
Mencari Daddy Bag. 41
Oleh Sept
Rate 18 +
Gara sempat tertegun sejenak kemudian meraih tubuh Gendis. Dipeluknya adik semata wayangnya itu. Sambil mengusapnya lembut, Gara berbisik. "Yang jelas, kalian semua kesayangan Mas."
Gendis merasa sebal, jawaban model apa itu. Sangat ambigu, artinya ia belum mendapat jawaban yang pasti. Tapi, karena Gara memeluk dan membelainya dengan hangat, ia akan melupakan kekesalannya. Yang penting sekarang Gara memperlakukan dirinya dengan lembut.
KLEK
Pintu kamar bernuansa feminim tersebut pun terbuka. Bu Sadewo masuk membawa makanan untuk Gendis.
"Ayo makan, Ndis. Kamu juga makan ya, Gara? Mama ambilin?"
"Nggak, Ma. Sudah makan di rumah."
"Oh ... lalu bagaimana Altar? Nggak rewel kah?"
Gara menggeleng sembari mengamati Gendis yang makan dengan malas-malasan.
"Makan yang bener, Ndis."
Gadis itu hanya melirik ke arah sang kakak dan memasukkan sendok ke dalam mulutnya dengan terpaksa. Bu Sadewo yang melihat hal itu, hanya bisa menghela napas panjang.
Selesai sarapan, Gendis langsung disuruh mandi oleh sang mama. Dan selagi gadis tersebut membersihkan diri, bu Sadewo menarik tangan Gara. Keduannya berbicara dengan serius. Mereka memilih berbicara di kamar Gara sendiri.
"Dia sudah tahu."
Gara mengeryitkan dahi, "Apanya yang sudah tahu?" pikir Gara.
"Maksud Mama bagaimana?"
"Gendis tahu, dia bukan anak kandung Mama."
"Kok bisa? Mama kasih tahu dia?"
"Bukan!!!! Itu makanya kemarin dia kabur. Ceritanya panjang."
"Mama kasih tahu Gara intinya saja. Bagaimana dia tahu?"
"Ini salah Mama, harusnya Mama hati-hati menyimpan berkas. Gendis tidak sengaja tahu, saat dia ke kamar Mama. Mama yang sedang merapikan beberapa surat, dan tidak sengaja dia melihat apa yang tidak seharusnya ia lihat. Dia marah, kemudian menuduh kami jahat. Mama mencoba tenangin. Tapi, malah Gendis pergi dan nggak pulang."
Bu Sadewo terlihat gelisah, tapi ia yakin semua ini lama-lama pasti terbongkar. Hanya saja, ia khawatir. Gendis yang terbiasa ia manja menjadi menjauh. Tapi syukurlah, pagi tadi gadis itu pulang sendiri. Hanya saja tidak seperti biasanya. Terasa dingin pada mama angkatnya itu. Gendis malah hanya merajuk pada sang kakak.
"Mama tidak usah mengkhawatirkan apapun. Lambat laun Gendis pasti bisa menerimanya. Dia hanya butuh waktu, kabar ini pasti membuatnya shock, Ma."
"Kamu benar, Gara. Mama sampai takut dia gak pulang lagi."
Di luar pintu kamar sang kakak, yang tidak jauh dari kamarnya. Gendis mencuri dengar dengan tatapan penuh benci. Marah dan kecewa, ia pun kembali ke kamarnya.
Beberapa saat kemudian
"Ma, Gara pulang dulu."
"Iya, Nina pasti nyariin. Masa pengantin baru jauh-jauhan. Nitip salam buat Kanina dan ibunya, ya."
"Iya, Ma. Gara ke atas dulu, mau pamit sama Gendis."
"Hemm."
***
"Ndis ... Gendis!"
Saat masuk kamar sang adik, Gara menatap adiknya. Gendis langsung berwajah murung. Ia juga membuang muka. Enggan melihat ke arah sang kakak.
"Mas pulang dulu, ya."
Gendis hanya diam.
"Kamu dengar Mas ngomong, kan?"
Barulah gadis tersebut menoleh.
"Ya sudah pulang aja, Mas memang lebih sayang Kanina!" celetuk Gendis.
Mendengar celetukan sang adik, Gara hanya bisa memijit kepalanya. Sebenarnya ada apa dengan Gendis? Mengapa dia begitu jealous pada istrinya?
"Kan sudah Mas bilang, kalian berdua sama-sama Mas sayang. Lagian kenapa bawa-bawa Kanina segala?" Gara merasa jengah. Karena pembahasan yang sama selalu dipermasalahkan oleh sang adik.
"Apa bagusnya wanita itu? Kenapa Mas menikahinya! Banyak gadis yang lebih baik di luar sana dari pada Kanina yang hamil anak orang tidak tahu ayahnya siapa!" ketus Kanina dengan tak sopan, hal itu membuat telinga Gara panas. Karena adiknya sendiri menjelek-jelekkan istrinya.
"Ndis! Jangan keterlaluan," ucap Gara dengan nada serius.
"Gendis hanya bicara fakta, Mas!" Gadis itu membela diri tanpa merasa bersalah.
"Dia istri Mas, harusnya kamu bisa menjaga sikap kamu. Meski dia tidak di sini dan mendengar langsung. Tapi Mas mendengarnya dengan jelas! Dan itu sangat tidak pantas."
"Sepertinya Mas gara sudah termakan rayuannya! Dia bisa hamil begitu harusnya Mas curiga! Sudah berapa pria yang tidur dengannya!!!!"
PLAKKK
Bersambung.