Single Mother

Single Mother
Ide Mama Ami



Mencari Daddy  Bag. 67


Oleh Sept


Rate 18 +


Bayi itu terus saja menangis, sedangkan Elena bingung. Sudah digendong, ditimang-timang juga belum berhenti menangis juga.


"Dia lapar," ucap mama Ami kemudian. Masih memindai Elena dan bayi kecil di gendongan wanita muda tersebut.


Elena hanya menunduk, kemudian meminang baby Gavi.


"Pacar Alung? Istri ... atau?" tanya mama Ami yang sangat penasaran. Tapi jantungnya masih berdegup kencang. Ia masih sangat shock, betul-betul terkejut karena ada wanita muda di rumah anaknya. Ditambah lagi dengan seorang bayi. Kenapa Alung menyembunyikan wanita muda ini? Astagaaa! Apa Alung kembali berulah?


Tiba-tiba saja tubuh mama Ami lemas. Ia meraih kursi dan duduk di dekat ranjang. Dengan mata yang juga terus mengawasi wanita muda tersebut.


Oek ... oek ...


Gavi begitu cengeng, ia rewel dan terus menangis. Lama-lama mama Ami tidak sabaran. Ia kemudian perlahan mendekati Elena.


"Sini ... biar saya lihat!"


Dengan ragu-ragu Elena memberikan bayi kecil dalam gendongannya.


"Anak Alung?"


"Bukan!" Elena menggeleng keras.


"Astagaaa!" batin mama Ami memekik. Lalu anak siapa itu? Terlalu banyak pertanyaan dalam benak wanita paruh baya tersebut.


"Katakan, kamu siapa?"


Elena menelan ludah sebelum memberikan jawaban. Ia juga sedikit tenang ketika baby Gavi terlihat tenang dalam gendongan mama Ami.


"Bukan siapa-siapa, Tante."


"Lalu kenapa kamu di sini? Kamu tahu? Ini rumah putra saya?"


Elena mendongak sebentar, ia baru tahu bahwa wanita di depannya adalah ibu dari pemilik rumah. Makin gelisah lah hati Elena. Bingung mau menjawab apa.


"Maaf, Tante."


"Saya nggak butuh kata maaf, cukup jelaskan. Kamu siapa, dan bayi ini?"


"Elena ... saya Elena Tante. Dan ini adik saya."


"Adik? Jangan bohong pada saya."


Tap tap tap


Terdengar derap langkah kaki yang mendekat. Alung datang membawa sekaleng sufor dan diapers.


"Mama ...!"


"Kamu hutang penjelasan sama Mama, Lung!"


Pria itu kemudian meletakkan barang bawaannya. Padahal ia hanya mampir untuk memberikan benda yang dibelikan pak Rafi barusan. Tapi malah ketemu sang mama.


"Mama kenapa di sini?"


"Bukan!!! Tante! Dia bukan pacar Elena. Dan Elena nggak hamil. Elena bahkan masih sekolah." Buru-buru Elena membela diri. Ia tidak mau Alung disalah pahami karena sudah menolong dirinya.


Sedangkan mama Ami, matanya melotot. Ia menatap bayi dalam gendongannya. Memang sih, Elena terlihat imut masih seperti anak sekolah. Lah terus? Ini bayi siapa?


"Maaa!!! Itu bukan anak Alung. Itu adiknya Elena."


"Kamu pikir Mama percaya? Agar Mama tidak marah?" Mama Ami belum mau percaya begitu saja. Ia menganggap Alung sudah melakukan kesalahan yang sama. Membuat anak gadis orang hamil. Astagaaa! Alung benar-benar membuat jantung sang mama mau lepas dari tempatnya.


"Mama dengarkan dulu Alung ngomong."


"Mau membela kaya apa lagi? Apa Kanina belum cukup?"


"Ma!!!"


"Tante, maaf kalau saya membuat masalah di rumah ini. Mana adik saya, Tante. Saya akan meninggalkan rumah ini. Dan Tante harus percaya, kami tidak memiliki hubungan apa-apa. Kami bahkan baru bertemu belum lama ini," sela Elena yang merasa tidak enak sendiri. Baginya sudah cukup untuk menyusahkan pria yang menolong dirinya itu.


"Tetap di sini!" ucap mama Ami dan Alung secara bersamaan.


Elena tertegun setelah itu menelan ludah dengan berat.


"Dia masih kecil, Ma! Mama salah paham. Alung hanya menolong gadis ini. Dia bahkan masih duduk di bangku sekolah. Dan bayi ini memang adiknya. Ibunya meninggal saat melahirkan bayi ini." Alung mencoba menjelaskan satu persatu.


"Lalu kenapa kamu bawa ke sini?" Mama Ami masih saja curigaan.


"Mau dibawa ke mana lagi, Ma?"


Mama Ami melirik Alung dan Elena bergantian. Kemudian menarik napas panjang.


"Kamu masih sekolah?"


Elena mengangguk.


"Kelas berapa?"


"Tiga."


"Sebentar lagi lulus?"


Elena mengangguk.


"Lung ....!" panggil mama Ami.


"Iya."


"Selama ini Mama tahu, setelah kejadian itu, kamu sama sekali tidak pernah terlibat dengan wanita. Sekarang kamu membawa gadis muda ini ke rumah ini. Mama tanya dan jawab jujur. Apa hanya kasihan atau kamu punya maksud tertentu?"


"Maksud Mama apa? Jelas Alung hanya merasa kasihan."


Elena mencoba tersenyum meski kecut.


"Baiklah, sejak Meichan pergi. Mama selalu merindukan sosok anak perempuan. Kalau kamu memang hanya merasa kasihan. Mama pun akan membawa Elena tinggal bersama Mama. Biar jadi ganti Meichan."


Mama Ami kemudian melihat ke arah Elena. "Mau jadi anak Tante?"


"Jangan!" sela Alung. Bersambung.