
Mencari Daddy Bag. 40
Oleh Sept
Rate 18 +
"Nin, Mas pulang dulu."
"Ada masalah, Mas?"
Gara menggeleng, "Nggak ada. Nanti kalau butuh apa-apa, hubungi Mas."
Kanina mengangguk, ia tidak bertanya lagi. Mungkin suaminya belum bisa bercerita sebenarnya ada apa.
"Buk ... mbak Roh, Gara pamit dulu."
"Iya, hati-hati," pesan bu Lastri ketika melihat Gara akan pergi.
Sedangkan Gara, ia menengok Altar dulu. Mengecupnya lembut, setelah itu menghampiri Kanina. Sambil mengusap lembut kepala Kanina, Gara berbisik.
"Di rumah saja, ya. Jangan ke mana-mana."
Kanina pun mengangguk dan menurut apa kata suaminya itu. Ia juga mengantar Gara sampai depan rumah.
"Sudah ... masuklah. Anginnya kenceng di luar," seru Gara. Padahal, gak ada angin. Hanya saja ada duda sebelah yang sedari tadi wara-wiri joging di sekitar rumah mereka.
Dilihat dari wajahnya, Gara merasa duda sebelah rumahnya itu menaruh hati pada Kanina. Beberapa minggu yang lalu, sempat ia pergoki duda tersebut menatap Kanina yang keluar dari mobil. Dikira ia tidak memperhatikan, di balik kemudi, Gara menatap sebal pada duda tersebut.
"Kunci pintunya," ucap Gara sambil membuka kaca mobil.
Kanina hanya mengerjap, pagi-pagi untuk apa rumahnya dikunci?
"Tutup pagarnya juga ya, Nin."
Gara berhasil membuat Kanina bingung, apa di kompleks perumaahan itu sedang ada buronan yang lepas? Mengapa sang suami jadi lebih over protective?
"Iya!" Kanina akhirnya hanya mengangguk dengan patuh.
Gara pun mulai menambah kecepatan, ia segera menuju ke rumah besar. Di mana sang mama sedang panik menanti kabar Gendis yang tak pulang dari semalam.
***
Kediaman keluarga Kusuma
Tap tap tap
Gara melangkah dengan cepat, derap langkahnya terdengar terburu-buru.
"Ma ... Mama."
"Gar!"
"Mobil Gendis ada di depan, lalu siapa yang bawa?"
"Baru pulang, anak itu baru pulang beberapa menit yang lalu."
Gara mengusap wajahnya, kemudian berjalan menuju kamar Gendis.
Di panggil berkali-kali sama kakaknya, Gendis hanya diam. Cemberut dan malah menarik kain selimut. Membuat sekujur tubuhnya tak nampak.
"Dis!!! Jangan aneh-aneh, semalam kamu tidur di mana?"
Srakkkkk
Gara menyibak kain selimut yang menutupi tubuh Gendis.
"Gendis pulang atau tidak apa peduli Mas Gara? Kan sekarang sudah ada Kanina!"
"Dia sekarang kakak iparmu, panggil yang sopan!"
"Ya ampun! Harus sopan sama dia? Mas gak ingat? Gadis seperti apa dirinya dulu? Sampai keluarga ini harus menampungnya. Perlu Mas tahu, yang gak setuju Mas nikah sama dia itu gak cuma Gendis. Papa juga gak menerima."
Gara menghela napas panjang. Kemudian memegang pundak Gendis.
"Gendis! Kanina sekarang istri Mas Gara."
"Lalu Gendis harus bersimpuh di kakinya?"
"Ndisss!"
"Maaf, Mas. Gendis gak bisa pura-pura suka kalau Gendis tidak menyukainya!"
"Ya ampun! Kamu ini kenapa?"
"Gendis hanya tidak menyukainya!" jawab gadis itu ketus.
"Kamu kan gak pernah mengenal dia sebelumnya. Mengapa sangat membenci Kanina? Apa salah Kanina selama ini sama Gendis?"
"Salahnya satu! Dia ngerebut perhatian Mas Gara dari Gendis!" cetus Gendis dengan mengebu.
"Ndiss! Kamu tetap adik kesayangan Mas. Kenapa kamu pikir Kanina merebut Mas dari kamu? Mas akhir-akhir ini memang sibuk ngurusin proyek makanya jarang tengokin ke Jogya. Bukan karena Mas terlalu sibuk dengan Kanina." Gara mencoba membela diri.
"Tapi, Mas Gara juga jarang telpon Gendis."
"Itu karena mas banyak kerjaan. Bahkan Kanina juga jarang Mas hubungi."
"Benarkah?" mata gadis itu mulai berbinar-binar.
Gara pun mengangguk, baginya sangat mudah membujuk adiknya itu. Sebenarnya lebih tua dari pada Kanina, tapi sikapnya bagai bumi dan langit. Berbanding terbalik dengan istrinya. Yang lebih dewasa, mampu mengendalikan diri serta kontrol emosi.
"Minggu depan Gendis kan wisuda, Gendis mau Mas Gara datang." Gaya bicara seperti biasanya. Super manja pada kakak laki-lakinya itu.
"Iya, Mas pasti datang. Jangan khawatir, Mas akan membawa Kanina juga."
Seketika wajah Gendis langsung masam.
"Mas!"
"Hem!"
"Mas lebih sayang mana, Gendis apa Kanina?"
Bersambung.