
Mencari Daddy Bag. 15
Oleh Sept
Rate 18 +
"Tidak apa-apa, tenang Kanina ... !"
Gara mengusap punggung Kanina, mencoba menenangkan hati gadis tersebut. Sepertinya Kanina masih terjerat pada rasa trauma yang tidak pernah diobati tersebut.
Beberapa saat kemudian
Kanina sudah lebih tenang, setelah terisak dalam pelukan Gara, kini ia berbaring dan mencoba memejamkan mata.
"Tidurlah! Saya akan menunggu di luar!"
Gara pun meninggalkan kamar tersebut, rasanya juga tidak bagus lama-lama satu kamar dengan seorang gadis. Dan saat matahari mulai tengelam, pria itu terlihat khawatir meninggalkan Kanina sendirian.
"Sudah malam, saya pulang ya, Nin? Apa kamu tidak apa-apa?"
Kanina hanya mengangguk dengan tatapan kosong. Dan hal itu membuat hati Gara tidak tenang, mungkin jiwa kemanusian pria itu tergugah. Melihat kondisi Kanina yang terguncang setelah bertemu pelaku kejahatan menyimpang tersebut, Kanina malah seperti raga yang kosong.
Di saat Gara gamang mau pulang atau tidak, tiba-tiba ada tamu tidak diundang. Bukan tetangga yang waktu tadi menyapa Gara. Namun, orang lain. Bu Sadewo turun dari mobil yang dikendarai Pak Ramlan, sopir pribadi keluarga Sadewo.
Ia terlihat tergesa-gesa, meski jarang berjalan cepat. Tapi kali ini ia nampak buru-buru. Sepertinya ia ingin meyakinkan sesuatu, tadi bu Sadewo dapat telpon dari seseorang yang mengucapkan selamat atas pernikahan putranya.
Selamat apanya? Gara putranya belum menikah mengapa ada yang mengucap selamat atas pernikahan putranya itu. Sebagai ibu kandung Gara, bu Sadewo merasa ketar-ketir. Sebenarnya ada apa? Mengapa putranya menikah tanpa meminta ijin padanya?
Tok tok tok
Di dalam rumah, Gara yang memutuskan untuk pulang tertegun sejenak. "Siapa yang datang?" pikir Gara. Jangan-jangan itu tetangga yang tadi, Gara pun menghela napas dalam-dalam.
KLEK
"Ma ...!"
Pria itu langsung menelan ludah. Dan bu Sadewo tanpa menunggu dipersilahkan masuk, bergegas masuk ke dalam. Wanita paruh baya itu membuka satu persatu pintu kamar di rumah itu. Pas membuka pintu ke tiga, hatinya langsung terhenyak. Dan Gara tidak mampu mencegah apapun. Sudah terlanjur mamanya tahu.
Apa yang terjadi terjadilah, Gara benar-benar sudah tidak berkutik di depan sang mama. Seperti maling yang ketahuan, meskipun ia sama sekali tidak bersalah dalam hal ini. Namun, bukti yang ada menunjukkan hal yang sebaliknya.
Sementara itu, Kanina hanya menatap polos pada bu Sadewo yang shock melihat dirinya terbaring di atas ranjang.
"Gara! Kamu hutang banyak penjelasan sama Mama!" ucap bu Sadewo dengan tenang tapi penuh penegasan.
Gara pun hanya mampu memegangi kepalanya yang mendadak pusing. Ia memijit pelipisnya, migraine langsung datang. Bagaimana bila ia mengatakan hal yang sebenarnya? Pasti sang mama mengusir Kanina. Lalu bagaimana nasib gadis itu? Sudah mengangap Kanina sebagai adiknya sendiri. Ah, pria itu jadi dilema sendiri.
"Dia istri kamu? Kenapa kamu menikah tanpa memberitahu Mama? Mengapa Mama harus tahu kabar ini dari orang lain? Apa yang kamu sembunyikan?" tuntut bu Sadewo dengan wajah serius.
"Kami belum menikah, Mah."
"Apa? Belum? Lalu mengapa orang lain mengatakan sebaiknya?" seolah tidak percaya, sedangkan bukti di depan mata.
"Dia hamil!" jawab Gara lirih.
Seperti tersambar petir, jawaban Gara membuat sang mama terbelalak. Bersambung.