
Mencari Daddy Bag. 21
Oleh Sept
Rate 18 +
Matahari sudah tergelincir ke arah barat, suasana sore yang damai, terlihat keluarga Kusuma sedang menikmati hari santai bersama keluarga. Di rumah dengan bangunan yang paling mencolok di antara para tetangga, terdengar suara canda tawa. Suasana memang akan selalu ramai, bila Gendis ada di rumah.
Suara cempreng yang khas dan sikap manjanya pada seluruh penghuni rumah, membuat suasana semakin hidup. Apalagi Kanina, gadis itu akhirnya bisa sedikit tersenyum ketika ikut mendengar cerita humor Gendis waktu di kontrakan.
Sampai tidak terasa, hari semakin malam. Bulan dan bintang sudah menempati tempatnya masing-masing. Malam yang cerah, padang bulan. Ya, bulan purnama yang cantik. Memantulkan sinar cerahnya, secerah hati Gara. Yang sesekali mencuri pandang pada Kanina. Baru kali ini, ia melihat bibir gadis itu tersenyum, meski tidak selebar senyumnya.
***
Jakarta
Pagi itu suasana perusahaan sedang menegangkan. Pimpinan perusahaan beberapa waktu yang lalu telah meninggal dunia. Untuk saat ini, jabatan itu masih kosong. Perusahaan belum memutuskan siapa penggantinya. Karena masih dalam masa berkabung.
Banyak para petinggi dan dewan direksi meminta agar posisi itu segera diisi. Mengingat posisi tersebut sangat penting, tidak boleh dibiarkan kosong begitu saja. Tapi siapa? Bila itu Alung, maka para pemegang saham berniat menarik investasi mereka. Mereka amat tidak yakin pada Alung, meskipun pria itu adalah pewaris satu-satunya pemegang saham terbesar.
Alung yang tidak pernah berkecimpung langsung di perusahaan, membuatnya dipandang sebelah mata. Oleh karena itu, hari ini mereka melakukan rapat tertutup. Sebagai akan memilih kadidat sesuai apa yang mereka harapkan.
Saat semua sedang melakukan rapat di ruang meeting, di depan perusahaan sebuah mobil melesat dan berhenti tepat pada tempat parkir yang biasanya ditempati Meichan.
Seorang pria turun, dengan setelan jas rapi dan wajah terkesan dingin. Pria itu kemudian berjalan, sembari diikuti oleh seorang yang setia di belakangnya. Itu adalah sekretaris Meichan saat Meichan masih hidup. Kini, pria itu mendampingi Alung. Ia yang akan membantu Alung, duduk di singgah sana, menggantikan sang kakak.
"Pak, Pak Alung sudah ada di lobby. Beliau sedang menuju ke mari," bisik seorang wanita pada pimpinan direksi.
Semua orang langsung tegang, kemudian rapat tersebut langsung dibubarkan saat itu juga. Mana mau mereka kena bogem atau tendangan Alung. Pewaris setelah Meichan itu memang terkenal pembuat onar. Tidak mau memancing keributan dengan Alung, semua mundur teratur. Acara pemilihan langsung gagal.
Alung yang berjalan bersama sekretaris barunya, menundukkan wajahnya saat berpapasan dengan sebagian orang yang juga menunduk pada dirinya. Ia sedang menuju ruangan barunya, ruang milik Meichan tentunya.
"Tuan, desas-desus menyebutkan, banyak para dewan yang menentang Tuan. Bisa jadi mereka melakukan gerakan di belakang kita," bisik pak Rafi. Pria 40 tahun yang sangat berpengalaman dalam bidangnya.
Alung hanya mengangguk, seolah mengerti. Ia sudah bisa menduganya. Memang tidak akan mudah bagi sebagian orang menerima dirinya. Tapi mau bagaimana lagi, sang papa sibuk menemani mamanya yang masih berkabung. Entah sampai kapan mamanya akan bisa menjalani hidup seperti sedia kala. Karena rumah mereka kini bagai neraka dunia. Sang mama masih suka menangis histeris, belum terima Mei meninggal begitu cepat.
"Ini, Tuan. Beberapa berkas yang harus Tuan pelajari."
***
Rumah sakit
"Alhamduliah, janinnya sahat, Pak ... Bu ..." ucap dokter yang sedang melakukan pemeriksaan USG pada Kanina.
"Laki-laki apa perempuan?" tanya Gara yang kemudian antusias saat melihat hitam-hitam di layar yang bergerak-gerak.
"Belom bisa dipastikan, masih tertutup. Malu sepertinya, tidak mau dilihat sama papanya," canda dokter perempuan tersebut.
Glek
Kanina yang terbaring, hanya bisa menelan ludah. Papa bayi? Siapa papa bayinya? Pria jahat yang tega merusak dirinya? Sampai mati, ia tidak mau bertemu laki-laki jahat tersebut. Bagi Kanina, pria itu seperti sosok yang mengerikan. Fix, trauma Kanina masih membekas dalam hati.
Pulang dari rumah sakit, mereka pergi ke swalayan. Gara sengaja memperpanjang waktu, agar mereka memiliki waktu bersama-sama. Sebab kalau di rumah, Gendis pasti merangsek terus. Tidak ada kesempatan baginya untuk bicara pada Kanina. Entah kenapa, ia suka saja pada sosok pendiam itu. Tidak berisik dan tenang.
"Sudah? Tidak mau ini?" Gara mengacungkan coklat besar ke arah Kanina.
Kanina hanya menggeleng.
"Rejeki jangan ditolak, Gendis saja suka sekali kalau saya belikan ini."
"Tidak, Mas Gara. Terima kasih."
"Apa ini?" Gara ganti meraih sebuah boneka kucing yang lucu. Terasa lembut bila disentuh.
"Nggak ... nggak, terima kasih."
"Terima kasih terus, bahkan kamu belum menerimanya. Ambil ini! Anggap hadiah dari abang sendiri!"
Gara mengambil sebuah boneka beruang warna pink dengan tulisah love di perutnya. Tapi keduanya tidak menyadari tulisan itu. Karena Gara hanya asal menggambil. Karena terlihat lucu saja.
Pulang dari swalayan, Gendis langsung keluar saat mendengar deru mesin mobil. Besok ia akan balik lagi ke Jogya, ia ingin mengajak kakaknya untuk ke mall nonton film dan jalan-jalan sampai puas. Namun, keceriaan Gendis langsung luntur, tak kala melihat Kanina turun dari depan mobil sembil memeluk boneka bertulisan LOVE! Bersambung.