Single Mother

Single Mother
REUNION



Mencari Daddy  Bag. 45


Oleh Sept


Rate 18 +


"Ninaaa ...!"


Bu Sadewo terlihat sangat senang ketika melihat Kanina ikut datang bersama putranya. Ia memeluk Kanina, membuat Gendis tambah semakin cemburu melihat kedekatan menantu dan mertua tersebut.


"Sudah beres semuanya, Ma?" tanya Gara sembari memberikan bucket bunga untuk adiknya.


"Sudah, tinggal pulang. Ini tinggal nunggu kamu saja. Iya kan, Ndis?"


Gendis hanya mengangguk, ia malah sibuk memainkan bunga pemberiaan Gara. Dan sama sekali tidak menyapa Kanina. Seakan menganggap sang kakak ipar tidak ada.


Beberapa saat kemudian


Karena semua administrasi sudah beres, mereka pun pulang. Sepanjang jalan, Gendis sama sekali tidak mau bicara. Terlihat lebih murung, karena harus menyaksikan sikap hangat Gara pada Kanina di kursi depan. Sedangkan dirinya, duduk di tengah dengan sang mama. Bete sih, harus jadi obat nyamuk.


Tidak berhenti di situ, Gendis semakin panas tak kala sang kakak malah memilih merangkul pundak Kanina saat mereka masuk kediaman Kusuma. Padahal ia kan baru keluar dari rumah sakit. Harusnya sang kakak lebih perhatian pada dirinya. Kesal, Gendis langsung ke kamarnya dengan gusar.


Gara melihat hal itu, ia pikir paling juga Gendis marah perihal tamparan tempo hari. Tapi mau bagaimana lagi, rasanya ia kurang suka melihat istrinya terlalu dihina. Apalagi oleh orang terdekat. Mungkin Gara juga sedang memberi pelajaran untuk Gendis. Karena bagaimana pun juga, Kanina itu istrinya. Jadi suka atau tidak, adiknya itu harus menghargai. Toh Kanina tidak butuh disembah, cukup ajak bicara dan anggap dia ada.


Sedangkan Gendis, sejak di rumah sakit bahkan tidak menatap atau menyapa istrinya. Gara kan sedikit jengkel, takut bila nanti Kanina berkecil hati. Merasa kurang diterima dalam keluarganya.


"Ma ... Gara pulang dulu, Gendis juga sepertinya sudah baik-baik saja." Akhirnya ia memilih pamit, daripada mengobrol dengan Gendis. Sadar atau tidak, Gara nyatanya memilih istri dari pada adiknya sendiri.


"Iya, kasian juga si Altar. Pasti nyariin, nitip salam buat ibumu ya, Nin." Mama mengusap pundak Kanina, dan tersenyum ramah pada menantunya itu. Sepertinya mama juga sadar, bahwa sikap Gendis dari tadi begitu dingin pada Kanina. Ia jadi tidak enak hati.


Kanina lantas mengangguk dan membalas dengan senyum tipis, ia menyambut hangat pelukan mama mertuanya saat akan pulang.


Tok tok tok


"Ndiss ... Mas pulang dulu, ya?"


"Hemmm!"


"Nanti Mas sering-sering ke sini. Sekarang Mas pulang, ya."


"Hemmn!" jawab Gendis jutek.


"Ndis, aku pulang dulu. Lekas sembuh, ya." Kanina dengan ragu ikut pamitan.


"Hemm!" ucap Gendis dengan malas-malasan. Terlihat sekali ia enggan berkomunikasi dengan iparnya. Dan Gara menyadari hal itu.


"Ya sudah, Mas pulang."


"Hemm!"


Gara menghela napas, mengusap kepala Gendis dan meninggalkan kamar gadis itu.


***


Alung sedang duduk bersandar di kursi belakang sembari terus menatap sebuah rumah. Beberapa saat yang lalu ia baru tiba dari Bandara, kini ia sedang menunggu seseorang.


Dari belakang, ia melihat sebuah mobil datang. Mobil yang sama saat ia datang ke masjid besar, saat acara pernikahan Kanina.


"Kamu yakin, itu bukan anak dari suaminya yang sekarang?" tanya Alung yang tidak mau salah langkah.


"Sesuai informasi yang saya dapat, sepertinya bukan, Tuan."


Alung diam sesaat, matanya tertuju pada mobil yang kini sudah berhenti dan akan masuk garasi.


KLEK


Pria itu akhirnya memutuskan untuk turun, ia akan menemui Kanina sekarang. Bersambung.