
Mencari Daddy Bag. 57
Oleh Sept
Rate 18 +
Pernyataan Gendis terang saja membuat semua tercenggang. Terutama Gara, ia tidak menyangka sama sekali. Kalau ternyata Gendis masih tidak menyukai wanita pilihannya. Yang kini sudah menjadi kakak iparnya. Bahkan sekarang, gadis itu malah ingin mencelakai calon anaknya. Jelas Gara shock campur marah.
"GENDIS!" sentak bu Sadewo. Ia juga sangat kecewa dengan putrinya itu. Mengapa ia bisa membesarkan anak seperti Gendis? Mengapa anak yang ia rawat dengan penuh kasih tumbuh dengan hati penuh benci?
"Kamu Keterlaluan, Ndis!" Gara menatap tajam pada Gendis. Sedangkan Gendis, bukannya meminta maaf, gadis itu dengan percaya diri mengangkat wajahnya.
"Mas Gara baru mengenal Kanina beberapa tahun, mengapa sekarang sangat berubah? Jangan salahkan Gendis karena sangat benci dengan dia!" ganti Gendis yang melotot tajam ke arah Kanina.
"Gendis! Cukup! Minta maaf pada mereka!" sentak bu Sadewo. Ibu yang tidak pernah bicara keras itu kini sedikit menaikkan nada bicaranya.
"Nggak sudi!"
PALAKKK
"Maaaa!"
Bibir Gendis bergetar sembari memegangi pipi yang terasa panas. Ia tidak menyangka, sang mama menampar dirinya. Dan ini adalah pertama kalinya sang mama melukai fisik Gendis. Tidak hanya fisik sih, karena ditampar di tempat banyak orang, ia tambah sakit hati. Kecewa, Gendis lari keluar dari kediaman sang kakak.
Saat Gara akan mengejar, sang mama menghalangi.
"Jangan kejar! Biarkan!"
"Ma!"
"Biarkan dia merenungi kesalahannya."
Semua orang di dalam sana langsung terdiam, Kanina merasa tidak enak sendiri. Ia merasa semua ini bersumber darinya. Dan mulai dari situ lah, Gendis tidak pernah pulang ke rumah. Sampai dengan 3 tahun kemudian.
***
Jakarta
"Lung, musim libur sekolah, kan? Bisa tidak ajak Altar nginep? Sekali saja?"
Mama Ami memohon dengan wajah penuh harap pada sang putra.
"Sudah, Ma. Kalau Mama mau ketemu, Alung antar kaya biasanya."
"Dia kan cucu Mama juga? Masa tidak boleh? Sebentar saja?"
"Mana boleh, Ma? Suami Kanina itu pasti tidak akan mengijinkan."
Wanita itu langsung menghela napas panjang.
"Ya sudah! Kamu nikah saja, buat Altar yang lain ... Mama sudah tua, Mama mau menghabiskan masa tua Mama bermain bersama cucu-cucu Mama."
Alung hanya tersenyum tipis, entah mengapa. Hatinya belum tergerak untuk memilih pendamping. Fokusnya hanya pada pekerjaan. Dan lagi, memang belum ada wanita yang bisa mengetarkan hati Alung.
"Jangan diam saja, ada temen arisan Mama. Tante Lusi, mau ya ... Mama kenalin sama anaknya?"
"Astaga, Mama. Alung masih laku. Untuk apa Mama jodoh-jodohin?"
"Nanti, Ma ...nanti. Belum ada yang cocok."
"Ish! Mau cari yang bagaimana? Jangan bilang kamu mau seperti ibunya Altar?" tuduh mama Ami dengan tatapan menyelidik.
Alung terdiam sejenak. Kepalanya malah berpikir, jangan-jangan ia tidak bisa lagi dekat dengan wanita karena rasa bersalahnya? Tapi sang mama malah menebak yang berbeda. Dikira naksir Kanina. Kan bukan begitu, Alung menutup hati karena merasa bersalah.
"Nggak lah, Ma. Alung tidak ada pikiran ke sana."
"Bagus kalau begitu. Mama tidak mau kamu merusak rumah tangga orang. Apalagi setelah apa yang kamu lakuin di masa lalu."
Alung kembali terdiam, benar kata mamanya itu. Ia sudah pernah merusak hidup Kanina sekali, rasanya terlalu kejam jika merusak hidup wanita itu lagi.
"Ya sudah, Ma. Alung pergi dulu."
"Hati-hati!"
"Hemm."
***
Perusahaan Kakao Group
Ruang interview
Ketika sedang diadakan interview untuk seleksi karyawan baru, beberapa peserta sibuk ngerumpi di ruang tunggu.
"Eh ... katanya bosnya jomblo, loh!"
"Sok, tau!"
"Ada yang bilang dia duda. Punya anak satu, tapi ikut sama ibunya!"
"Duda rasa perjaka dong?"
Semua langsung kompak terkekeh, kecuali satu orang. Ia duduk dengan gelisah. Matanya menatap ke sana ke mari. Terlihat sekali kalau ia sedang mencemaskan sesuatu.
"Jangan tegang-tegang, Dik! Eh berapa usiamu? Sudah punya KTP belum, kok ngelamar di sini?" tanya salah satu peserta interview yang berpengalaman. Terlihat dari cara ia berpakain dan pembawaanya.
Semua pun memperhatikan penampilan gadis itu. Memang sih, terlihat babyface. Makanya ada yang mengira jangan-jangan belum punya KTP.
Gadis itu mengangkat wajahnya, terlihat manis. Matanya sendu, dan sepertinya ia sedang menyembunyikan kesedihan.
Sesaat kemudian
"Nona Elena Patricia!" panggil seorang saat pintu ruang interview terbuka.
Elena lantas berdiri, dengan gugup ia masuk ruangan.
"Kau yakin ingin melamar kerja di sini?"
Baru juga duduk, suara berat itu membuat Elana mendongak, menatap lawan bicaranya.
Bukkkk
Alung melempar data diri Elena. Ia merasa gadis itu sedang main-main. Bersambung.