Single Mother

Single Mother
Memar dan Lebam



Mencari Daddy  Bag. 76


Oleh Sept


Rate 18 +


UKS


Hidung Fuji kembang-kempis menahan kesal. Ia sangat marah melihat teman baiknya itu diserang oleh para pembully.


"Bu Galuh harus tegas! Bukan kali ini aja Angel dan teman-temannya seperti ini."


Ketika Elena memilih diam, bungkam dan tidak banyak mengadu pada guru. Fuji malah melakukan hal sebaiknya. Baginya, apa yang menimpa Elena itu tidak adil. Kali ini Angel dan gengnya tersebut harus diberikan hukuman yang tegas.


"Kamu tenang saja, Ji ... Len! Yang terlihat dalam hal ini, tidak akan Ibu lepaskan."


Setelah mendengar pernyataan gurunya tersebut. Barulah Fuji merasa tenang. Sedangkan Elena, ia yang terlihat resah dan gelisah. Sudah pukul tiga sore. Tapi ia belum ada di rumah. Baru juga dipikirkan, eh sang suami menelpon dirinya.


Elena pun mengangkat panggilan suara dari suaminya, sembari melirik ke arah bu Galuh dan Fuji. Melihat Elena mengangkat telpon, bu Galuh pun keluar. Ia akan mulai mengurus sesuatu. Sedangkan Fuji, dengan tajam ia melirik Elena lewat ekor matanya. Apalagi saat mendengar Elena bisik-bisik. Jangan-jangan gosip itu benar, Elena jadi peliharaan sugar Daddy.


Dengan cepat ia menggeleng dan menepis pikiran gila itu. Fuji yakin, Elena tidak seburuk itu. Tapi ...


"Iya," ucap Elena di telpon.


"Katanya Ani kamu belum pulang. Aku tadi telpon rumah. Apa ada kelas tambahan?"


"Iya, Elena lupa bilang," jawab Elena sembari berbohong.


"Pulang jam berapa? Ini aku juga mau pulang lebih awal. Aku mampir seklian jika waktunya sama."


"Nggak usah ... nggak usah. Ini sudah mau pulang, Tuan." Elena jelas menolak.


"TUAN?" Fuji memincingkan mata. Ia nampak gelisah juga. Pikirannya sudah ke sugar daddy betulan.


"Ya sudah, sampai ketemu di rumah."


"Iya."


Tut Tut Tut


Telpon pun terputus


"Len! Kamu gak jual diri, kan?"


Begitu Elena sudah mematikan ponselnya, Fuji langsung menyerangnya dengan pertanyaan yang menohok. Tapi, Elena tidak tersinggung sama sekali. Dari pada tuduhan atau fitnah, ekpresi Fuji saat Ini terlihat peduli. Seolah respect pada Elena. Karena Fuji menunggu jawaban Elena dengan tampang gelisah.


"Kamu tenang saja. Dulu sempet kepikiran. Bahkan sudah pernah di booking. Masuk hotel pula ... tapi syukurlah. Semua gak sampai terjadi."


"Apa? Kamu gila! Ya ...!"


"Adik aku yang bayi itu sakit. Butuh banyak biaya buat ke rumah sakit."


"Ngomong sama aku, nanti aku bantu bilang ke mamaku!"


"Terima kasih, Ji! Terima kasih selama ini sudah baik. Tapi aku nggak mau repotin kamu."


"Kamu best friend aku, kan? Harusnya bilang kalau lagi kesusahan kek gini!" protes Fuji.


Elena langsung memeluk gadis itu, "Terima kasih! Sekarang aku udah gak apa-apa."


Fuji lantas melepas pelukan mereka, kemudian bertanya dengan wajah serius.


"Tadi kamu bicara di telpon dengan siapa? Pakai acara tuan tuan segala?"


Elena langsung menelan ludah dengan kasar. Selama ini Fuji baik, dan nggak ember. Sahabat setia lah. Tapi, masa ia cerita apa yang terjadi. Apa lebih baik ia jujur saja? Para pembully boleh salah paham. Tapi, Elena ingin Fuji tahu, ia tidak seburuk seperti kabar yang sudah menyebar di kalangan sekolah tersebut.


"Kamu jangan kaget, ya."


Elena tersenyum, meskipun wajahnya sedikit kaku karena memar.


"Tenang aja! Kami pasangan halal, kok."


"Hah?" Fuji terngaga, "Pasangan halal?"


Elena mengangguk dengan canggung.


"Kita belom cetak KTP, kan Len?" tambah Fuji yang masih shock.


Elena hanya tersenyum dengan canggung.


"Yang anter tadi pagi suamimu?"


Elena mengangguk.


"Astagaaa!!!!"


***


Pukul 4 sore


Elena pulang naik taksi, sampai di depan gerbang. Ia turun dan merapikan bajunya yang agak kusut. Sambil jalan setengah menahan perih dan rasa sakit karena digebukin anak-anak badung, Elena pun melangkah dengan pelan.


"Aduh! Mobilnya udah ada di rumah!" gumam Elena melihat mobil yang tadi pagi memancing suasana panas di sekolahnya.


Aneh, sebelum menikah biasanya suaminya itu jam segini pasti masih di kantor. Ini mengapa masih sore sudah pulang? Elena yang polos tidak tahu, bila pengantin baru memiliki 1001 modus.


KLEK


Saat masuk rumah, ia berhati-hati sekali melangkah. Biar tidak ketahuan Alung.


"Baru pulang?" sapa Alung yang juga baru keluar kamar.


"Iya, Elena mandi dulu." Buru-buru wanita itu pergi. Tidak mau Alung melihat wajahnya yang memar.


Alung pun merasa aneh. Ada apa dengan istri kecilnya itu. Mengapa seperti ada yang disembunyikan.


Sudah satu jam lebih, dan Elena tak kunjung menampakan batang hidungnya. Alung kan sebenarnya pulang cepet-cepet karena ingin segera melihat istrinya itu. Tapi, malah tidak keluar dari kamarnya. Hanya ada Ani yang keluar masuk sambil gendong Gavi.


"An! Elena mana?"


"Ada, Tuan."


"Ngapain di kamar dari tadi?"


"Mbak Elena sedang ngolesin salep, Tuan."


"Salep apa?" kepo.


"Itu ... badannya memar semuanya?"


Alung langsung diam seketika. "Apa ini gara-gara semalam?" pikir Alung dalam hati.


"Apa separah itu?"


"Iya, Tuan. Lebam dan banyak memarnya."


"Loh!" Alung mulai panik. Masak malam pertama mereka membuat Elena lebam dan memar. Semalam ia melakukan dengan halus kok. Penasaran, Alung pun masuk ke dalam kamar Elena.


KLEK


Bersambung.


Alung mikirnya ke situ terus ...