
Mencari Daddy Bag. 47
Oleh Sept
Rate 18 +
"Tolong Bapak bawa pria ini pergi, sebelum saya berbuat lebih!" ujar Gara sambil menahan kesal. Bagaimana pun juga, ia sangat geram pada laki-laki yang sudah menodai Kanina tersebut. Membuat Kanina harus terusir dari kampung dan mendapat banyak kepahitan karena harus menanggung malu, hamil tanpa memiliki suami. Sampai semua orang mengatakan Kanina wanita yang tidak bener.
Sementara itu, Alung sudah berdiri tegap kembali, meski Pak Rafi sempat memegangi tubuhnya. Namun, pria itu menepisnya, tangannya mengusap bibirnya yang berdarah.
"Jangan temui Kanina lagi! Belum cukup kamu membuatnya terhina?" ujar Mbak Roh yang masih kesal. Ia jadi ingat bagaimana menyerang tetangganya di kampung saat mencoba membela Kanina. Sampai harus menginap di rumah tahanan.
Bagi mbak Roh, ia berani melawan siapa saja yang menyakiti orang terdekatnya. Mbak Roh pasti berdiri di barisan paling depan. Tidak peduli dia jendral atau apa, semut diinjak saja melawan. Apalagi orang seperti Rohma, tinggal pilih, kuburan atau rumah sakit. Lo jual, gue beli!
"Roh ... ada apa ini? Kok ribut-ribut?" bu Lastri yang sejak tadi di halaman belakang, ikut keluar karena mendengar keributan di teras rumah.
Apalagi dilihatnya Kanina yang terduduk sembari menangis, membuat bu Lastri bertanya-tanya. Apa Kanina sedang bertengkar sama suaminya?
"Apa dia anak saya?" tanya Alung spontan ketika melihat bu Lastri mengendong bayi.
Kontan saja mbak Roh langsung mendekati bu Lastri, dan mengajaknya masuk lagi.
"Jangan keluar, Buk! Dia penjahat itu!"
"Apa?"
"Iya! Lihat itu Kanina masih ketakutan!"
Bu Lastri langsung memberikan Altar pada mbak Roh. Kemudian bergegas menuju ke kamar mandi. Bu Lastri muncul sesaat dengan ember berisi air.
"Eh! Mau apa, Buk?"
BYURRR
"Kenapa ke sini? Mau menghancurkan hidup anak ibuk lagi?" ujar bu Lastri dengan suara bergetar. Matanya merah menatap tajam, penuh benci dan kecewa. Karena tega sekali pemuda itu sudah menghancurkan hidup putrinya.
Melihat mata bu Lastri yang menatap benci dan kecewa padanya, sama persis seperti tatapan sang mama yang menyalahkan dirinya, saat Meichan meninggal. Alung pun merasakan perih yang sama. Kakinya melemas, akhirnya ia berlutut di depan ibunya Kanina.
Brukkkkk
"Maafkan saya ... maafkan kesalahan saya," mohon Alung dengan suara yang sama bergetarnya. Ia benar-benar menyesal karena sudah berbuat hal paling buruk pada Kanina.
Alung sadar, kesalahan yang ia lakukan tak bisa dimaafkan. Tapi, ia hanya ingin mengatakan itu. Mengatakan kata maaf, dan juga ingin bertemu dengan bayi itu. Bayi hasil perbuatan kejinya malam itu.
Gara yang berdiri tidak jauh dari sana, mulai merengangkan kepalan tangannya. Melihat Alung yang sepertinya menyadari kesalahannya, ia tidak berhak lagi menghajar pria itu. Masalah dimaafkan atau tidak, semua terserah Kanina.
Sedangkan Kanina sendiri, ia enggan menemui Alung. Hingga Gara masuk ke dalam rumah, menemui istrinya itu. Ia duduk sembari mengengam tangan istrinya.
"Dia datang untuk minta maaf!"
Kanina menggeleng keras.
"Mas tahu, kamu pasti tidak bisa memaafkan laki-laki itu. Tapi, Mas juga tidak mau dia datang lagi ke sini hanya untuk minta maaf kembali. Mas sudah menghajarnya hari ini, bila dia datang lagi besok, Mas tidak tahu, harus Mas apakan. Jadi temui dia, Mas temani." Gara mengengam tangan Kanina erat. Mencoba memberikan rasa aman, bila Kanina merasa tidak nyaman.
Beberapa saat kemudian
Alung yang basah kuyup karena guyuran air seember oleh bu Lastri, kini duduk di ruang tamu. Hanya bertiga, Kanina, Gara dan Alung. Sejak tadi, Gara mengengam tangan istrinya. Dan Alung memperhatikan hal itu.
"Saya akan menerima hukuman atas perbuatan saya," ucap Alung memecah suasana yang tegang di ruang tamu tersebut.
"Jangan muncul lagi, jangan pernah temui saya!" kata Kanina sambil menundukkan wajahnya dalam-dalam. Tangannya mencengkram tangan Gara, gemetar, terlihat sekali Kanina merasa tidak nyaman duduk satu ruangan dengan pria yang pernah menodai dirinya di masa lalu.
Alung pun mengusap wajahnya dengan pasrah, sepertinya pintu maaf tertutup rapat untuk dirinya. Bersambung.
Apa Alung akan bersabar, hingga Kanina membuka pintu hatinya untuk memaafkan kesalahan di malam paling kelam tersebut?