadi berani membentak orang yang lebih tua. Bu Sadewo seolah tidak percaya. Apa selama ini ia salah mendidik anak gadisnya?


"Mama lebih percaya Gendis, kan? Dia bohong! Keluarga Kanina memang tidak suka Gendis dari awal."


"Ndis! Cukup. Bicara apa kamu ini?" Gara menarik lengan Gendis. Menjuhkan dia dari mbak Roh. Karena terlihat sekali bahwa mbah Roh ingin mengunyah adiknya itu hidup-hidup. Mbak Roh emang orangnya suka begitu, mudah tersulut emosi.


"Astagaaa!!! Jangan fitnah. Itu semua bohong."


"Gara! Periksa sekarang!" titah bu Sadewo kemudian. Dan semua orang menatap ke arahnya.


"Maaa! Mama gak percaya sama Gendis?" tatap Gendis dengan nanar.


"Kamu gak usah takut, kalau memang tidak bersalah." Bu Sadewo berusaha kelihatan tenang.


Saat Gara mulai manyalakan ponselnya, Gendis semakin pucat. Ia panik. Bagaimana kalau waktu itu memang terekam. Apalagi dilihatnya sang kakak mengerutkan dahi.


"Apa itu?"


"Katakan! Apa yang kamu masukin ke dalam minuman?" Gara terus saja mendesak. Tapi Gendis tidak mengaku. Ia hanya menggeleng. Terlihat sekali kalau ia sangat ketakutan.


"Itu ... itu ...!"


"Kamu gak mau mencelakai anak dan istri Mas Gara kan, Ndis?" Gara terus saja bertanya.


Sedangkan bu Sadewo, ia memejamkan matanya rapat-rapat. Ia tidak percaya, anak yang ia besarkan dengan rasa sayang, tega mau mencelakai keluarga kakaknya. Lalu mengapa?


"Kenapa kamu melakukan ini?" Giliran sang mama yang mendesak dan menuntut jawab.


Gendis yang kala itu sudah tidak bisa mengelak lagi, akhirnya tersenyum getir. Kemudian memberikan jawaban yang membuat mama dan abangnya tercenggang.


"Karena dia tidak pantas untuk Mas Gara!"


Bersambung.


Karena bagi Gendis, yang pantas adalah dirinya. Obsession! Sebuah obsesi yang keblinger. Apa ada? Ada di sekitar, banyak.


Eh ... ada novel baru, novel temen Sept. Baca juga ya ... TERIMA KASIH.