
Mencari Daddy Bag. 80
Oleh Sept
Rate 18 +
"Siapa yang telpon?"
Suara Alung membuat Elena terhenyak, ia kembali terkejut. Kemudian memberikan telpon yang semula ia angkat.
"Tadi bunyi terus, aku lihat mama yang menelpon. Maaf ... karena sudah menjawab telpon dengan lancang."
Alung tersenyum tipis.
"Gak papa," jawabnya pada Elena.
"Iya ... hallo Ma. Ini Alung."
"Gimana? Kamu denger kan tadi Mama ngomong apa?"
"Maksud Mama? Nih baru Alung angkat, tadi repot di kamar ambil sesuatu. Ada apa Ma? Tumben telpon?"
"Lah? Yang tadi angkat telpon Mama siapa?"
"Oh ... Elena, mantu Mama."
"Elena? Lung! Mama tadi bicara tentang Kanina dan Altar. Kamu sudah cerita sama dia, kan?"
"Maksud Mama?" Alung menatap istrinya. Ia mengamati ekpresi Elena.
"Iya ... Altar ada di Jakarta sekarang."
"Altar di Jakarta?" ulang Alung.
"Iya, cepet kamu jemput di hotel. Mama mau ketemu."
"Oh, iya Ma. Alung matiin dulu, nanti aku hubungi Kanina."
Tut Tut Tut
Telpon terputus.
"Len!"
Alung melihat suasana mulai tidak enak. Suasana menjadi dingin. Atmosphere di ruangan itu kini sedikit sesak, seolah telah kehilangan oksigennya.
"Len ...!"
Elena terus saja menundukkan wajahnya.
"Kamu tidak mau tanya? Siapa yang Mama maksud tadi?"
Elena menggeleng seolah semua baik-baik saja. Namun, gesture tubuh wanita muda itu mengatakan lain. Elena tidak baik-baik saja.
"Ya sudah. Dengar baik-baik, agar kamu nggak salah paham. Lebih baik kamu tahu dariku sendiri."
Alung kemudian menghela napas dalam-dalam.
"Dia putraku."
Seperti dihantam ombak, hati Elena langsung tercecar mendengar suaminya memiliki anak. Pasalnya ia kira suaminya perjaka tong-tong. Eh, ternyata punya dia buntut.
Waktu seolah berhenti cukup lama, Elena menunggu jawaban dari suaminya itu.
"Bukan! Kamu yang pertama," ucap pria tersebut sembari meraih tangan Elena. Seolah tidak mau istri kecilnya itu pergi karena tahu masa lalunya.
Elena pun mendongak, ia sedikit terkejut mendengar jawaban sang suami.
"Kamu wanita pertama yang aku nikahi, Elena. Dan ... maaf. Masa laluku terlalu buruk, hingga aku tidak mau menceritakan semuanya."
Elena mulai menebak, mungkin anak yang dimaksud adalah anak di luar nikah.
"Sekarang, kamu tahu kan. Aku sudah memiliki putra. Tapi, itu tidak akan merubah apapun. Mungkin kamu sangat terkejut, tapi inilah aku ... dengan segala masa lalu yang mungkin terlihat sangat buruk di mata orang lain."
Alung berhenti berbicara, ia kembali menatap Elena.
"Setelah tahu semua ini. Apa kamu membenciku Elena?"
Elena yang masih shock, hanya diam. Kemudian menarik tangannya yang semula digengam erat oleh Alung.
Melihat keraguan di mata Elena, Alung langsung beranjak. Ia kemudian mengambil kunci mobil dan menarik tangan istrinya.
Elena hanya diam saja, saat masuk mobil pun ia tidak berkata-kata. Barangkali ia masih bingung harus bagaimana. Usianya yang masih belia, membuatnya belum siap mersepon dengan baik masalah yang ada dalam rumah tanggannya. Baru menikah, tiba-tiba suaminya punya anak.
Sambil mengemudi, Alung memasang headset. Ia menghubungi nomor salah satu dalam ponselnya.
"Hallo ... Mama bilang kalian sudah di Jakarta. Di hotel mana? Boleh tidak kami sekarang ke sana?"
Elena melirik lewat ekor matanya. Apa? Ia akan dibawa menemui anak dari suaminya itu? Elana kan belum siap. Alung mengambil keputusan sendiri tanpa mengatakan apapun pada dirinya.
Setelah mendapat alamat, mobil merah itu langsung melesat.
WUSHHHH ... dan berhenti tepat di sebuah hotel di kota itu.
KLEK
Alung membuka pintu mobil untuk istrinya.
"Dia tidak pernah ke sini sebelumnya, karena aku yang biasa berkunjung ke rumahnya. Kami jarang bertemu, jadi ... aku harap kamu bisa menerima dirinya," ucap Alung.
Lobby hotel
Elena berjalan di sisi Alung dengan wajah gelisah. Wanita muda itu memang masih merasa aneh dengan situasi seperti ini. Dan kegelisahan itu semakin menjadi saat seorang anak berlari ke arah mereka.
"Daddy!!!!" teriak Altar.
Anak itu berlari dan menghambur pada pelukan sang ayah.
Di belakang Altar, muncul wanita cantik sedang hamil. Makin lemas lah kaki Elena. Sedangkan Gara, pria itu masih jauh di belakang karena sembari menuntun Ara yang kalau jalan ada saja tingkahnya. Menyentuh barang ini itu yang dilewatinya.
Kanina mendekat, mengusap kepala Altar yang begitu senang karena bertemu Daddy-nya. Sementara itu, Elena diam terpaku. Merasa kerdil sendirian.
Alung yang begitu senang karena bertemu putranya, baru menyadari keberadaan istrinya yang tidak ada di sana. Ia kemudian menoleh. Setelah melepas pelukan, ia menggandeng tangan Altar. Membawanya ke arah Elena.
"Sayang! Kenalin ... ini Mom-nya Altar. Mommy cantik, kan?" goda Alung yang ingin mencairkan suasana.
"Cantikkk!" jawab Altar dengan senyum cerah.
Elena terlihat bingung, ia tidak mengira anak suaminya sudah sebesar itu. Lalu wanita yang tengah hamil itu bagaimana? Setelah melihat seorang pria merangkul bahu Kanina, akhirnya Elena bisa bernapas lega. Oh ...
Bersambung.