Single Mother

Single Mother
Siapa Walinya



Mencari Daddy  Bag. 62


Oleh Sept


Rate 18 +


"Apa yang kau lakukan di sini? Kau berkeliaran seperti gadis murahan!"


Pria itu terlihat membentak Elena. Namun, sesaat kemudian ia tersadar. Diamatinya kondisi Elena, sekelibat kejadian bertahun-tahun silam muncul dalam benaknya. Baju robek, wajah ketakutan, gadis itu mengingatkan dia pada Kanina. Gadis yang ia nodai malam itu.


"Sial!!"


Alung menghela napas dengan berat, kemudian menarik lengan Elena. Ia membawa gadis itu menuju mobilnya.


KLEK


"Masuk!"


Elena terlihat gemetar, dengan takut-takut ia masuk mobil mewah milik pria tersebut. Tidak langsung jalan atau menyalakan mesin mobilnya, Alung malah melepas jas miliknya. Mungkin ini kali kedua ia merelakan pakaiannya diberikan pada gadis yang sama.


"Pakai ini!"


Alung mengulurkan jasnya, tidak melemparnya seperti yang sudah-sudah. Setelah itu memberikan sebotol air mineral yang ada di sampingnya.


"Minum ini."


Elena begitu patuh, ia memakai jas milik Alung dan minum dengan tergesa, membuat gadis itu tersedak dan batuk-batuk.


"Pelan-pelan!" sindir Alung.


Setelah minum, Elena menundukkan wajahnya. Tubuhnya masih gemetar. Dan Alung bisa melihat hal itu. Ada rasa empati yang lama-lama tumbuh. Seolah melihat Kanina yang dulu.


"Apa kita ke kantor polisi sekarang?"


Kontan saja Elena mendongak, lalu menggeleng keras.


"Jangan! Jangan, Tuan!"


Alung memincingkan mata.


"Lihat tubuhmu! Jangan pernah memaafkan pria brengsekkk yang melakukan ini padamu!" ujar Alung seolah memaki dirinya sendiri di masa lalu.


"Tidak!!! Jangan! Ini salahku. Aku yang ingin menjual tubuhku," ucap Elena dengan cepat. Ia tidak mau berurusan dengan polisi.


"Kau sudah gila!"


"Apa yang kau cari? Sekolah yang benar!" cibir Alung yang mulai kesal. Padahal tadi ia sempat iba.


"Uang! Aku mencari uang," jawab Elena dengan lirih, sembari mengusap pipinya.


"Uang lagi ... uang lagi! Sebenarnya apa kepalamu hanya berisikan uang? Mana orang tuamu? Dan lagi! Malam-malam pergi ke hotel untuk menjual diri. Apa kau sudah tidak punya harga diri lagi?"


Dimarahi Alung, sedangkan hatinya juga sedang kalut, pikiran Elena pun makin semrawut. Ditambah Alung membentak, Elana pun hanya bisa menangis.


"Berapa kau butuh uang? Pulang dan jangan pernah muncul lagi."


Alung membuka dashboard, mengeluarkan amplop coklat. Kemudian tanpa melihat isinya, ia melempar amplop itu ke pangkuan Elena. Ia sebenarnya terusik dengan kondisi Elena saat ini. Namun, bingung harus bagaimana cara menghadapinya. Alung merasa sangat bersalah. Melihat Elena membuatnya teringat dengan Kanina. Pikirannya jadi ikut semrawut dan kacau.


"Maaf, Tuan ... saya mungkin tidak tahu diri. Tapi, apa Tuan bisa menolong saya lagi?"


Alung menatap gadis di sebelahnya, uang sudah dikasih. Sekarang apa lagi? batin Alung.


***


Ternyata, mereka berdua menuju rusun. Malam itu juga Elena membawa bayi itu ke rumah sakit. Sepanjang perjalanan, Alung berpikir keras.


"Astaga! Apalagi ini? Siapa ayah bayi ini? Dia masih sekolah tapi punya bayi?" batin Alung yang sedari tadi melirik ke arah bayi yang terus menangis di gendongan Elena.


Elena tadi sempat mengganti pakaian sebentar saat sampai rusun. Kemudian membawa adiknya masuk mobil untuk pergi ke rumah sakit.


Rumah Sakit Harapan


Ruang UGD


Elena mondar-mandir, tidak bisa duduk dengan tenang, sedangkan Alung, pria itu duduk sambil mengamati Elena. Ia masih tidak habis pikir, gadis itu rupanya punya bayi. Dan itu sepertinya alasannya selama ini membutuhhkan uang untuk menghidupi bayinya.


Tragis sekali, bahkan usia gadis itu belum genap 17 tahun tapi sudah punya bayi. Makin pusing, karena harus melibatkan diri. Alung pun hanya bisa bersandar sembari melepaskan rasa lelah, harusnya ia sudah tidur santai di rumahnya.


KLEK


Elena langsung berjalan mendekati dokter, begitu pintu terbuka.


"Maaf siapa walinya? Karena harus kami melakukan tindakan khusus selanjutnya."


Elena menoleh ke arah pria yang duduk sembari menatapnya. Gadis itu bahkan belum punya KTP. Bingung Elena terus saja menatap pria yang datang bersamanya.


Sementara Alung, ia jelas bingung ditatap Elena seperti itu. Kan dia bukan ayah dari bayi itu. Bersambung.