Single Mother

Single Mother
ADIK



Mencari Daddy  Bag. 64


Oleh Sept


Rate 18 +


"Klien ... tadi sempat makan malam bareng," kelit Alung yang tidak mau menjelaskan panjang lebar.


"Oh, ya sudah. Mama tidur lagi, lain kali kalau pulang telat, langsung kabari dulu."


"Hemm. Iya, Ma."


Setelah sang mama pergi ke kamar, Alung pun ke kamarnya sendiri. Lelah setelah apa yang terjadi hari ini, tanpa mengganti pakaian, pria itu langsung memejamkan mata.


***


Pagi yang cerah, secerah hati seorang wanita yang sedang jalan pagi bersama keluarga kecilnya. Sudah seperti truck gandeng, Gara memegang terus tangan Kanina. Seolah tidak mau pisah. Sedangkan Altar, anak itu asik bermain sekuter di depan mama papanya.


"Olah raga pagi, Mas?" sapa tetangga Gara dan Kanina.


Kanina hanya tersenyum tipis, sedangkan Gara, pria itu sedikit canggung saat akan membalas sapaan yang ramah dan senyum sumringah tersebut. Ini karena tetangga mereka yang tidak seperti tetangga pada umumnya.


Mbak Rosita, sering disapa Mbak sita. Janda kembang yang banyak dibicarakan emak-emak kompleks akhir-akhir ini. Janda cantik itu jadi bahan hibahan karena selalu memakai baju minim. Padahal, suaminya belum meninggal 40 hari.


Entah apa tujuan janda muda nan cantik itu, dan sepertinya akhir-akhir ini ia mencuri pandang pada Gara. Sepertinya ia tertarik pada suami tetangganya itu. Wajar sih, karena Gara pria tampan dan mapan, ditambah sopan. Siapa yang menolak insan seperti dia? Dasar mbak Sita yang suka kegenitan, pagi itu ia sengaja nimbrung dengan Gara dan keluarganya kecilnya yang sedang berolah raga.


"Mas Gara, listrik rumah saya kayaknya ada masalah, nanti tolong bantu periksa, ya?"


Kanina memincingkan mata, listrik bermasalah kok bukannya telpon PLN. Kenapa bilang suaminya? Kanina yang sedang hamil muda, mendadak merasa jengkel. Padahal selama ini ia begitu santuy. Meskipun sang suami ditaksir satu RW. Mungkin hormon kehamilan, membuat Kanina jadi lebih sensitive.


"Nanti saya telponkan PLN, Mbak."


Tahu istrinya masam, Gara lantas menolak dengan halus.


"Oh, gitu ya? Barangkali Mas Gara mau memeriksan sebentar saja?" Mbak Sita mulai memaksa.


"Nanti biar Pak Ramlan yang bantu lihat ya, Mbak," potong Kanina kemudian menarik tangan suaminya.


Pak Ramlan adalah sopir pribadi di rumah Gara yang lama. Merasa dicuekin, Mbak Sita mlengos dan pergi dengan sebal. Ia merutuk sambil jalan cepat.


"Apa bagusnya Kanina? Huh!!! Cantikan saya ke mana-mana. Belum tahu saja Mas Gara, bagaimana goyangan saya!" Tiba-tiba bibirnya melengkung, ia tersenyum sendiri. Janda muda itu pun melanjutkan olah raga paginya.


Suit suit suit ...


***


Pagi yang lain, di kota besar yang katanya lebih kejam dari pada ibu tiri. Terlihat seorang gadis sedang menatap kosong ke arah jendela di sebuah rumah sakit. Sesekali ia melirik ke belakang. Menatap adikknya yang masih bayi dengan tatapan gelisah.


Tadi pagi adik bayinya itu kembali menunjukkan gejala yang buruk. Sempat membuatnya panik. Merasa hanya seorang diri, ia bingung harus bagaimana. Apalagi guru BK dan salah satu teman sebangku Elena terus saja menelpon. Menanyakan kapan Elena masuk sekolah lagi.


Bingung, Elena pun hanya melamun saja. Tanpa melakukan apa-apa. Hingga ia tertidur sambil duduk di kursi sampai sore menjelang.


"Mbak ... bangun."


Suster menepuk pundak Elena lembut. Tapi gadis itu tidak bangun.


"Mbak!"


Melihat Elena yang sedikit pucat, suster pun mencoba memeriksa dahi gadis tersebut.


"Astaga, panas sekali!" pekik suster tersebut.


Sepertinya kondisi Elena juga ngedrop karena gadis itu kelelahan dan juga belum makan sejak tadi malam. Sepanjang hari ia habiskan dengan melamun, karena memikirkan masa depannya dan sang adik yang sangat suram.


***


Ruang perawatan


Pukul tujuh malam, lagi-lagi Alung harus berurusan dengan gadis asing yang tidak ada kaitannya dengan dirinya. Ini karena pihak rumah sakit yang menghubungi pria tersebut. Gara-gara perwalian atas bayi kecil itu, saat sang gadis juga harus dirawat, mau tidak mau ia juga terlibat. Pihak rumah sakit mengira bahwa pria itu adalah keluarga si pasien.


"Ada apa dengannya?" tanya Alung yang berdiri di samping ranjang.


Ia bertanya pada dokter yang menangani Elena. Sedangkan gadis itu masih menutup mata. Entah pingsan atau bahkan malah tidur betulan.


"Fisiknya lemah, mungkin kelelahan," terang dokter.


Alung hanya mengangguk. Kemudian kembali menanyakan sesuatu.


"Lalu bagaimana dengan bayinya?"


"Bayi? Oh ... adik Mbak Elena? Sempat memburuk tadi. Tapi sudah kembali baikan."


"Adik?" Bersambung.