Single Mother

Single Mother
Jedak-Jeduk



Mencari Daddy  Bag. 28


Oleh Sept


Rate 18 +


Malam-malam Gara sudah membuat jantung Kanina mau lepas dari tempatnya. Bagaimana tidak, padahal ia belum memberikan jawaban pasti. Kok pria tersebut tiba-tiba mengajak pulang ke rumah ibunya. Apalagi untuk mengambil berkas-berkas pribadinya guna persiapan menikah.


"Tapi, Mas Gara ..."


Gara lalu berjalan ke arah Kanina, "Jangan buat saya tersiksa terlalu lama. Jujur, saya nggak mau pulang malam ini. Begitu juga malam-malam berikutnya."


Kanina menelan ludah kemudian menundukkan wajah.


"Iya ... besok kita ke tempat ibuk."


Bibir Gara langsung mengembang, "Ya sudah, saya pulang dulu."


Entah saking senangnya atau terlalu bersemangat, hingga tangannya terangkat dan mengusap kepala Kanina dengan lembut.


"Sampai ketemu besok!" ucapnya sebelum pergi dan menghilang dari balik pintu. Sementara itu, Kanina masih diam membatu. Ia nampak tertegun, kemudian mengusap bekas tangan Gara pada rambutnya.


Ada yang berdesir, tapi sedikit ia tahan. Hanya sudut bibirnya yang terangkat, mengambarkan perasaan yang tidak bisa ia sembunyikan. Kanina pun memilih tidur, berharap bisa mimpi indah. Menggantikan mimpi buruk yang selama ini menemani malamnya.


***


Di tempat lain


Jakarta


"Tuan, sebaiknya kita pulang. Ini sudah sangat malam. Tuan butuh istirahat," ujar Pak Rafi pada bosnya yang masih serius dengan laptop di depannya.


"Kamu pulang duluan, masih ada file yang perlu saya periksa!" tolak Alung yang nampak begitu serius.


"Tapi, Tuan ...!"


Alung mengacungkan tangan, mengusir sekretarisnya itu dengan halus.


"Baiklah, saya permisi, Tuan."


Satu jam kemudian


Sudah pukul 9 malam, tapi Alung masing saja bergelut dengan pekerjaan. Pria itu kini jadi gila kerja. Dia bertekat membuat mama Ami bangga pada dirinya. Bahwa ia bisa menjadi sosok yang bisa diandalkan.


Karena saking capeknya, Alung sampai tertidur di ruang kerja. Ia bangun terbangun saat jam sudah menunjukkan pukul 11 malam. Buru-buru pria itu mengambil kunci mobil dan tas, segera ia turun ke lantai bawah.


"Baru pulang, Pak Alung?" sapa security saat berpapasan dengannya.


Pria itu kemudian mengemudikan mobilnya seorang diri. Menyusuri jalanan ibu kota, yang semakin larut makin ramai. Seolah para warganya turun ke luar semuanya.


Tin tin tin


Alung menghela napas kesal, saat mobil di belakangnya terus saja membunyikan klakson. Sudah tahu macet, malah bikin keributan dengan bunyi-bunyian yang mengusik tersebut. Biasanya, ia akan turun dan menantang si pengemudi. Tapi, sekarang Alung lebih bisa kontrol diri. Sedikit demi sedikit sifat pria itu mulai berubah, dan akhirnya waktu lah yang bisa mendewasakan Alung.


Tiba di rumah, lampu sudah mati. Artinya sang mama yang sering terjaga sampai larut malam sudah tertidur. Dengan pelan ia naik tanga.


Ceklek


Byakkk


Lampu rumahnya langsung menyala. Alung yang kala itu baru menaiki beberapa tangga langsung berhenti dan menoleh ke belakang.


"Baru pulang?"


Alung mengangguk.


"Sudah makan?"


Pria itu diam saja, sudah lama sekali rasanya mama Ami tidak bertanya, sudahkah ia makan apa belum. Dan karena Alung hanya diam, mama Ami kemudian berjalan ke dapur sambil berbicara.


"Mandilah! Lalu turun. Mama siapkan makan."


Ketika mamanya sudah menghilang dari pandangan, Alung tidak bisa menyembunyikan apa yang ia rasa. Terasa sesak, entah mengapa. Sang mama yang mulai perhatian, membuat hati Alung seperti tertusuk. Alung kembali teringat, bagaimana bandelnya dia di masa lalu. Bagaimana selalu membuat wanita itu tersiksa karena ulahnya.


***


Esok harinya


Pagi-pagi Gara sudah bertamu, ya bertamu di rumahnya sendiri.


"Sudah siap?" tanya Gara pada Kanina yang saat itu wajahnya sedikit lebih cerah. Karena selama ini Kanina terkesan murung.


"Ayo masuk mobil, sini Nin. Altar biar Tante gendong!" Bu Sadewo terlihat bersemangat. Ia memutuskan untuk ikut ke rumah Kanina.


"Eh! Jangan di belakang, duduk di depan sama Gara. Tante sambil gendong lebih leluasa duduk di belakang," cegah bu Sadewo saat melihat Kanina mau masuk mobil. Padahal itu hanya akal-akalan mamanya Gara agar Kanina lebih dekat dengan putranya.


Akhirnya, dengan canggung Kanina duduk di sebelah Gara. Padahal biasanya juga tidak kenapa-kenapa, biasa saja. Tapi, kenapa saat ini keduanya terlihat sangat canggung dan kaku?


Bahkan memasang sabuk pengaman saja Kanina sampai grogi. Hingga Gara yang membantu memasangnya. Tambah jedag-jedug lah hati keduanya saat wajah mereka tidak sengaja berdekatan. Bersambung.


Namanya juga perjaka tua idaman, siapa yang tidak jedak-jeduk dibuatnya. Hahaha