Single Mother

Single Mother
Kemarahan Seorang Wanita



Mencari Daddy  Bag. 46


Oleh Sept


Rate 18 +


"Kanina ..."


Gara menoleh saat ada yang memanggil nama istrinya, sedangkan Kanina. Ia tidak mendengar, karena bertepatan dengan suara motor yang lewat di belakang mereka. Tangan Gara perlahan mengepal, rahangnya mengeras. Untuk apa pria brengsekkk itu ke rumahnya?


"Nin ... Masuk!"


"Hah?" Kanina menatap ke arah suaminya, dilihatnya Gara menatap benci pada sosok di seberang. Baru sadar itu adalah pria yang menodai dirinya, Kanina langsung terhenyak.


"Masuk!" titah Gara dengan tegas.


"Kunci pintunya!" tambah Gara sekali lagi. Pria itu kemudian menaikkan lengan bajunya, sepertinya sudah siap berduel dengan Alung. Pria yang sudah merusak hidup istrinya.


"Kanina ...! Tunggu saya mau bicara!" teriak Alung yang setengah berlari mengejar Kanina yang akan masuk rumah.


BUGH


Gara langsung menghalangi langkah Alung dengan sekali tinju tepat pada perut pria tersebut.


"Pergi dari sini! Atau aku seret ke kantor polisi!" Gara mencengkram kerah baju pria itu. Menatap tajam dan siap memberikan tinju selanjutnya.


Akan tetapi, keburu Pak Rafi datang dan melerai keduanya. Sedangkan Kanina, ia lari ketakutan ke dalam rumah.


"Heh ... kok lari-lari. Ada apa? Kaya dikejar maling saja!" celetuk mbak Roh yang sedang mengendong Altar. Bayi kecil itu sedang lelap dalam gendongan wanita yang sudah seperti saudari Kanina tersebut.


Bruakkkk


"Eh apa itu!" pekik mbak Roh yang mendengar suara keras. Sepertinya ada yang menghantam pagar.


Di luar rumah


Meski Pak Rafi mencoba menengahi, tapi Gara yang sudah naik darah karena beraninya Alung ke rumahnya, tidak mau meloloskan Alung begitu saja.


"Nin! Suamimu kenapa itu, Nin? Dia mukul orang, cepat dilerai!" teriak mbak Roh yang mengintip keributan lewat jendela.


"Cepat dilerai!" tirah mbak Roh yang sudah ketar-ketir.


Kanina menggeleng, dengan bibir yang bergetar. Air matanya keluar tanpa bisa ia tahan. Dari situ, mbak Roh mulai curiga.


"Dia orangnya?" tebak mbak Roh yang mulai emosi. Tapi, Kanina tidak menjawab, ia malah menangis.


"Buk ... buk!!!" Mbak Roh ke halaman belakang, memberikan Altar pada bu Lastri. Bu Lastri sedang menjemur pakaian pun heran. Ada apa Rohma terlihat buru-buru sekali.


"Nitip Altar sebentar!"


Mbak Roh lantas menuju depan rumah, tidak lupa tangannya meraih sapu lantai yang ada di balik pintu.


KLEK


Begitu pintu terbuka, ia langsung mengayungkan sapu itu ke arah Alung. Dipukulnya Alung tanpa ampun. Gara sampai shock dan tertegun. Mbak Roh terlihat begitu mengebu menganiaya Alung. Padahal sudah dipegangi pak Rafi. Tapi, dengan kuat ia menghempaskan pria-pria yang mencegahnya.


"Mbak! Nanti dia mati!" teriak Gara yang melihat Alung sudah tidak berdaya. Pria itu meringkuk di samping mobil Gara.


Dengan napas yang memburu, Mbak Roh kemudian melempar sapu tepat ke arah Alung.


"Ini belum cukup!!! Apa yang anda lakukan pada Kanina sangat keji!"


"Sudah Mbak, mbak lebih baik masuk!" seru Gara.


Lama-lama Gara ngeri, kemarahan seorang wanita memang sangat menakutkan. Padahal ia tadi sangat emosi, tapi sekarang melihat betapa babak belurnya Alung, ia jadi sedikit kasian. Mbak Roh memukulnya dengan kekuatan penuh, sampai ujung sapu patah. Bisa dibayangkan, betapa sakitnya fisik pria tersebut.


"Bawa dia pergi dari sini, Pak!" Gara menepuk pundak pak Rafi, sekretaris Alung.


Dengan sisa kekuatan yang ada, Alung mencoba bangkit.


"Biarkan saya bicara sebentar saja dengan Kanina," ucapnya serak.


Gara langsung melotot tajam.


BUGH


Bersambung.