Single Mother

Single Mother
Pilihan Hati



Mencari Daddy  Bag. 69


Oleh Sept


Rate 18 +


Mama Ami tidak bisa menyembunyikan senyumnya. Sudut bibirnya terangkat, wanita itu tersenyum tipis ketika mendengar jawaban dari seorang gadis tentang putranya. Ia pikir Alung akan membujang selamanya. Tidak disangka, sang putra malah terlibat dengan gadis muda yang bahkan masih berstatus sebagai pelajar.


***


Hari itu Alung tidak kembali lagi ke kantor, ia sudah meminta pak Rafi membatalkan semua agendanya. Ada sesuatu yang ingin ia urus. Tentunya berkaitan dengan Elena dan sang mama.


"Tetap tinggal di sini, nanti akan aku carikan baby sitter untuk adikmu. Dan kamu bisa lanjutin sekolah kembali," terang pria itu dengan wajah serius.


Elena melirik sebentar, kemudian menatap adiknya yang sedari tadi dalam gendongan mama Ami. Rupanya, adik bayinya itu sangat diterima oleh mama Ami. Mungkin karena selama ini mama Ami benar-benar kesepian dan sangat merasa bosan. Seolah mendapat cucu langsung tanpa harus menunggu sembilan bulan.


"Mama setuju kan? Elena tetap di sini? Dan Mama gak perlu khawatir, Alung gak bakalan tidur di sini. Aku akan tetap tidur di rumah seperti biasa. Jadi Mama tidak usah mikir aneh-aneh." Ganti Alung menatap sang mama.


"Hem ... baiklah kalau begitu," ucap mama Ami kemudian.


***


Sudah pukul tujuh malam. Mama Ami sudah pulang sore tadi, sedangkan Alung, pria itu baru akan pulang setelah melihat jam.


"Kalau ada apa-apa, langsung hubungi aku." Alung pamit mau pulang, meski sebenarnya masih mau di sana. Tapi sesuai janjinya pada sang mama. Ia harus pulang. Tidak boleh lama-lama di sana.


"Iya."


"Ya sudah, besok aku ke luar kota. Mungkin beberapa hari tidak ke sini. Kalau ada apa-apa bilang saja ke Bibi."


"Iya," jawab Elena dengan canggung.


***


Matahari bersinar cerah, musim liburan telah tiba. Alung dan sang mama sudah berada di sebuah Bandara. Ini adalah jadwal rutin mereka mengunjungi Altar.


"Nanti sekalian bilang ke mereka, kamu mau menikah. Biar nanti kita bisa gampang minta ijin bawa Altar."


"Masih lama, Ma. Elena masih sangat muda."


"Yakin? Kamu bisa tahan? Mama nggak percaya!" cibir mama Ami sembari mengamati orang yang lalu lalang.


"Cih ... Alung melajang sudah bertahun-tahun, Ma. Ini belum ada apa-apanya."


"Lihat saja nanti, kalau ada kesempatan," pungkas mama Ami seolah tidak percaya dengan putranya sendiri. Membuat Alung tersenyum kecut dan ekpresinya berubah masam.


***


Surabaya


"Daddy!!!!"


Altar menghambur ke pelukan sang ayah ketika pria itu baru turun dari mobil. Selama ini keduanya memang sering berkomunikasi meski hanya lewat telpon atau vcall.


Sedangkan Gara, pria itu terlihat tak lagi secemburu seperti sebelumnya. Gara nampak jauh lebih santai. Sembari mengendong Ara, ia mempersilahkan tamunya masuk.


Mereka semua pun mengobrol di ruang tamu. Sedangkan mbak Roh dan bu Lastri menyiapkan makanan. Kanina sendiri ada di kamarnya. Akhir-akhir ini ia memang kurang sehat karena ngidam berat.


"Kanina mana? Kok Tante tidak lihat dari tadi?" Mam Ami memindai seluruh ruangan.


"Agak kurang enak badan," jawab Gara.


Suasana dingin untuk sesaat.


"Sudah, lah wong bukan sakit biasa. Ngidam Buk!" ucap mbak Roh yang ikut nimbrung saat membawakan minuman.


"Hamil lagi?" Mama Ami terlihat shock. Dan hal itu mencairkan suasana kembali.


"Iya, hamil lagi!" ucap mbak Roh.


"Wah! Hebat Mas Gara," puji mama Ami. Membuat hidung pria tersebut kembang kempis.


"Sebentar lagi Alung nyusul, Dady-nya Altar juga mau menikah." Mama Ami juga mau menyombongkan putranya sedikit.


"Selamat!" Gara tersenyum tulus. Kalau Alung menikah, artinya mengurangi sedikit kecemasan selama ini. Ia pikir, daddy-nya Altar itu tak kunjung menikah karena Kanina.


Setelah cukup lama mengobrol, akhirnya mereka pamit pulang. Mereka akan dua hari di kota itu. Besok rencananya akan membawa Altar keliling kota untuk jalan-jalan. Dan ternyata Gara dan Kanina memberikan ijinnya.


***


Time zone


Di sebuah mall paling besar di kota itu, Alung menghabiskan banyak waktunya bersama dengan Altar. Mereka main game, dari permainan balapan sampai adu ketangkasan.


Puas main game, mereka nonton film. Sedari tadi mama Ami mengikuti dari belakang. Ia senang melihat putranya kencan dengan cucu pertamanya itu. Meski jarang bertemu, Altar terlihat dekat dengan daddy-nya. Mungkin ikatan darah yang kental, serta ketulusan Alung selama ini, mampu membuat Altar dekat meski mereka harus tinggal terpisah.


Ketika langit mulai gelap, mereka pun harus berpisah. Meski berat, mau tidak mau Alung dan mama Ami harus menunggu bulan depan untuk ketemu lagi.


***


Jakarta


Kediaman Alung


Baby Gavi sudah menangis sejak tadi, bayi itu kembali demam. Panik, tidak tahu harus bagaimana karena tahu bahwa Alung sedang di luar kota. Maka, dengan bantuan Bibi, baby Gavi dibawa ke rumah sakit lagi.


Esok harinya, Alung yang baru tiba beberapa jam yang lalu ingin melihat kondisi Elena sebelum ke kantor. Namun, ia sangat terkejut ketika Bibi bilang Elena di rumah sakit.


"Kenapa tidak bilang saya?" sentak Alung pada Art-nya.


"Maaf, Tuan."


Alung lantas bergegas menuju rumah sakit. Melupakan pertemuan pentingnnya yang sudah ia tunda dari kemarin.


Drettt drettt ...


Ia mengabaikan ponselnya yang sedari tadi bergetar.


Kemudian sebuah pesan singkat masuk.


[Tuan, Pak Agung dari Sidomoro Group sudah menunggu]


"Ish!!" Alung mendesis kesal. Kemudian memacu kendaraan yang ia kendarai.


WUSHHHH


Hingga akhirnya sampai di persimpangan jalan. Antara ke perusahaan bertemu klien penting atau menuju ke rumah sakit di mana Elena sudah pasti sedang cemas. Setelah berpikir sejenak, mobil itu kembali melesat dengan kecepatan penuh.


Bersambung