
Mencari Daddy Bag. 26
Oleh Sept
Rate 18 +
"Jujur saja sama Mama atau Mama bakal carikan pria yang mau melindungi gadis itu. Mama rasa Kanina juga berhak bahagia, cukup masa lalunya harus mengalami hal tragis seperti itu. Mama kok membayangkan, bagaimana bila hal naas itu terjadi pada adikmu? Bagaimana bila kisah Kanina yang kelam itu menimpa Gendis? Membayangkan saja Mama gak kuat."
Bu Sadewo kemudian memijit pelipisnya. Sungguh malang benar nasib gadis yang mereka beri tempat tinggal tersebut. Dan bu Sadewo rasa, mereka tidak mungkin selamanya menampung Kanina di rumah. Tanpa status tanpa apapun itu. Apalagi bu Sadewo merasa sang putra yang notaben perjaka tua, sepertinya menaruh hati pada gadis tersebut. Barangkali memang sudah jadi jalan cerita sang putra seperti itu. Siapa tahu, Kanina ternyata jodoh Gara.
"Bagaimana dengan Papa, lalu Gendis? Pasti semua menolak."
"Yang menikah kan kamu, mau menikah umur berapa lagi? Tahun depan sudah 37 ... Mau jadi bujang lapuk?"
Jlep
Gara tersenyum getir. Sindiran sang mama tepat menghujam jantungnya.
"Kenapa tersenyum? Papa bisa Mama bujuk, masalah Gendis ... Hemm, kasih saja apa yang dia mau. Belikan apa yang diminta, masa dia lebih suka abangnya membujang selamanya? Mama kan juga pingin cucu!"
"Ma ..."
"Hemm!"
"Makasih," ucap Gara sembari memeluk mamanya.
"Jadi deal?" tanya bu Sadewo sembari mengamati ekpresi Gara saat pelukan putranya sudah lepas. Ia ingin melihat keseriusan di mata putranya itu.
Sedangkan Gara, ia hanya garuk-garuk kepala yang sama sekali tidak terasa gatal. Sedikit canggung pada mamanya sendiri.
"Lalu bagaimana dengan Kanina, Ma? Apa dia mau?"
"Siapa yang menolak anak Mama?"
Mendengar jawaban sang mama, Gara yang kurang percaya diri mengutarakan perasaannya, merasa lebih mendingan. Mungkin ia akan mencoba mengatakan hal ini pada Kanina nanti.
Oek oek ...
Suara bayi yang menangis itu menarik perhatian bu Sadewo. Wanita itu langsung bangkit dan ingin menemui Kanina serta bayinya.
"Sini ... Tante gendong!" Wanita itu terlihat antusias melihat bayi yang masih kemerah-merahan tersebut.
Dengan lembut ia meraih tubuh bayi yang belum diberi nama tersebut.
"Nin ... namanya siapa? Masa belum dikasih nama."
Kanina terdiam, entahlah hatinya masih merasa aneh. Mengandung dan sampai melahirkan bayi itu, sebenarnya hati Kanina dilema, sama sekali tidak siap. Kadang bila melihat bayi tersebut, bayangan pria jahat yang sudah menodai dirinya muncul tiba-tiba. Menganggu, mengusik dan membuatnya gelisah. Padahal beberapa kali Gara membawa dirinya ke psikiater, tapi Kanina rasa, kecemasan, kegelisahan dan ketakutan masih sering muncul secara tiba-tiba.
"Boleh saya kasih nama?" Gara muncul dari balik tubuh sang mama.
Kanina melirik sekilas, lalu menundukkan wajah sembari mengangguk pelan.
"Altar Alsaba ... dan bolehkah saya sematkan nama saya di belakang namanya?"
Baik Kanina maupun bu Sadewo, keduanya menatap Gara. Mereka terhenyak, mengapa Gara ingin menyematkan namanya pada bayi tersebut? Dan mengapa ia meminta ijin pada ibu sang bayi tersebut? Apa ini sebuah lamaran?
"Bolehkah saya menjadi ayahnya?" tanya Gara tanpa keraguan.
Hal itu membuat bu Sadewo terbelalak, ia tidak mengira. Ternyata sang putra begitu gercep. Baru beberapa saat yang lalu ia menyalakan lampu kuning, seolah tidak sabar menunggu lampu hijau, Gara langsung trabas. Tanpa basa-basi ia langsung bertanya pada Kanina, bisahkan dia jadi ayah dari bayi tersebut.
"Jawab, Nin," timpal bu Sadewo. Mungkin Kanina takut bila ia tidak setuju.
"Gara laki-laki baik, di luar sana jarang ada pria seperti dia. Dan Tante tidak akan melarang keputusan anak Tante. Selama Gara bahagia, Tante juga bahagia. Apalagi ... bayi kamu juga butuh perlindungan. Tapi kami tidak akan memaksa." Bu Sadewo mencoba menjelaskan panjang lebar.
Kanina seperti orang bingung, katanya selama ini dianggap adik. Lalu mengapa pria itu ingin menjadi ayah dari bayinya? Itu artinya menjadi suaminya? Apakah benar seperti ini? Kanina merasa Tuhan sedang bercanda dengan dirinya. Dia sudah merasa sangat hina, rasanya tidak berhak mengecap bahagia. Apalagi bersanding dengan pria terhormat seperti Anggara. Rasanya pungguk merindukan rembulan. Kanina sadar diri, siapa dirinya.
"Mungkin kamu butuh waktu, saya akan menunggu."
Kanina langsung menggeleng.
"Terima kasih sudah merasa iba, simpati dan kasihan pada Kanina. Tapi, sepertinya Kanina tidak bisa menerima Mas Gara."
Baik Gara maupun sang mama sama-sama terkejut. Terutama sang mama.
"Kenapa?" sahut bu Sadewo. Jujur ia kecewa, kok putranya yang kualitas super ditolak oleh seorang seperti Kanina. Tapi tunggu, mungkin Kanina merasa minder. Bu Sadewo mencoba untuk berpikir positive.
"Kanina tidak pantas untuk laki-laki yang baik seperti Mas Gara dan lagi ... Kanina tidak mau, Mas Gara menikahi Kanina karena rasa kasihan," jawab Kanina sembari menatap wanita yang selama beberapa bulan ini begitu baik merawat dan memberikan perlindungan. Sedangkan Gara, Kanina sama sekali tidak berani menatap ke arah pria tersebut.
"Kenapa bisa kamu menyimpulkan bahwa ini rasa kasihan? Bagaimana bila ini bukan rasa kasihan?"
Mamanya hampir tidak bisa menahan senyum geli. Betapa kakunya Gara mengatakan perasaan pada seorang gadis.
"Gara suka kamu, Nin. Masa kamu ndak ngerasa?" sindir bu Sadewo dengan nada bercanda. Kekakuan sang anak, mengingatkan bu Sadewo saat ia remaja dulu. Bagaimana tuan Kusuma, sang suami melamar dirinya. Persis seperti Gara, melamar istri seperti melamar kerja, kaku.
Pipi Kanina bersemu merah, takut kegeeran. Ia kemudian menyadarkan diri. Harus sadar diri, dia itu siapa.
"Maaf Mas Gara, tapi Kanina rasa, di luar sana masih banyak gadis yang berpendidikan dan dari keluarga terpandang."
"Semua manusia nilainya sama di mata Tuhan, Nin," sela bu Sadewo.
"Kekayaan hanya titipan!" sambungnya lagi.
"Yang berpendidikan tinggi ada, tapi saya tidak mencari seorang guru. Saya cari pendamping hidup. Orang yang bersedia berjalan bersama, saat susah maupun senang," terang Gara kemudian.
Bu Sadewo kemudian kembali menengahi, karena ia merasa Kanina masih enggan.
"Bagaimana? Anak Tante diterima apa tidak?" tanya bu Sadewo dengan nada memaksa. Begitu juga tatapannya, seolah meminta Kanina menjawab iya.
Kanina jadi dilema, harusnya ia merasa senang. Mendapat calon suami yang baiknya seperti Anggara, itu adalah seribu banding satu. Kesempatan langka. Tapi, ia tetap merasa rendah diri. Tidak berani menjawab iya.
"Jangan merasa tertekan, Nin. Kalau memang tidak ingin menikah dengan saya, tidak apa-apa," ucap Gara yang mulai putus asa. Menikah itu persetujuan dua orang, kalau hanya dirinya saja yang ingin, rasanya mungkin pernikahan tidak akan bertahan lama. Lebih baik tidak, dari pada harus memaksa dan putus di tengah jalan.
"Kanina sudah tidak perawan, bahkan sering merasa jijik dengan tubuh Kanina sendiri. Bagaimana bisa Mas Gara mau menikahi wanita seperti ini?" Kanina berucap sembari menundukkan wajahnya. Ia sedang menyembunyikan tangis.
"Semua manusia punya masa lalu. Kamu berhak bahagia juga ... Maukah kamu saya bahagiakan?"
Bu Sadewo langsung memalingkan wajah sembari menahan senyum. Bersambung.