Single Mother

Single Mother
Nirwana



Mencari Daddy  Bag. 82


Oleh Sept


Rate 18 +


"Astaga!"


Alung terkekeh melihat betapa lucunya tingkah Elena. Membuat ia semakin gemas saja. Ingin rasanya ia gigit istri kecilnya itu.


"Buka matamu, Len. Apa yang kamu takutkan? Hantu apa yang lain?" Alung mulai luwes dalam menggoda istri kecilnya itu. Membuat pipi Elena merona tanpa blush on.


"Hantu!" jawab Elena bohong. Mana mungkin dia bicara jujur, bisa-bisa tambah malu jadinya. Ini saja mukanya sudah terasa panas seperti cumi rebus.


"Benarkah? Jadi kamu tidak takut dengan yang ini?" Alung terus saja menyerang Elena sampai wanita muda itu lemas dan menyerah.


"Sangat takut!" batin Elena menjawab. Ia masih ingat rasa perih saat malam itu. Aduh


... sakitnya bahkan masih terbayang-bayang di benaknya.


"Emm ... aku mau tidur."


"Mau ditemani?" tanya Alung dengan mata mengerling.


Elena sontak langsung menggeleng keras. Wanita yang belum tamat sekolah itu bergegas bangkit dari duduknya. Namun, tangan Alung langsung merengkuh pinggang Elena. Membuat Elena langsung oleng dan terduduk tepat di atas pangkuan sang suami.


Semakin merona lah pipi Elena, jantungnya berdegup kencang. Apalagi saat Alung mendekatkan wajahnya, membisikan sesuatu tepat di telinganya. Sumpah! Bulu-bulu halus Elena langsung berdiri tegak sempurna.


Setttt


Tidak mau membuang waktu, Alung langsung berdiri sembari membopong tubuh istri kecilnya itu. Akan dibawa ke mana lagi si Elena malam ini? Bukan kamar utama, di sana ada Altar yang sudah terlelap setelah ia tidurkan beberapa saat lalu. Juga bukan kamar Elena yang di sana ada baby Gavi yang juga sudah lelap.


KLEK


Bukkkk


Keduanya sudah mendarat di atas ranjang empuk. Dengan cahaya lampu yang sudah disetting temaram. Remang-remang, menambah syahdu malam kedua pengantin baru tersebut.


"Nanti kalau hamil bagaimana?" tanya Elena pelan dengan takut-takut ketika melihat Alung membuka kancing bajunya.


"Apa yang kamu cemaskan, kan ada daddy-nya?" jawab Alung sambil senyum mengandung sejuta arti.


"Bagaimana dengan sekolahnya?"


"Bisa aku urus!" jawab Alung enteng. Seolah tidak peduli, semua pasti sangat mudah untuk ia bereskan.


Bukkkkk


Alung melempar bajunya dengan sembarangan. Adrenaline pria itu sepertinya sudah sangat terpacu. Melihat Elena terlentang saja sudah membuat jiwanya kalang-kabut. Terlalu lama menutup hati, begini jadinya ...


"Kita buatkan Altar adik ...!" bisik Alung sambil mengigit kecil telinga Elena. Membuat istrinya itu mengeliat.


Elena semakin mirip cacing kepanasan tak kala Alung mengecupnyaa sembari mengigit gemas bibirnya. Menyesapnya lembut ... Lama-lama berubah menjadi bertenaga. Keras dan menuntut, membuat napas keduanya memburu. Tautan yang sangat panas, karena menyisahkan rasa kebas pada bibir keduanya.


Pria itu pun memberikan jeda sesaat bagi keduanya untuk mengambil napas. Setelah itu ditatapnya kembali mata Elena. Sepasang mata yang selalu menatapnya dengan malu-malu.


CUP


CUP


CUP


Pria itu menyambung pemanasan mereka dengan mengabsen seluruh wajah Elena. Mulai dari kening, kedua kelopak mata, hidung, terakhir bibir. Paling lama dan paling dalam ia mengabsen bagian yang itu.


Tidak lupa, tangannya sangat aktive. Sudah berkelana tanpa diberikan perintah. Membuat Elena tidak berdaya. Tapi, Elena menikmati tiap sentuhan yang diberikan suaminya itu. Rupanya Alung sedang membawanya menuju Nirwana diniawi ... Bersambung.