Single Mother

Single Mother
Tertangkap Basah



Mencari Daddy  Bag. 55


Oleh Sept


Rate 18 +


"Altar," seru bu Sadewo sembari merentangkan tangan ke arah Altar.


Sudah dekat dari lahir, membuat anak kecil itu pun menyambut kedatangan omanya. Altar berlari kecil menghampiri bu Sadewo. Tersenyum renyah saat sang nenek mengecupnya dengan gemas di kedua pipinya.


Sementara itu, di belakang bu Sadewo nampak Gendis dengan pandangan sini. Ia selalu muak melihat sikap hangat mamanya pada keluarga Kanina tersebut.


"Ndis!" Gara menyapa adik perempuannya itu dah Gendis hanya tersenyum tipis, lalu masuk mengikuti sang mama. Ia melihat-lihat isi rumah sang kakak. Matanya memindai seluruh ruangan. Lebih besar dari rumah mereka.


"Silahkan diminun," Kanina keluar sambil membawa makanan dan camilan untuk tamu yang baru datang tersebut. Kanina nampak aneh, kenapa Gendis ikut. Jarang sekali adik iparnya itu ikut datang. Malah paling setahun sekali, itu pun bila sangat penting sekali.


"Udah, gak usah repot-repot," ucap bu Sadewo.


"Sini, duduk di sini!" tambah perempuan yang rambutnya dicat warna coklat tua karena untuk menutupi semua uban pada rambutnya.


Sedangkan Gendis, matanya melirik kanan dan kiri. Mengapa rumah itu sangat ramai sekali? Lalu kapan ia punya waktu untuk melancarkan aksinya?


"Siallllll!" Gadis itu terus saja mengerutu dan merutuk dalam hati. Rumah Kanina kan memang ramai, sulit sekali ternyata mengambil kesempatan di dalam sana.


Beberapa saat kemudian


Bu Sadewo sedang duduk bersama Altar di depan TV. Mereka bermain mobil-mobilan sembari berbincang dengan bu Lastri.


Sedangkan mbak Roh, wanita itu sedang membuat camilan di dapur dihantu Kanina. Gara sendiri sedang menghadap laptop, ia lupa mengirim beberapa email untuk laporan proyek yang sedang ia tanggani beberapa bulan terakhir.


Nah, saat itulah di sekitarnya sudah mulai sepi. Gendis mulai ambil ancang-ancang. Gadis itu merogoh saku celana, ingin mengeluarkan serbuk yang ia bawa. Sebuah obat yang bisa membuat kita tenang. Tapi kalau dosis banyak, Gendis tidak tahu, akan efek sampingnya seperti apa.


Dari dalam rumah, mbak Roh muncul. Wanita itu datang sambil membawa sepiring camilan, pisang goreng yang masih hangat. Terlihat dari asapnya yang masih mengepul.


"Mari Bu, masih hang ... ngat." Mata mbak Roh menyipit. Ia melihat glagat aneh dari Gendis. Apalagi dilihatnya Gendis mengaduk salah satu minuman dengan ujung jarinya. Setelah itu meletakkan gelas itu tepat di tempat duduk Kanina yang sebelumnya.


Dasar mbak Roh yang suka curigaan, tanpa bilang-bilang, begitu meletakkan nampan ia langsung meraih gelas itu. Gendis nampak panik saat Mbak Roh mengambil gelasnya. Namun, ia mencoba bersikap sangat tenang.


Mbak Roh menatap tajam ke arah Gendis. Ia tidak mengatakan apa-apa, hanya matanya terus saja mengawasi Gendis. Membuat gadis itu salah tingkah.


"Aduh! Bagaimana nanti kalau dia bilang-bilang? Ish ... pakai ketauhan mbok jamu segala!" rutuk Gendis dalam hati.


Mbak Roh pindah duduk tepat di sebelah gadis itu. Ia sengaja merangsek Gendis.


"Apa? Maksud Mbak apa?" Gendis mulai gugup.


"Kamu lihat itu!" Mbak Roh menoleh, meminta Gendis menatap ke arah yang ia lihat.


"Sial!" batin Gendis saat ikut melihat apa yang ditatap mbak Roh. Di ruangan itu ternyata ada CCTV. Mana pernah Gendis mengira rumah sang kakak ada kameranya.


Padahal, memang sudah lama rumah itu dipasang beberapa kemera pengintai yang tersambung ke gadget Gara. Ini semata-mata karena Gara khawatir, setelah kunjungan pertama Alung beberapa tahun silam. Takut pria itu sewaktu-waktu datang saat ia tidak di rumah.


Dan ternyata alat itu kini sangat berguna. Karena terlihat Gendis sudah mulai mengeluarkan keringat dingin. Panik, gelisah dan cemas.


"Jangan bilang Mas Gara, Mbak."


"Katakan, itu tadi apa dulu?" serang mbak Roh dengan tatapan mengancam.


"Hanya vitamin." Gendis berbohong.


"Kamu pikir Mbak percaya?"


"Sumpah Mbak, Gendis nggak bohong." Gadis itu berusaha tenang padahal jantungnya sudah jedag-jedug.


"Ya sudah, Mbak akan kasih gelas ini ke abangmu. Biar diperiksa."


Setttttt


Gendis langsung memegang erat lengan mbak Roh.


"Jangan mbak! Jangan!" Gendis mulai gelisah. Wajahnya memucat.


Tap tap tap


Terdengar derap langkah yang mendekat. Bu Sadewo datang, merasa haus dan mau minum. Namun, ia aneh melihat Gendis yang memegangi lengan mbak Roh.


"Ada apa ini?" tanya sang mama dengan tatapan penuh selidik.


Saat mbak Roh lenggah, Gendis dengan sengaja menyenggol gelas tersebut.


PYARRR


Bersambung.