
Mencari Daddy Bag. 65
Oleh Sept
Rate 18 +
"Hallo, Ma?"
"Hallo ... kamu di mana? Sudah malam kok belum pulang?" tanya mama Ami di telpon Wanita paruh baya itu nampak khawatir. Ia kembali ketar-ketir jangan-jangan Alung kembali berulah seperti yang sudah-sudah.
"Malam ini Alung nggak pulang, Ma." Alung melirik gadis yang masih terbaring di depannya. Barangkali ia merasa tidak tega meninggalkan gadis itu sendirian di sana. Tidak memiliki keluarga sama sekali, mungkin dirinya mulai simpati.
"Kenapa?" tanya mana Ami dengan cepat sambil melirik jam dinding.
"Temen Alung sakit. Ini Alung masih di rumah sakit."
"Teman yang mana?" Seperti polisi, mama Ami begitu gentol mengintogasi putranya sendiri.
Pria itu terdiam, mau jawab teman yang mana ia jadi bingung.
"Ada lah ... Ma. Udah ya, Ma. Ini dokternya datang."
"Eh .... ya sudah hati-hati."
Karena sambung telpon langsung diputus, mama Ami pun tak bisa lagi bertanya-tanya pada putranya itu. Sedangkan di rumah sakit, tidak ada dokter kala itu. Alung hanya berkata bohong, untuk menghindari pertamanya sang mama.
Sepanjang malam, Alung berada di ruangan. Ia menjaga gadis yang sama sekali ia tidak kenal. Hanya bertemu beberapa kali, karena merasa kasihanlah ia mau menjaga gadis itu malam ini.
***
Elena mengerjap, kelopak matanya bergerak-gerak. Kemudian perlahan jari-jarinya yang lentik pun ikut bergerak. Gadis itu terbangun ketika waktu masih menunjukkan pukul 4 subuh.
Ia sempat kaget mengapa terbaring di ranjang rumah sakit, ditatapnya langit-langit rumah sakit dan kemudian menoleh. Elena semakin terkejut ketika mendapati pria baik itu tertidur sembari duduk kursi.
"Mengapa tuan ini ada di sini?" batinnya mengamati wajah Alung yang terlelap.
Cukup tampan, hingga membuat mata kaum hawa terkesan. Meski sekilas terlihat sangat dingin, tapi kebaikan pria itu membuat Elena terus saja menatap tanpa kedip. Ia mengamati wajah Alung yang terlelap dengan intense.
"Apa yang kau lihat!"
Pertanyaan Alung membuat Elena tersentak. Ia kaget saat pria itu membuka mata dan juga menatapnya.
"Tidak ..."
Elena menggeleng pelan, kemudian memalingkan wajah. Malu karena ketahuan sedang menatap Alung sedari tadi, sedangkan yang ditatap mengetahui hal tersebut.
Karena sudah sama-sama terbangun, dan sudah tidak dikuasai rasa kantuk. Mereka malah akhirnya saling berbicara. Di sanalah Alung mulai mengetahui sisi lain Elena yang ia pikir begitu buruk sebelumnya.
Alung pikir Elena hanya seorang gadis seperti gadis nakal kebanyakan. Mencari om-om untuk OB, atau apapun itu hanya sekedar menguras harta sugar daddy-nya itu. Apalagi ada bayi kecil sebelumnya, Alung benar-benar mengira Elena wanita murahan.
"Di mana orang tuamu? Mengapa kamu yang mengurus bayi itu?" tanya Alung dengan tenang.
Elena menundukkan wajah, kemudian berucap tanpa mengangkat wajahnya.
"Ceritanya panjang, dan maaf harus merepotkan Tuan berkali-kali."
"Bisa ceritakan padaku sekilas saja? Maaf bila memaksa. Tapi kamu muncul terus di depanku. Terus terang, itu sangat menganggu."
"Maaf, Tuan."
Hati Elena semakin menciut, benar kata pria di depannya. Ia memang merasa akhir-akhir ini sangat menganggu pria tersebut. Sengaja atau tidak, kenyataan yang bicara memang seperti itu. Berkali-kali Alung harus melibatkan diri pada persoalan yang bukan menjadi urusannya.
"Mereka masih hidup, kan?"
Elena kemudian mengangkat wajahnya perlahan. Kemudian berbicara sembari menatap Alung.
"Kedua orang tua kandungku sudah tidak ada, tapi ayah Gavi masih ada. Cuma ... ayah sambungku itu tidak tahu pergi ke mana."
Alung tertegun, kemudian menghela napas dalam-dalam.
"Lalu kamu yang mengasuhnya? Kamu masih sekolah, kan?" Pria itu menatap penuh selidik bak detective.
Elena mengangguk.
"Tidak punya pekerjaan?"
Elena menggeleng.
"Menghidupi bayi sendirian, sedangkan kamu masih sekolah?"
Elena menengelamkan wajah dengan dalam. Ia tidak mau memperlihatkan ekpresi wajahnya yang putus asa. Ia juga mau protes, mengapa harus begini jalan hidupnya. Ia masih ingin fokus ke sekolah, belajar dan nantinya jadi orang.
Tapi, ia juga bingung. Ibunya meninggal mendadak. Meninggalkan bayi begitu saja. Sedangkan sang ayah tiri sama sekali tidak peduli lagi pada mereka. Elena pun hanya bisa berdiri di atas kakinya sendiri. Terlunta-lunta di tengah kehidupan yang maha keras ini.
"Hemm!"
Alung kembali terlihat berpikir, dan beberapa saat kemudian ia menawarkan sesuatu.
"Keluar dari rumah sakit, ikut denganku." Bersambung.