
Mencari Daddy Bag. 83
Oleh Sept
Rate 18 +
"Kenapa selalu menutup mata? Apa kamu sedang menahan sakit?"
Elena menggeleng pelan.
"Lalu kenapa? Buka matamu ... aku ingin melihat sorot mata itu. Mata yang cantik ... seperti namamu." Di saat genting, masih saja Alung mengombal.
Padahal tubuh sudah bertaut, jelas saja Elena yang baru dimasuki dua kali itu meringis menahan perih. Sekeras apapun pemanasan, Elena masih saja merasa pedih.
"Apa kamu takut hamil sebelum lulus? Nggak usah khawatir, besok aku sempatkan membeli alat itu. Jadi jangan cemas, aku tidak akan membuatmu hamil sebelum acara kelulusan.
Lalu, apa Elena percaya ia tidak akan hamil? Pasalnya, sudah dua kali terhitung malam ini, Alung sudah menaruh benih cebong di dalam rahimnya. Jadi, Elena ragu. Apalagi sedang masa subur.
Meski masih remaja, Elena paham betul dan sempat membaca di buku serta artikel di internet. Beberapa waktu yang lalu ia memang habis kedatangan tamu bulanan. Jadi, bisa dibayangkan betapa suburnya Elena saat ini.
***
Kini, setelah melakukan kegiatan olah raga malam, Elena sudah terlelap. Ia tidur sambil menyandar pada bagian bidang itu. Sedangkan Alung, pria tersebut menarik selimut. Menutupi tubuh Elena, takut masuk angin karena pakaian istrinya itu sudah ia buang entah ke mana.
Sembari merasakan rasa kantuk yang perlahan datang, tangannya mengusap kepala Elena lembut. Selang beberapa saat kemudian, mereka berdua sudah sama-sama terlelap.
Pukul 3
Alung terbangun, ia merasa kesemutan. Ternyata Elena bergeser, menjadikan lengan pria itu sebagai bantal. Alhasil, separuh lengan Alung merasa kebas.
Pelan-pelan ia mencoba menarik lengan dan menggantikan dengan bantal. Namun, malah membangunkan Elena.
"Masih malam, tidur lagi saja."
Cup
Bibir Alung sudah mulai terbiasa mengabsen wajah Elena. Bangun tengah malam, langsung mendarat tepat di kening istrinya tersebut.
"Jam berapa?" tanya Elena dengan suara serak.
"Jam tiga, kenapa?"
Wanita muda itu menggeleng, kemudian tangannya tanpa sadar diletakkan di atas perut Alung. Elena kemudian menutup mata lagi, sepertinya ia masih merasa kantuk. Beda dengan Alung, posisinya sangat bahaya. Hingga ia tidak mampu menutup mata.
Pria itu tersenyum kecut, hanya dipeluk saja sinyalnya langsung memancar dengan kuat. Astagaaa! Benar-benar efek Jones. Terlalu lama membujang, mungkin inilah sebabnya. High voltage!
"Ngantuk!" gumam Elena saat Alung kembali merangsek.
"Minum dulu ya?" tawar Alung pada orang yang ngantuk berat.
CUP
"Ngantuk banget ... masih capek."
"Nanti aku pijitin!"
Setttttt
Dia yang menyelimuti, dia juga yang menyibak kain tebal tersebut.
"Ya ampun ... ngantuk banget." Elena meraih guling, memeluknya dengan erat. Tapi, Alung langsung menyingkirkan benda yang menghalangi misinya itu.
Detik berikutnya, Elena dibuat terkekeh. Bagaimana tidak, Alung menggelitikinya tanpa ampun. Mengusir rasa kantuk yang semula dirasakan begitu berat oleh Elena.
"Cukup ... cukuppp!"
Malam-malam dua insan itu malah meringis, terkekeh di dalam kamar kosong. Mbak Ani yang tidur di kamar sebelah sampai bergidik ngeri. Dikira rumah itu berhantu. Karena setau mbak Ani, kamar di sebelah adalah kamar kosong. Mengapa kini terdengar suara-suara aneh.
***
Pagi harinya.
Alung sedang sarapan bersama Altar, habis ini ia akan mengantar putranya kembali ke hotel. Dan saat Elena membantu Bibi menyiapkan camilan setelah sarapan, mbak Ani keluar dari kamar sambil mengendong baby Gavi. Mbak Ani lantas menghampiri Elena yang kala itu sedang di dapur.
"Sini ... biar Elena gendong, Mbak."
Mbak Ani pun memberikan Gavi pada saudara perempuannya. Setelah Elena pergi ke meja makan, mbak Ani lalu bisik-bisik.
"Bik ... rumah ini sepertinya ada hantunya."
"Ngomong apa sih kamu, An!"
"Beneran!"
"Kebanyakan nonton uji nyali kamu, An!" cetus Bibi sambil senyum yang mencibir.
"Astaga!!!! Bibi nggak denger sendiri sih."
"Sudah-sudah! Jangan aneh-aneh. Kamu pasti lelah ngurus Gavi. Sana! Ambil piring, lebih baik sarapan biar tetap waras."
"Bibi kira saya berhalusinasi?"
Wanita paruh baya itu hanya tersenyum, menatap mbak Ani yang ia pikir hanya berbicara omong kosong.
"Tunggu saja kalau Bibi nggak percaya. Nanti malam bakal saya rekamin! Semoga hantunya nonggol lagi!" batin mbak Ani.
Elena yang kebetulan mau mengambil botol dot Gavi yang ada di dapur, seketika mematung saat mendengar pembicaraan keduanya. Sepertinya kejadian semalam meninggalkan seorang saksi mata. Bersambung.