
Mencari Daddy Bag. 48
Oleh Sept
Rate 18 +
"Tuan, Kita mau ke mana?"
"Langsung Bandara!" jawab Alung tanpa ekpresi. Ia bersandar di kursi belakang dengan tatapan kosong. Sesaat yang lalu mobil mereka baru keluar dari kawasan perumaahan Gara.
Misi Alung gagal, tidak ada maaf. Dan untuk meminta ijin bertemu dengan bayinya pun ia menciut. Setelah mendapati banyak tatapan benci di rumah itu, Alung memilih pergi. Mungkin waktu yang akan membuat Kanina dan keluarganya bisa memaafkan kesalahannya waktu itu.
Dengan tangan kosong, Alung kembali terbang ke ibu kota. Berharap sang mama bisa sembuh, meskipun ia tidak bisa membawa Altar bersamanya.
***
Tiga tahun kemudian
Di sebuah rumah cukup besar dengan kolam kecil di samping rumah, terlihat Gara sedang bermain bersama Altar. Balita itu terlihat begitu ceria tak kala bermain dengan papanya.
"Sayang, ayo Naik. Kita ke rumah Oma, nanti Oma nunggu lama." Kanina datang dengan dua handuk bersih.
"Nah, tuh Mama datang." Gara langsung mengangkat Altar dari dalam air, kemudian melilitkan handuk dari Kanina ke tubuh munggil itu.
"Apa dingin?"
Altar kecil hanya meringis, memperlihatkan gigi-gigi putihnya yang bersih. Altar mungkin bukan anak kandungnya, tapi Gara menyayangi anak itu seperti anak sendiri. Apalagi selama tiga tahun menikah, Kanina belum menunjukkan tanda-tanda kehamilan.
"Sini sama Mama, biar Papa mandi dulu."
"Biar Mas mandiin sekalian." Gara langsung mengendong putranya, dan masuk ke dalam.
Setelah semua sudah rapi, cakep dan wangi. Mereka pun bersiap menuju kediaman keluarga Kusuma. Gara dan keluarga kecilnya memang sudah janji sama bu Lastri, mau ke sana. Biasanya tiap weekend, Gara mengajak Altar main ke rumah omanya.
Sampai di rumah, Altar pun disambut suka cita oleh omanya. Rumah yang besar itu, selalu sepi. Tapi, bila Altar datang, maka akan seperti pasar.
"Sudah makan belom cucu Oma?"
"Oma punya banyak makanan buat Altar, ayo ... tinggal mau yang mana." Bu Lastri langsung mengendong Altar menuju ke dalam.
Sedangkan Kanina, ia duduk di ruang tamu seorang diri. Karena Gara sedang berbincang dengan papanya.
Tin tin tin
Gendis menekan klakson saat mobil yang ia tumpangi berhenti tepat di samping mobil abangnya. Seolah memberi tahu pada penghuni rumah, bahwa ia sudah datang. Tahu Mas Gara datang, ia tadi tidak mau dianter Andika Risano, yang sering di sapa Dika. Pria 28 tahun itu, sudah 5 bulan ini berkencan dengan dirinya.
"Mas!" panggil Gendis saat melihat kakaknya ada di rumah. Dengan senyum yang mengembang dan semanis gula, ia memeluk Gara yang kala itu duduk sambil bicara dengan papanya.
Padahal tidak jauh dari sana ada Kanina, tapi Gendis seolah tidak melihat. Menganggap Kanina benda mati, sama sekali tidak menghargai iparnya tersebut. Bahkan, Gendis sampai cuek pada pacarnya sendiri.
Ketika ada Gara, Dika pun seolah tak nampak. Gendis benar-benar sudah terobsesi pada kakaknya tersebut.
"Apa kabar, Dik?" sapa Gara yang melihat Dika yang seperti dicuekin oleh adiknya.
"Baik, Mas." Dika menjawab cukup singkat, sebenarnya ia merasa terganggu dengan sikap Gendis bila di dekat Gara. Pria itu menangkap sesuatu yang kurang wajar, tapi entahlah. Mungkin dugaannya salah.
"Ndiss ... masuk sana, buatin Dika minum," titah Gara pada adik perempuannya itu.
"Ish ... biasanya juga ambil sendiri!" celetuk Gendis. Ia masih ingin berlama-lama duduk di samping Gara. Melihat hal itu, Dika sedikit kurang nyaman. Akhirnya ia memilih duduk tidak jauh dari Kanina.
Karena beberapa kali pernah bertemu, keduanya pun sudah saling mengenal.
"Altar mana, Mbak?" tanya Dika sekedar basa-basi.
"Ada, sama Mama di dalam."
"Oh ..." Dika bingung mau ngobrol apa lagi.
Sampai keduanya sama-sama nonton TV dan terkekeh bersama. Kontan hal itu menarik perhatian Gara. Dilihatnya sang istri yang tertawa lepas di depan TV dengan Dika, kekasih Gendis.
"Belum lama ketemu aja sudah akrab, ish!" cibir Gendis dengan pelan. Namun, Gara dapat mendengarnya dengan jelas.
Gendis malah sengaja memanasi sang kakak, agar kakaknya itu benci dengan Kanina. Entah berhasil apa tidak, yang jelas ekpresi wajah pria itu mulai mengeras. Bersambung.