
Mencari Daddy Bag. 92
Oleh Sept
Rate 18 +
Seperti tidak merasa salah dalam berucap, dengan santai mbak Roh mengendong baby Azil yang semula dalam pangkuan Kanina.
Sementara itu, Elena merasa sangat canggung. Dan Alung, pria itu tidak bisa menyembunyikan rasa kesalnya. Alung ingat betul bagaimana mbak Roh memukuli dirinya dengan sapu.
Tap tap tap
Ara berlari menuju rumah, di belakang bocah kecil dengan rambut kepang ekor kuda itu, langsung mendarat di pangkuan sang mama.
"Om Alung bawa apa?" celoteh Ara saat melihat ada Om Alung yang bertamu. Kebiasaan pria itu selalu membawa buah tangan untuk anak-anak Kanina dan Gara bila ia mengunjungi Altar.
"Wahhhh ... Om lupa, memangnya Ara mau apa?" Alung berjongkok, menatap Ara dengan tatapan gemas. Putri pertama Gara tersebut memang sangat lucu. Matanya yang bulat, bibirnya mungil dan kalau berceloteh pasti meliuk-liuk seperti ombak di bibir pantai.
"Kok lupa Om? Biasanya nggak lupa?" protres anak kecil itu.
"Ara ...!" panggil Gara yang ikut masuk sambil menenteng paper bag dan sekantung besar. Entah, sepertinya isinya popok bayi dan peralatan bayi lainnya.
"Iya, Pa." Gadis kedil itu mendekat ke arah papanya sambil melirik ke arah Alung.
"Sini!"
Gara lantas menyerahkan belanjaan pada Kanina, sedangkan ia langsung mengendong Ara. Dan antara Alung serta Gara nampak terjadi perang tatapan dingin. Mungkin ini karena telpon Alung ke ponsel Kanina beberapa waktu lalu.
"Al, ganti baju dulu, sayang!" titah mbak Roh.
Seolah tidak mendengar seruan mbak Roh, Altar malah merapatkan pelukan pada Alung.
"Altar mau ikut Daddy!"
Mata Kanina langsung melotot tajam.
"Ganti baju, Al!" serunya dengan tegas.
Melihat mamanya marah lagi, Altar pun masuk ke dalam kamar dengan wajah masam. Dan setelah Altar masuk, Alung mulai bicara. Di dalam sana masih ada Gara dan juga Elena.
"Jangan keras-keras pada Altar, jika kamu mulai kerepotan. Altar bisa ikut aku ke Jakarta."
Bruakkk
Semua orang kaget, mereka semua lalu menatap ke arah Gara. Pria itu menendang kursi kosong di sebelahnya. Alung sadar, Gara pasti marah mendengar idenya.
"Kalian sudah sibuk dengan dua anak, aku lihat juga Altar mulai mengeluh."
"Tahu apa kamu masalah rumah kami?" sentak Gara yang mulai tersulut emosi.
"Mas." Kanina memegangi bahu suaminya, ia tidak mau Ara ketakutan melihat papanya marah.
"Mbak Roh, ajak Ara masuk ya."
Sambil mengendong Azil, mbak Roh lantas menggandeng tangan kecil Ara.
Kini, yang ada di ruang tamu hanya Gara, Kanina, Alung dan Elena.
"Katakan! Apa tujuan kamu ke sini sebenarnya." Kali ini Gara bicara dengan nada serius.
"Altar! Anak itu ... tolong ijinkan tinggal bersama kami."
"Jangan gila kamu!" Gara menahan marah. Sedangkan Kanina, ia menghela napas dalam-dalam.
"Jangan rusak hubungan yang sudah terjalin dengan baik karena keegoisanmu," tambah Kanina.
"Egois? Aku hanya ingin bersama anakku." Alung masih kekeh bahwa ia berhak atas diri Altar.
"Dia mungkin darah dagingmu, tapi aku yang merawatnya. Jangan harap kamu berhak atas Altar," serang Gara yang tidak terima kalau Alung membawa Altar. Enak saja, ia sudah menjaga Altar semasa dalam kandungan, sekarang sudah besar daddy-nya datang meminta hak asuhnya.
"Malam itu aku sudah mencarinya! Mana kutahu kalau ia akhirnya hamil." Alung menatap Kanina. Wajah wanita itu langsung mengeras. Bisa-bisanya Alung membahas masa kelamnya itu di depan orang lain. Bagi Kanina, Elena adalah orang asing.
Ucapan Alung itu pun kembali memancing kemarahan, membuat Gara mengepal tangannya. Sedangkan Elena, sejak tadi ia merasa tidak nyaman. Ia sangat tidak suka terjebak di dalam suasana di sana.
"Daddy! Altar sudah bawa baju. Altar mau ikut."
Tiba-tiba Altar muncul sambil menarik koper kecil. Anak itu rupanya benar-benar mau ikut daddy-nya.
"Al! Masuk!" titah Kanina.
"Nggak! Altar mau ikut Daddy!" Altar mulai berontak.
"Altar! Masuk!" seru Gara dengan suara berat.
"Nggak mau! Altar mau ikut Daddy!" Anak itu berjalan dan berhenti di belakang tubuh Dady-nya.
"Jangan buat Mama marah!" Kanina mulai memperlihatkan sungutnya. Ia menarik lengan putra pertamanya itu.
"Nggak!" Altar menepis tangan mamanya.
"Sebulan, biar dia ikut saya sebulan."
"Altar! Jangan membantah! Cepat masuk kamar!" Gara sudah tidak tahan.
"Nggak mau!!!"
"Kalian jangan egois!" protes Alung.
"Tolong tinggalkan rumah kami sekarang!" Kanina tidak mau Alung membawa Altar. Ia pun akhirnya memutuskan mengusir tamu tidak diundang tersebut.
Bagi Kanina, Alung bebas mengunjungi buah hatinya itu, tapi tidak boleh serakah dan meminta Altar tinggal dengannya. Perselisihan dan kekesalan antara anak dan orang tua itu hal lumrah, jadi Kanina tidak mau, Alung masuk dalam cela permasalah keduanya. Mengambil keuntugan dengan mengambil hak asuh Altar.
"Mama jangan usir, Daddy ... Mama jahat!"
Kanina langsung menarik tangan putranya. Tidak mau anak itu nekat pergi bersama Alung. Sedangkan di luar, Gara masih bersitegang dengan Alung.
***
Esok harinya
Kanina bangun dengan kepala yang terasa pusing, ini karena semalam ia diskusi dengan Gara masalah Alung dan Altar. Hingga ia kesiangan.
"Nin ... Nina ... gawat, Nin!" Mbak Roh muncul tiba-tiba seperti hantu.
"Ya Allah, ada apa, Mbak?" tanya Kanina sambil memijit-mijit kepalanya.
"Altar!!! Altar, Nin."
"Kenapa lagi anak itu?"
"Altar hilang."
Kanina langsung bergegas turun dari ranjang dan menuju kamar Altar. Bersambung.