
Mencari Daddy Bag. 72
Oleh Sept
Rate 18 +
Sebagai seorang pria yang sudah sangat dewasa, melihat pemandangan yang cukup menggoda, nalurinya mulai terusik. Jakunnya naik turun menatap perut Elena yang tersibak tersebut.
Ingin menghilang pikiran-pikiran seperti itu, Alung bergegas ke luar. Ia memutuskan mencari udara segar di taman untuk menidinginkan kepala. Sembari berteman dengan kepulan asap, Alung menepis rasa inginnya itu.
Esok harinya.
Elena terbangun, ia heran mengapa bangun di atas sofa. Sembari bangkit, gadis itu merengangkan otot. Matanya menajam, melihat kotak makanan di atas meja dengan sebuah note.
[Makanlah! Maaf tidak membangunkanmu. Ku lihat kamu lelah sekali. Gavi baik-baik saja, aku sudah mengeceknya dan bertanya pada dokternya, mungkin besok bisa pulang. Aku ke kantor. Nanti sorean akan datang lagi. Kalau butuh apa-apa, hubungi aku.]
Elena meletakkan secarik kertas yang ditulis tangan oleh suaminya. Ya, suami. Mendengar kata suami, telinga Elena terasa geli. Astaga, dia kini sudah menikah.
Sekarang, karena sudah merasa sangat lapar, sehabis mencuci muka, Elena langsung memakan habis makanan yang sepertinya dibeli oleh Alung.
Tak lama berselang, mama Ami datang. Wanita itu membawa rantang makanan. Padahal Elena sudah makan barusan.
"Ke mana Alung?"
"Sudah berangkat kerja, Tante."
"Ish ... jangan panggil Tante lagi."
"Ehm, iya."
"Ayo makan."
"Elena baru makan, Tante ... eh Ma."
"Makan apa?"
"Tuan Alung yang belikan."
"Tuan? Kamu memanggil suamimu dengan sebutan Tuan?"
Elena bingung, lalu harus memanggil apa.
"Ubah caramu memanggil kami. Dan lagi, biasakan mulai sekarang."
Gadis itu mengangguk pelan. Karena sudah lama merindui sosok anak perempuannya. Mama Ami pun betah berlama-lama berbicara dengan Elena. Ia seperti menemukan penganti Meichan yang lama pergi dari dunia ini.
***
Sore harinya.
Alung datang ke rumah sakit, sedangkan sang mama sudah pulang beberapa waktu yang lalu. Dua orang itu terlihat seperti orang asing, meskipun sudah menikah.
"Mau aku antar pulang?"
Elena menggeleng.
"Butuh sesuatu?"
Gadis itu kembali menggeleng.
"Oh .. ya sudah. Aku keluar dulu."
Elena hanya mengangguk, lagian ia juga kurang nyaman saat dekat dengan Alung. Grogi, cemas dan gelisah. Mana pernah ia mengira akan memiliki suami saat ia masih duduk di bangku sekolah.
Dan lagi, tadi gurunya kembali menghubungi. Elena harus segera balik ke sekolah. Kalau terus-terusan bolos. Ia bisa di keluarkan dari sekolahnya.
Malamnya, seperti kemarin malam. Elena tidur di sofa. Sedangkan Alung, ia mondar mandir tidak jelas. Melihat Elena tidur kok lama-lama kepalanya terasa pusing. Akhirnya ia menyibukkan diri, memainkan ponselnya hingga merasa kantuk dan juga tertidur.
***
Matahari bersinar cerah, secara hati Elena. Hasil pemeriksaan Gavi semuanya sudah bagus. Meski harus rajin kontrol, setidaknya Gavi boleh dibawa pulang. Sepanjang perjalanan menuju rumah, masih seperti kemarin, keduanya memang jarang berbicara. Paling hanya menjawab iya, tidak atau anggukan dan gelengan saja.
"Tidurkan di sini."
"Baru, Tuan?"
Elena menatap box bayi yang seperti baru. Karena kemarin belum ada.
"Mama yang beli," jawab Alung.
"Dan ini Ani, dia asisten sekaligus baby sitter buat Gavi. Besok kamu bisa kembali ke sekolah."
Elena langsung sumringah. Ia memang sudah ingin sekolah lagi.
"Terima kasih, Tuan."
Dahi Alung mengkerut ketika berkali-kali Elena memanggil dirinya dengan sebutan Tuan.
"Elena ..."
"Iya."
"Jangan panggil aku tuan lagi."
Gadis itu langsung kesulitan menelan ludah.
"Ah ... iya ..."
"Panggil apa saja, tapi jangan yang itu. Karena kamu sekarang istriku."
Makin gelisahlah hati Elena. Ia masih memikirkan pelajaran, bukannya masalah rumah-rumahan.
"Iya."
"Ya sudah, aku akan keluar lagi. Ada banyak hal yang harus aku urus."
"Lalu aku harus memanggilnya dengan apa?" batin Elena saat mendengar deru mobil yang semakin menjauh.
***
Pukul 9 malam. Elena yang merasa haus akhirnya terbangun. Sebelum keluar kamar, ia melihat Gavi terlebih dahulu. Ditatapnya bayi laki-laki itu yang sedang terlelap.
Ting tung
"Apa dia baru pulang?" pikir Elena saat akan ke dapur.
Ingin memastikan siapa yang datang, Elena mengintip lewat jendela. Dilihatnya sosok Alung yang berdiri sedang menunggu dibukakkan pintu.
"Apa dia tidak punya kunci untuk rumahnya sendiri?" gumam Elena sembari membuka pintu.
KLEK
"Belum tidur?"
"Baru bangun."
"Oh."
Alung lantas duduk dan melepas sepatunya. Elena hendak mengambilnya. Namun, Alung menolak.
"Aku bisa sendiri."
Pria itu kemudian masuk ke kamarnya sendiri. Meskipun sudah menikah, keduanya masih tidur terpisah. Elena satu kamar dengan Gavi. Sedangkan Alung tidur di kamar utama. Cukup lama Alung hanya rebahan tanpa bisa memejamkan mata.
Oek oek oek
Suara tangisan bayi, membuat Alung makin terjaga. Karena mendengar baby Gavi terus menangis. Alung lantas memeriksa ke kamar sebelah. Ternyata baby sitter Ani dan Elena sudah terbangun
"Kenapa? Apa demam lagi?"
"Nggak, Tuan ... hanya popoknya penuh."
"Oh ...!"
Alung pun keluar dari kamar itu. Kemudian ke dapur untuk membuat kopi.
"Tuan mau saya buatkan sesuatu?"
"Tidak, tidak perlu. Istirahatlah. Besok Elena akan sekolah. Dan seharian kamu akan menjaga Gavi."
"Baik, Tuan."
Beberapa saat kemudian
Alung benar-benar tidak bisa tidur malam ini. Hingga pukul satu ia tetap terjaga. Ya karena ia malah minum kopi beberapa saat lalu. Alhasil matanya semakin sulit terpejam. Bosan di kamarnya, akhirnya ia melihat TV di ruang tengah. Sekalian menemani bila Gavin terbangun lagi.
KLEK
"Belum tidur, Tuan?" Elena kaget saat melihat Alung sedang melihat bola dengan lampu yang dimatikan.
Ia mau mencuci botol sufor milik Gavi, tapi malah mendapati Alung yang masih terjaga tengah malam.
"Apa dia sudah tidur."
"Sudah."
"Lalu kau mau apa?"
Elena menunjukkan benda di tangannya.
"Oh ..."
"Tuan mau saya buatkan sesuatu?"
"Tidak usah."
Beberapa menit kemudian. Elena kembali lewat dengan botol sufor yang sudah bersih dan steril. Diliriknya Alung yang memijit keningnya.
"Tuan sakit?" Elena meletakkan botol di atas meja kemudian duduk tidak jauh dari Alung.
"Tidak, aku baik-baik saja."
Elena pun bangkit, mau basa-basi apa ia juga tidak tahu. Karena besok mau sekolah, ia mau tidur saja.
"Saya kembali ke kamar dulu," ucapnya kaku. Elena berjalan ke kamarnya. Namun, lupa membawa botolnya. Ia meninggalkan di atas meja.
Mau keluar lagi, tapi canggung. Akhirnya ia biarkan saja. Nanti akan ia ambil kalau Gavi mau minum, pikir Elena.
Sedangkan Alung, ia tersenyum tipis. Kemudian berdiri sambil meraih botol-botol tersebut. Botol yang ditinggalkan oleh Elena.
Tok tok tok
"Aduh!" pekik Elena. Sudah sangat malam. Dan sepertinya itu bukan Ani yang sedang mengetuk pintu kamarnya.
KLEK
"Tuan ... ada apa?"
"Kamu meninggalkan ini."
"Iya, lupa."
Elena kemudian meraih benda itu. Dan tanpa sengaja tangan mereka malah bersentuhan.
Prangggg
Salah satu botol jatuh, reflek keduanya saling menunduk untuk mengambilnya. Kali ini mata Alung kembali terusik. Jiwa laki-lakinya kembali dipertaruhkan. Melihat Elena yang menunduk saat memungut botol, tanpa sengaja matanya malah melihat belahan bukit barisan. Dan gawatnya, ada sesuatu yang mulai bereaksi.
Haduh! Ini ujian bagi Alung. Bersambung. Akankah ada malam pertama sebelum Elena lulus sekolah? Bersambung.