Single Mother

Single Mother
Angry Lung



Mencari Daddy  Bag. 77


Oleh Sept


Rate 18 +


"Len!" Alung menatap istrinya dengan intense. Dilihatnya sang istri masih memegang salep. Pria itu terus saja menatap ke arahnya. Membuat Elena tidak nyaman.


"Tadi pagi baik-baik saja, kan?"


Alung memindai dari wajah sampai lengan Elena yang kelihatan biru-biru. Tadi bagi ia lepas istrinya ke sekolah dengan keadaan baik-baik saja. Alung hanya membuat Elena sakit pada bagian intinya. Bukan parah seperti ini. Mendadak otaknya yang pintar mulai menerka. Wajah pria itu tiba-tiba berubah mengeras. Terlihat memendam amarah.


"Siapa? Katakan!" tanya Alung dengan ekpresi marah. Tangan pria itu mengepal, menahan emosi.


"Kenapa dia marah seperti itu?" pikir Elena. Bagi gadis seperti Elena, luka ini tak seberapa. Saat tinggal bersama ayah sambung, yaitu ayah Gavi dulu. Ia malah sering mendapat pukulan lebih dari ini.


Tidak ada yang membela, karena Elena hanya diam. Bila ditanya sang ibu, ia hanya bilang habis jatuh. Itu semua karena ancaman dari sang ayah. Jadi, luka yang ia terima saat ini, hanya seujung kuku. Hanya secuil dari pada rasa sakit saat ia kecil dulu.


"Aku tanya padamu, siapa yang berani melakukan ini?" suara berat itu terdengar menakutkan. Ada hawa panas yang tiba-tiba menyeruak di kamar Elena. Baru kali ini Elena melihat suaminya begitu marah.


"Mereka hanya bercanda." Elena berbohong, sebab ia tidak mau suaminya itu datang ke sekolah.


"Bercanda katamu?"


"Auchhhh!" Elena meringis saat Alung memegang lengannya.


Pria itu ingin memeriksa, di mana saja Elena terluka. Ia makin geram saat Elena meringis menahan sakit. Ini bukan bercanda! Ini sangat serius.


"Eh!"


Elena memeluk tubuhnya sendiri ketika pria itu mau membuka bajunya tiba-tiba.


"Aku hanya ingin tahu! Seberapa jauh mereka bercanda padamu!" sentak pria tersebut yang masih kesal.


"Ta-tapi," Elena bergidik ngeri, sorot mata suaminya kali ini benar-benar meresahkan. Tajam dan menakutkan. Hingga ia tidak berani lagi menghalangi Alung untuk melihat seluruh tubuhnya.


"Ishhh!" Alung menghela napas dengan kesal.


"Rapikan pakaianmu! Ayo ke kantor polisi, sekarang!"


"Jangan, Tuan! Aku nggak apa-apa!" Elena mencoba meyakinkan bahwa ia tidak apa-apa.


"Aku tidak suka dibantah! Dan lagi, aku suamimu! Jangan lagi-lagi panggil tuan!" cetus Alung sembari melangkah keluar.


"Astaga! Kenapa pria itu sangat marah sekali?" gumam Elena sambil memakai bajunya kembali.


***


Kantor polisi


Malam ini Alung langsung membawa istrinya ke kantor polisi guna membuat laporan. Ia tidak terima istri yang dihemat-hemat malah jadi korban penganiayaan.


Tidak ada kata damai, Alung ingin pelakunya segera ditangkap. Setelah dilakukan visum dan lain-lain, kini tinggal menunggu para pihak berwenang menjemput paksa pelaku bullying.


Malam itu, Fuji juga dihadirkan sebagai saksi. Sebab yang menemukan pertama kali dan melihat anak-anak nakal itu kabur adalah Fuji. Kini, suasana terlihat kaku saat Elena, Alung, dan Fuji duduk di satu meja setelah pemeriksaan.


"Ji! Ini suami aku."


Fuji terlihat shock, dan jadi salting sendiri. Makanya Elena mau aja diajak nikah. Lah wong Alung gantengnya kelewatan. Ia jadi punya cita-cita baru. Menikah muda, menikahi pria tampan dan mapan tentunya.


"Hai ... aku Fujiana, Om ... eh!" Fuji melipa bibirnya. Bingung juga mau manggil apa. "Apa aku salah manggil ya?" batin gadis itu.


"Terima kasih, sudah mau datang dan bersaksi." Alung terlihat masih dingin. Dan suasana kembali tegang.


Sesaat kemudian, beberapa orang masuk. Sambil teriak, meronta dan mengumpat.


"Eh! Sialan lo, Len!! Berani lo bikin laporan palsu!" maki Angel yang tangannya masih dipegangi polisi. Ia melotot dan menatap tajam ke arah Elena.


BRUAKKK


Semua terhenyak saat Alung mengebrak meja. Bersambung.