Single Mother

Single Mother
Bertepuk Sebelah Tangan



Mencari Daddy  Bag. 44


Oleh Sept


Rate 18 +


Kanina sedang duduk di tepi ranjang, sembari mengosok rambutnya dengan handuk kecil. Malam-malam Gara membuatnya harus mandi lagi. Sedangkan Gara, pria itu berbaring sembari merentangkan tangan.


"Udah selesai? Sini ... rebahan di sini sama Mas!"


Kanina dengan malu-malu, meletakkan handuk kemudian naik ke atas ranjang. Ia mendekati Gara dengan rasa canggung yang membuncah. Sementara itu, setelah Kanina sudah dekat, Gara langsung meraih tubuh istrinya tersebut. Mendekapnya erat, seolah tidak mau jauh-jauh. Dua malam tidak tidur bersama, membuatnya ingin dekat-dekat dengan Kanina malam ini.


"Bagaimana kondisi Gendis, Mas?" tanya Kanina sembari memegang lengan Gara yang melingkar di atas perutnya.


"Besok mungkin sudah bisa pulang."


"Syukurlah."


"Mau ikut tidak? Besok Mas jemput Gendis."


"Apa boleh?"


"Boleh lah, dia kan sekarang juga adik kamu, Nin."


"Em ... tapi."


"Tapi apa?"


Kanina mau bicara, tapi terlihat ragu. "Bukan apa-apa."


"Besok ikut Mas. Althar biar sama Ibu dan mbak Roh di rumah. Kita bentaran saja di rumah sakit, nggak pakai lama. Ada stok ASI di kulkas, kan?"


"Hem ... ada, Mas."


"Bagus, jadi gak perlu khawatir nanti Altar lapar. Lagian gak bagus kalau diajak ke rumah sakit."


"Iya, Mas."


"Ya sudah, ayo tidur. Mas capek banget hari ini." Gara merapatkan pelukannya, sembari memejamkan mata.


Tengah malam


Seperti biasa, Altar terbangun karena lapar. Dengan mata yang masih merasa kantuk, Kanina turun dari atas ranjang, melepaskan pelukan Gara. Membawa Altar dan memberi ASI di samping suaminya.


Kanina pikir Gara sudah tidur, tidak tahunya pria itu malah menatapnya sedari tadi. Membuat Kanina canggung saja.


"Kebangun, Mas? Masih jam satu. Mas Gara tidur lagi saja," kata Kanina.


"Iya, nunggu Altar dulu. Baru Mas tidur."


Dahi Kanina mengkerut, mengapa nunggu baby Altar? Tidur ya tidur saja. Kanina tidak tahu, ada udang di balik bakwan. Pemandangan yang ditangkap Gara barusan, membuat pria itu otomatis terjaga. Apalagi melihat betapa besarnya wadah ASI buat altar, sudah pasti pria itu on fire.


Beberapa saat kemudian


"Nin ..."


"Iya."


"Aku pindahin Altar ya."


"Kenapa?"


"Nanti dia keganggu."


Kanina berpikir keras.


"Yaaa?"


"Hemm!"


Akhirnya Gara tidak tahan melihat istrinya yang makin berisi tersebut. Gara-gara lihat Altar tadi, jadinya Gara pun ingin. Dan setelah memindahkan baby Altar agar tidak terkena gempa dadakan. Kini Gara pun sudah siap mengasah pedang. Maklum, setelah sekian purnama pedang itu akhirnya menemukan sarungnya. Biar tidak berkarat, ia harus sering-sering mengasahnya.


***


Ketika Gara sedang sibuk menabur benih kecebong, ada hati yang sedang gelisah.


Jakarta


Rumah sakit


Di sebuah taman rumah sakit, di tengah malam yang dingin. Alung duduk termenung seorang diri, ditemani kepulan asam yang mengelilinginya. Kesedihan jelas terlihat di wajah pria tersebut. Bagaimana tidak, sang mama sudah siuman. Namun, harus harus duduk di sebuah kursi roda.


Ya, mama Ami kena stroke. Sempat terjatuh di kamar mandi. Benturan di kepala sang mama membuatnya cedera. Mama Ami sangat murung, seperti kehilangan semangat hidup.


Esok harinya.


Dengan sabar Alung menyuapi sang mama, ia beberapa hari ini tidak masuk kantor. Lebih memilih mengurus sang mama, gantian dengan papanya. Sedangkan urusan kantor, ia menyerahkan semua urusan pada Pak Rafi, sekretarisnya.


"Makan lagi ya, Ma."


Mama Ami menggeleng, mulutnya bergerak-gerak tapi tidak ada suara yang keluar. Sedih, Alung pun hanya memalingkan wajah. Menyembunyikan rasa sedihnya. Ia pun berpikir keras, bagaimana caranya agar bisa menemui Kanina dan anaknya. Ingin ia pertemuan dengan sang mama. Siapa tahu, bisa membantu mamanya cepat pulih. Itulah yang Alung pikirkan saat ini.


***


Rumah Sakit Medika Persadaa


Gendis nampak sumringah ketika Gara muncul dari balik pintu, ia begitu senang apalagi sang kakak membawa sebuket bunga untuknya.


"Mas ...!" panggilnya dengan senyum cerah.


Perlahan senyum indah nan cerah itu memudar, tak kalah melihat sosok Kanina yang muncul dari balik tubuh tegap sang kakak.


"Sial!" pekik Gendis dalam hati. Bersambung.


Bunga-bunga yang semula mekar, mendadak jatuh berguguran. Cinta sendirian itu memang pedih. Lebih baik berhenti, atau mati secara perlahan. (Bertepuk Sebelah Tangan)