
Mencari Daddy Bag. 35
Oleh Sept
Rate 18 +
"Langsung ke rumah Gara ya, Buk ... Mbak ..." ucap Gara saat acara sudah selesai. Ia memang berencana memboyong bu Lastri dan mbak Roh untuk tinggal bersama mereka. Lagian biar Kanina bisa lebih dekat dan tidak murung lagi.
Bu Lastri pun setuju saja, toh dia memang masih rindu dengan putrinya itu. Dan saat Mbak Roh menolak, Kanina yang membujuk. Karena selama ini Mbak Roh selalu ada untuk keluarga Kanina.
Pengantin baru itu pun naik mobil, Pak Ramlan yang menyetir. Kanina bersama sang suami dan bu Sadewo serta Altar. Di kursi paling belakang, ada mbak Roh dan bu Lastri. Lalu mobil di belakang, ada Tuan Kusuma serta putrinya, si Gendis.
"Mas mu menikah, jangan masam begitu," celetuk tuan Kusuma.
"Seperti tidak ada gadis lain. Ngapain nikahi Kanina? Status nggak jelas, perawan bukan ... janda bukan ... Mas Gara pasti bisa dapatkan lebih, Pa!"
"Panggil yang benar, sayang. Dia sekarang istri mas mu."
Sebenarnya ada keganjalan dalam hati prua tersebut saat Gara dan sang istri mengatakan bahwa akan menjadikan Kanina mantu di rumah itu. Sebagai orang tua pasti menginginkan yang terbaik bagi anaknya. Tapi bagaimana lagi, barangkali ini memang jodohnya Gara.
Suka atau tidak, mereka harus menerima. Dari pada Gara tidak mau menikah sampai tua? Bisa-bisa nanti jamuran. Akhirnya tuan Kusuma pun memberi ijin. Sedangkan Gendis, ia masih tidak terima. Bahkan ia tidak mau pura-pura tersenyum. Saat sesi photo saja, ia sengaja bermuka masam.
***
"Tuan ..." panggil sekretarisnya.
Alung memejamkan mata dalam-dalam, setelah melihat Kanina masuk mobil pria lain. Dan sepertinya itu adalah suami baru Kanina. Kemudian melihat seorang wanita mengendong bayi masuk mobil yang sama. Mengapa Alung begitu yakin, bahwa itu adalah bayinya?
"Tolong cari informasi tentang gadis yang baru menikah itu. Dan Saya ingin tahu secepatnya."
"Baik, Tuan. Lalu kapan kita kembali? Akan saya siapkan ticketsnya."
Alung diam tidak bisa menjawab.
"Tuan ... Kita harus segera kembali, Karena besok ada kunjungan ke pembukaan kantor cabang baru. Sudah mundur tiga hari, sepertinya tidak bisa mundur lagi."
Alung menghela napas panjang, matanya kemudian melirik mobil yang ditumpangi Kanina. Mobil itu melintas begitu saja di samping mobilnya yang parkir di depan masjid besar tersebut.
"Baik, Tuan."
***
Kediaman Anggara
Rumah yang selalu sepi itu kini terlihat ramai, bahkan Kanina yang biasanya irit bicara, kini sedkit-sedikit sudah banyak bercerita pada mbak Roh dan ibunya. Dan hal itu membuat Gara lega. Setidaknya sang istri ada teman untuk berbicara.
Setelah makan-makan yang sederhana, akhirnya semua pulang. Tinggal Kanina, Gara, Altara, Mbak Roh dah bu Lastri. Sedangkan semua pihak keluarga Gara, telah pulang ke rumah.
"Nanti biar Altar tidur sama Mbak," ucap mbak Roh.
Gara dan Kanina saling menatap, waktu itu semua masih di ruang tamu. Nonton TV sambil berbincang santai.
"Nggak apa-apa Mbak, biar tidur sama kami. Nanti nyari ibunya," kata Gara sembari mengusap pipi Altar yang sedang dipangku bu Lastri.
"Oh ya sudah."
***
Seperti rencana awal, pengantin baru itu tidur bertiga. Ada Altar di tengah-tengah kasur yang empuk itu. Kasur yang baru beli beberapa waktu lalu. Gara sengaja membeli yang ukurannya lebih besar. Biar bisa muat banyak. Rupanya, ada Altar di dalam kamar itu cukup banyak manfaanya. Bisa mencairkan kecanggungan di antara pengantin baru tersebut.
Oek Oek
"Kenapa kok tiba-tiba nangis?" tanya Gara sembari menatap jagoan kecilnya itu. Bagi Gara, Altar adalah putranya sendiri. Ia yang merawat Altar selama anak itu masih dalam kandungan. Bahkan ia pula yang mengadzani bayi itu ketika baru lahir. Mungkin tidak ada ikatan darah antara mereka, tapi ada ikatan batin, sebuah ikatan rasa yang tidak kasat mata. Lebih tulus dan lebih dalam.
"Mungkin haus, biar aku beri ASI dulu."
Gara menelan ludah.
"Apa Mas harus keluar dulu?"
Kanina menggeleng. Dan Gara semakin menelan ludahnya. Bersambung.