Single Mother

Single Mother
Memacu Adrenaline



Mencari Daddy  Bag. 81


Oleh Sept


Rate 18 +


"Maaa ... boleh Altar nginep di rumah Daddy?"


Kanina melirik ke arah Gara, dan ternyata Gara mengangguk. Ia pikir suaminya tidak memberikan ijin. Rupanya Kanina keliru.


"Horeee!"


Altar terlihat sangat senang, meskipun tidak tinggal serumah setidaknya ia bisa merasakan kasih sayang daddy-nya selama ini dari jauh dan kunjungan rutin sang ayah tiap bulan.


"Sama Mama ... Papa dan Ara yaaa?" Manik mata itu berbinar-binar menatap ke arah orang tuanya.


"Mama tidur di hotel saja, sementara Altar bisa menginap di sana," terang Kanina yang pasti tidak akan nyaman menginap di rumah Alung.


"Nggak mau!!!! Mau sama Mama sama Papa!" Altar merajuk, ia tidak pernah tinggal terpisah dari kedua orang tuanya. Mana mau ia jauh-jauh dari sang mama.


"Biar Mama Papa di sini, nanti malam tidur sama Daddy," bujuk Alung. Seketika Altar langsung sumringah.


"Asikkkk!" teriak Altar dengan girang. Sedangkan Elena sejak tadi merasa canggung di antara mereka.


***


Beberapa saat kemudian


Altar sudah digandeng Dady-nya menuju mobil. Malam ini ia boleh menginap di rumah ayah kandungnya tersebut. Sedangkan Kanina dan Gara serta Ara, mereka kembali ke dalam hotel.


Sepanjang jalan, Altar terus saja berbicara. Ia menceritakan banyak hal pada Dady-nya tersebut. Sementara itu, mommy sambungnya yang kecil itu, hanya jadi penonton. Masih sekolah sudah punya suami dan bahkan anak SD. Elena memijit keningnya, dari pada anak, Altar mungkin cocok jadi adiknya. Mendadak ujung bibirnya tertarik. Ia pun tersenyum tipis.


***


"Ini rumah Daddy?" tanya Altar antusias.


"Daddy! Aku mau renang!" seru Altar lagi saat mobil memasuki halaman dan disambut kolam renang yang luas dengan air yang jernih.


"Nanti agak sorean ya?"


Altar menurut, ia mengangguk dan kembali melihat ke luar jendela. Rumah Dady-nya memang jauh lebih besar dan megah dibanding rumah papanya. Dan saat masuk ke dalam rumah, anak kecil itu kembali terkesan. Ternyata omanya tidak bohong kalau rumah Dady-nya sangat besar.


Oek oek oek


Altar menoleh ke sana ke mari, mencari sumber suara. Mengapa ada suara bayi menangis?


KLEK


Mbak Ani keluar sambil menggendong baby Gavi.


"Kenapa, Mbak?" Elena mendekat kemudian mengambil alih Gavi.


"Baru bangun, tadi sedikit rewel."


"Kenapa, sayang?" Elena yang masih remaja itu, mengendong Gavi dengan sayang.


"Daddy! Ini adik Altar?" tanya Altar yang terus memperhatikan mommy barunya itu.


Alung hanya tersenyum, kemudian mengusap kepala putranya itu.


"Kenapa, Al? Kamu mau dibikinin Daddy adik? Bukankah di rumah sudah adek Ara dan satu lagi?"


Altar mengangguk cepat. Membuat Alung mengerutkan dahi.


"Apa masih kurang?"


"Temani Oma, kata oma ... oma gak punya teman."


Alung kemudian mengusap pucuk kepala Altar. Rupanya Altar mau adik lagi untuk menemani sang Oma. Mama Ami memang selalu begitu, ia bilang di rumah tidak ada temannya. Berharap Altar mau ikut bersama mereka. Dasar Altar lugu. Ia malah meminta sang ayah untuk membuat adik. Agar omanya ada teman.


"Jangan kuatir, nanti Daddy buatin adik yang banyak. Altar memang mau berapa?"


"Sepuluh?" tanya Alung tak percaya sambil tertawa.


Sedangkan Altar, ia tertawa dengan lugunya. Dan ada hati yang merasa tersentil. "Sepuluh? Astaga!" batin Elena.


Malam harinya, Altar sudah terlelap di pangkuan Dady-nya. Anak itu sudah terbang ke alam mimpi. Tidur nyenyak, karena kali pertama bisa menginap di rumah Dady-nya. Sedangkan Alung, ia masih terjaga meski sudah larut.


Pelan-pelan ia meletakkan Altar, kemudian turun dari ranjang karena lama-lama kakinya kesemutan juga. Setelah itu Alung ke dapur, tiba-tiba merasa haus. Eh, di dapur malah ketemu Elena. Jadi tadi Elena tidur di kamar baby Gavi.


"Kebangun, Len?"


"Iya ..."


"Besok jangan sekolah ya."


"Hah?"


"Jagain Altar di rumah."


"Em ... iya."


"Ya sudah, cepet tidur, jangan bergadang."


"Iya."


Alung kemudian terkekeh, istrinya hanya iya-iyaa saja sejak tadi.


"Bisa buatkan kopi?"


"Bisa ... iya. Tunggu sebentar."


Sambil menunggu kopinya siap, Alung lantas ke ruang tengah. Ia mau melihat pertandingan bola saja, karena tidak bisa tidur.


Sesaat kemudian, Elena datang membawa secangkir kopi panas.


"Ini kopinya."


"Terima kasih."


"Ada lagi?"


"Tidak ada ... Heem ... ngantuk tidak? Kalau tidak, bisa duduk sini? Nonton bola."


"Elena nggak suka bola," jawab Elena polos.


"Oh ... ya sudah. Tidurlah."


"Aku suka nonton Film."


"Hah?" Kali ini Alung yang bengong.


Akhirnya mereka pun berakhir dengan nonton film barat dari pada melihat pertandingan bola.


"Kamu suka film ini?"


"Iya, bagus."


"Bagus apa? Horor begitu," pungkas pria tersebut sambil menahan geli.


Elena hanya tersenyum, apalagi dilihatnya wajah Alung yang bergidik ngeri saat sosok hantu keluar dari dalam sumur.


"Astagaaa Elena! Seperti ini kamu suka?" tanya Alung tak percaya. Wanita muda itu ternyata seleranya mengerikan juga.


"Seru, bisa memacu adrenaline," ucap Elena tanpa berpaling dari hantu yang terus merangkak di layar kaca.


"Lalu bagaimana dengan ini? Bisa memacu adrenaline juga apa tidak?"


Seketika Elena menutup mata. Bersambung.