
Mencari Daddy Bag. 89
Oleh Sept
Rate 18 +
Enam bulan berlalu setelah kepulangan mereka dari bulan madu. Elena memilih tetap di rumah, fokus dengan persiapan masuk ke perguruan tinggi. Alung juga sudah tidak sebucin sebelumnya, sudah tidak meminta Elena untuk 24 jam non stop di sisinya.
Bukan karena bosan, yang pasti bukan itu. Ini semua demi kebaikan Elena. Istri kecilnya itu masih sangat muda. Alung tidak mau merengut masa muda istrinya itu. Apalagi, Elena juga butuh bersosialisasi. Jadi, meski berat akhirnya Alung memberi kelonggaran Elena untuk bergaul dengan teman sebayanya.
***
"Bagaimana? Ada yang ketinggalan?" tanya Alung sembari menatap istrinya yang sudah siap. Hari ini ia akan mengantar Elana ke kampus. Beberapa minggu lalu, istrinya tersebut sudah diterima di sebuah universitas di kota itu.
"Nggak ada, Mas. Sudah beres semuanya."
"Nanti, kalau butuh apa-apa, langsung telpon."
"Iya," jawab Elena sambil tersenyum manis.
"Dan jangan tersenyum seperti ini pada pria lain."
"Iya."
"Langsung pulang, jangan main. Mending bawa temen ke sini gak apa-apa."
"Iya."
"Beneran loh!"
"Astaga! Iya, Mas."
Elena ini mau kuliah, tapi diberikan bekal larangan ini itu membuat dia jengah juga. Namun, ia hanya menunjukkan dengan tersenyum.
***
Kampus UE
"Langsung pulang ya, kasian Gavi nanti nyariin."
Elena kembali tersenyum, pakai alasan Gavi segala. Bilang aja, Elena nggak boleh main. Wanita muda itu pun mengangguk saja.
KLEK
Alung turun terlebih dahulu, membuka pintu untuk Elena, bak seorang ratu. Begitulah ia memperlakukan istri kecilnya itu. Kalau boleh egois, ingin rasanya ia bawa Elena ke mana-mana. Demi kebahagian Elena, Alung pun harus mengalah.
"Hati-hati," seru Elena saat melihat suaminya masuk mobil.
Alung mengangguk pelan, kemudian menyalakan mesin mobil. Dan ketika dalam perjalanan, Altar tumben menghubungi daddy-nya.
"Iya, sayang." Sembari menyetir ia memasang headset.
"Daddy nggak ke sini?"
"Iya, bulan depan ya. Mommy masih repot soalnya baru masuk kuliahnya."
"Daddy aja." Anak sembilan tahun itu memaksa bertemu Daddy-nya.
"Kenapa? Ada apa, sayang?" Alung mulai curiga. Tumben putranya itu memaksa ia segera datang. Biasanya gak pernah.
"Mama nggak sayang Altar lagi!" tangisnya.
Chittt
Alung menepi, ia berhenti tepat di bibir jalan. Mendengar putra semata wayangnya menangis, ia jadi khawatir.
"Ada apa? Cerita sama Daddy!"
"Mama nggak sayang Altar, mama cuma sayang Ara dan Azil."
"Nggak, mama papa nggak sayang Al. Apalagi setelah Azil lahir, kemarin saja mama bentak Altar."
Alung memijit keningnya saat mendengar anaknya itu curhat.
"Iya, minggu besok Daddy ke sana ya. Sudah! Cowok gak boleh nangis. Hari ini sekolah, kan? Tunggu Daddy. Udah .. Al siap-siap sekolah ya."
"Iya, Dad!" jawab Altar sambil menyusut hidung.
Setelah telpon terputus, ganti Alung menghubungi Kanina.
Tut Tut Tut
Lama sekali baru telpon itu tersambung.
"Hallo ... Nin, barusan Altar telpon. Dia bicara sambil menangis. Aku paham, kamu habis melahirkan. Pasti lelah, capek, kesel. Tapi ... tolong lah, jangan bentak-bentak anak saya."
Alung terus saja bicara panjang lebar, tanpa tahu siapa yang sedang bicara dengan dirinya.
"Nin ... kamu dengar, kan? Tolong jangan beda-bedakan anak."
Gara yang mengangkat ponsel milik Kanina, karena istrinya sedang memandikan Azil Kamalaru anak keduanya dari pernikahannya Kanina. Tiba-tiba wajahnya mengeras. Ucapan Alung di telpon membuatnya terusik.
"Hanya karena kami bolehkan kamu sebagai ayahnya tetap bertemu, bukan berarti kamu boleh ikut campur. Dan lagi, ibu memarahi anaknya itu sangatlah wajar."
Ganti Alung yang terkejut. Ia tidak mengira, yang menjawab telpon adalah suaminya Kanina.
"Maaf, tapi jangan tersinggung. Tiba-tiba Altar menangis di telpon. Wajar saya khawatir."
Kanina yang selesai memandikan Azil, datang dan bertanya.
"Siapa, Mas?"
"Alung."
"Ada apa?"
"Bukan apa-apa!"
Tut Tut Tut
Gara memutuskan telpon. Sedangkan Alung, ia semakin pusing. Di sini mikirin istrinya, di sana mikirin Altar.
***
Siang harinya
Sejak tadi Alung melihat ponselnya, antara menunggu telpon dari Elena dan juga Altar. Dua orang yang sama-sama memenuhi isi kepalanya.
Drettt drettt drettt
Buru-buru Alung meraih ponsel yang semula tergeletak di atas meja. Pria yang semula semangat, seketika lemas. Ternyata hanya SMS penipuan.
[Selamat, nomor SIM anda mendapat hadiah sebesar 100 juta dari POINKU. Silahkan klik tautan di bawah ini. Dan klaim hadiah sekarang] Bersambung.
***
Thor, kok akhir-akhir ini updatenya selowww ...
Maaf kesayangan semua, seminggu ini minggu yang berat. Berturut-turut mendapat berita duka. Calon keponakan, sama mertua kakak tersayang harus kembali lagi sama sang Pencipta. Jadi ... ya begitu. Mengsedih. Mohon doanya ya...
Untuk Baby kecil Hayyin yang belum sempat menghirup udara di dunia.
Untuk Almarhum Bapak Giyanto, Bapak paling baik.
Alfatihah ....
Terima kasih banyak semuanya.